Tag: siak

Ada Makam Tokoh Siak di Situs Siron?

Ada Makam Tokoh Siak di Situs Siron?

BANDA ACEH – Tim Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) menemukan satu nisan tokoh asal Siak di situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015. Hal ini diketahui berdasarkan hasil bacaan inkripsi yang ditemukan di situs tersebut pada Senin, 31 Agustus 2015.

“Nisan yang berada di Siron ini tampaknya memiliki suatu hubungan dengan Siak. Inskripsi di satu sisi nisan berbunyi هذا القبر …؟ سياء ini kubur… (?) Siak (dengan hamzah, bukan dengan kaf). ان شاء الله تعالى Jika dikehendaki Allah Ta’ala [niscaya] أعطاه الله Allah pasti memberikan kepadanya,” ujar Sekjen Mapesa, Mizuar Mahdi, kepada portalsatu.com, mengutip keterangan Musafir Zaman yang mengunggah hasil inskripsi tersebut dalam akun facebooknya.

Dia mengatakan jika menilik sejarah, Aceh memang mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan Siak di masa lalu. Pengakuan itu sering datang dari para pakar sejarah Riau sendiri.

“Namun sejak kapan hubungan itu telah terjalin, tentu, masih perlu pengkajian yang lebih luas. Saya kira, penyelidikan tentang hal ini perlu dilanjutkan,” kata Mizuar.

Sebelumnya diberitakan, Mapesa mengadakan meuseuraya atau gotong-royong membersihkan dan menata situs bersejarah Aceh, di Dusun Lampoeh Raya, Gampong Siron,Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Minggu , 30 Agustus 2015.

“Ini merupakan meuseuraya pekan ke empat pascalebaran. Kali ini, Mapesa beserta masyarakat meuseuraya di kompleks makam Teungku Di Geudong (Jrat Manyang),” ujar Mizuar Mahdi, Sekretaris Jenderal Mapesa melalui siaran pers diterima portalsatu.com, Senin, 31 Agustus 2015.

Berdasarkan hasil pengamatan Mapesa dari tahap ekspedisi sampai dilaksanakan meuseuraya, di kompleks ini terdapat beberapa makam bertipologi nisan Aceh Darussalam dari periode Abad ke-16 Masehi sampai 19 Masehi, baik dari seni penulisan kaligrafi dan corak ornamen yang terdapat pada nisan. (Baca: Mapesa Meuseuraya di Kompleks Makam Teungku Di Geudong).[]

Foto: Inskripsi yang memuat nama serta sebuah negri yang bernama siak. @Dok Mapesa

Asal Muasal Nama Jalan Para Datuk di Kabupaten Siak

Asal Muasal Nama Jalan Para Datuk di Kabupaten Siak

Saat berwisata ke Kabupaten Siak di Riau, kita akan sering menjumpai nama jalan raya berupa nama orang dengan gelar datuk. Mereka bukan orang sembarangan lho, melainkan orang super penting dalam sejarah Kesultanan Siak.

Kesultanan Siak didirikan pada 1723 M oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah (berkuasa 1723-1746), putra Raja Johor Sultan Mahmud Syah. Pada 1750, Raja Buang Asmara yang jadi Sultan Siak II (berkuasa 1746-1765) memindahkan ibukota kerajaan dari Buantan ke hulu Sungai Siak. Saat itulah Kerajaan Siak bernama Kerajaan Siak Sri Indrapura.

Siak Sri Indrapura masa kini adalah nama ibukota Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Kota ini dapat dicapai lewat jalur darat atau menghiliri Sungai Siak dari Pekanbaru menggunakan kapal cepat dengan waktu 2-3 jam.

Saat detikTravel menjelajah Siak, dijumpailah nama-nama jala raya di sekitar Istana Kesultanan Siak yang menggunakan nama datuk. Misalnya, ada nama Jl Datuk Lima Puluh, Jl Datuk Kampar dan Jl Datuk Pesisir.

Selidik punya selidik dari berbagai informasi yang dihimpun, rupanya itu adalah nama para pembesar Kesultanan Siak pada zaman dahulu yang tergabung dalam Dewan Kerajaan yang diangkat oleh Raja Kecil. Dewan Kerajaan berfungsi sebagai pelaksana pemerintahan dan penasihat utama sultan.

Dewan Kerajaan terdiri dari empat orang dari Pagaruyung, yakni Datuk Lima Puluh, Datuk Tanah Datar, Datuk Pesisir, dan Datuk Kampar, ditambah dengan Datuk Laksamana. Nama datuk-datuk tersebut sekarang diabadikan menjadi nama-nama jalan di dekat Istana.

Dewan Kerajaan merupakan lembaga tertinggi dalam kerajaan. Dewan inilah yang berwenang dalam menentukan pengganti sultan. Sistem tersebut berlangsung hingga tahun 1784, ketika Sultan Yahya yang jadi Sultan Siak VII mengakhiri masa jabatannya.

Selain itu, ada juga pembesar-pembesar kerajaan yang bertugas membantu Sultan, terdiri dari Panglima Perang, Datuk Hamba Raja, Datuk Bintara Kiri, Datuk Bintara Kanan, dan Datuk Bendahara. Sedangkan pemerintahan di daerah-daerah dipegang Kepala Suku yang bergelar Penghulu, Orang Kaya, dan Batin.

Jalan-jalan ke Kabupaten Siak, wisatawan bisa melihat berbagai peninggalan sejarah kesultanan yang menarik. Dengan kisah semenarik ini, kita jadi tidak penasaran dari mana nama-nama jalan raya di Kabupaten Siak berasal.

Bukti Kejayaan Kerajaan Siak yang Pernah Menjadi Bagian Sejarah Aceh Masa Lalu

Bukti Kejayaan Kerajaan Siak yang Pernah Menjadi Bagian Sejarah Aceh Masa Lalu

RIAU – Siak di Riau menyimpan cerita kejayaan bangsa Melayu di masa lampau. Salah satu buktinya dapat dilihat melalui Istana Matahari Timur yang merupakan peninggalan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Traveler dapat melihat berbagai peninggalan bersejarah di dalamnya.

Istana yang bernama lengkap Istana Asserayah Hasyimiah atau Istana Matahari Timur ini punya ciri khas, yaitu warna catnya yang kuning gading. Dinding luarnya dari bata, sedangkan dinding dalamnya dari kayu ulin yang disambungkan dengan pasak, bukan paku. Istananya pun menghadap Sungai Siak dengan jarak sekitar 100 meter.

Terdiri dari dua lantai, dihubungkan dua tangga putar berbahan besi tempa dengan 36 anak tangga buatan Belanda. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruang, di antaranya ruang pertemuan, ruang makan, dan ruang menunggu tamu. Sedangkan di lantai atas ada enam ruang, empat di antaranya adalah ruang tidur.

Sejarahnya, istana bertaman indah ini dibangun oleh Tengku Syarif Hasyim yang jadi Sultan Siak XI dengan gelar Sultan as-Sayid asy-Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin yang berkuasa tahun 1889-1908.

Istana mulai dibangun pada 1889 dan rampung 1893. Luas bangunan sekitar 1.000 meter persegi di tengah lahan seluas 32.000 meter persegi, dengan ciri khas Melayu, Eropa, India, dan Timur Tengah. Arsiteknya didatangkan Sultan dari Jerman.

Istana ini digunakan pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim dan Sultan Syarif Kasim II (1892-1968), Sultan Siak XII. Bentuk aslinya masih dipertahankan hingga kini. Renovasi pun hanya untuk mengecat ulang dan mengganti lantai yang lapuk di lantai 2.

Sebelumnya istana sempat berpindah-pindah. Misalnya pada masa Sultan Siak IX dan X, pusat pemerintahan di Istana Melintang yang terletak persis di tepi Sungai Siak. Seiring waktu, istana yang sepenuhnya dari kayu itu terkena abrasi sungai dan ambruk.

Di Istana Asserayah Hasyimiah juga disimpan koleksi Kerajaan Siak, seperti arsip-arsip kerajaan, cinderamata dari berbagai negara, dan gendang nobat yang dibunyikan saat penobatan raja.

Sebelum masuk istana, arahkan pandangan ke pucuk enam buah tiang di sudut-sudut bangunan istana. Di situ terpasang masing-masing satu patung elang hitam dengan sayap terbuka. Hewan ini lambang Kejayaan Kerajaan Siak.

Siak punya cerita tentang elang yang dipercaya hingga kini. Sementara elang umumnya terbang pada siang hari, konon, ada delapan ekor elang yang terbang di sekitar istana tiap malam. Jumlahnya selalu delapan ekor, tak pernah bertambah atau berkurang.

Begitu melewati teras, dapat dijumpai ruang tempat Sultan menerima tamu. Sejumlah manekin diletakkan di posisi-posisi tertentu yang menunjukkan posisi duduk Sultan dan para petinggi kerajaan saat menerima tamu.

Di ruang ini diletakkan patung dada Sultan Syarif Hasyim buatan Jerman, tahun 1899. Patung berbobot 120 kilogram itu dibuat dari pualam dan matanya seakan hidup. Patung dada ini awalnya diletakkan di meja console berbahan kayu, tapi karena bobotnya terlalu berat bagi meja, patung pun dipindah ke sisi lain dan diberi kaki sendiri.

Ke dalam lagi di ruang pertemuan, terdapat meja panjang dikelilingi kursi-kursi kayu. Cermin-cermin besar dipasang tinggi-tinggi di empat sisi dinding. Satu tempat lilin besar digantung tepat di atas meja.

Lampu gantung dengan desain rumit itu diimpor dari Ceko, berbahan bakar minyak tanah dan menggunakan sumbu. Pemandu yang bernama Suryadi bercerita, begitu satu demi satu sumbu disulut, ruang pertemuan akan terang benderang.

Karena walau berasal dari satu benda, tapi cahayanya dipantulkan cermin-cermin di sekeliling ruang, jadi terangnya berkali-kali lipat. Brilian sekali idenya. Sekarang, chandelier tak difungsikan lagi sebagai penerang ruangan, berganti lampu neon yang lebih praktis.

Jika sedang liburan ke Riau dan mau mampir, istana ini dapat dicapai lewat jalur darat atau melalui Sungai Siak dari Pekanbaru menggunakan kapal cepat dengan waktu 2-3 jam.[] sumber: detik.com