Tag: meulaboh

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

Riwayat Meulaboh dalam Catatan Sejarah Aceh; Disikolah Kito Berlaboh

KONON disebutkan Meulaboh dulunya dikenal dengan nama Pasir Karam. Penamaan ini kemudian berubah saat perantau asal Minangkabau tiba di daerah tersebut.

H.M Zainuddin dalam bukunya Tarich Aceh menuliskan sejarah singkat asal mula kata Meulaboh tersebut. Dalam buku itu, HM Zainuddin menukilkan penamaan Meulaboh dilakukan pada periode perang Padri di Sumatera Barat antara 1823-1837. Saat itu disebutkan perantau asal Minangkabau yang melarikan diri dari perang Padri berlayar ke Aceh. Sesampai di Teluk Pasir Karam mereka kemudian bermufakat untuk melego jangkarnya di tempat yang baik.

Salah satu di antara kepala rombongan tersebut kemudian menuju salah satu pantai yang ada di Teluk Pasir Karam. “Disikolah kito berlaboh,” katanya. Semenjak itu, tempat berlabuhnya perantau asal Minangkabau ini kemudian bersalin nama menjadi Meulaboh.

Dari sekian banyak jumlah orang yang berdatangan ke Aceh dalam rombongan tersebut, hanya ada beberapa orang yang tercatat dalam buku sejarah. Di antara mereka adalah para kepala rombongan seperti Datuk Machdum Sakti dari Rawa, Datok Radja Agam dari Luhak Agam dan Datok Radja Alam Song Song Buluh dari Sumpu.

Ketiga kepala rombongan ini kemudian membuka lahan dan membuat negeri baru di kawasan Pasir Karam. Mereka membabat hutan dan membuka ladang di daerah kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam tersebut. Masih menurut catatan H.M. Zainuddin, ketiga kepala rombongan ini memilih membuka lahan dan membuat pusat pemerintahan baru di daerah yang berbeda. Datok Machdum Sakti memilih daerah Merbau, Datok Radja Agam di Ranto Panjang, dan Datok Radja Alam Song Song Buluh di Ujungkala.

Datok Radja Alam kemudian juga menikah dengan anak seorang tokoh berpengaruh di di Ujungkala.

Bisnis ladang ketiga tokoh asal Minangkabau ini kian hari semakin ramai. Merbau, Ranto Panjang dan Ujungkala kemudian berubah menjadi negeri yang makmur. Daerah ini pun semakin dikenal di kawasan barat pesisir Aceh pada masa itu. Menyadari hal tersebut, ketiga tokoh dari Minangkabau ini kemudian sepakat menghadap Sultan Aceh Mahmud Syah atau dikenal Sultan Buyung (1830-1839). Ketiganya juga sepakat membawa masing-masing satu botol mas urai sebagai cinderamata untuk Sultan Aceh.

Setelah menjumpai Sultan Aceh, ketiga orang tersebut lantas meminta izin kepada sultan untuk memberikan batas wilayah kepada daerah baru yang ada di pantai barat tersebut. Sultan Buyung memenuhi permintaan ini dan mengangkat mertua Datok Radja Alam Song Song Buluh menjadi uleebalang Meulaboh. Penentuan Uleebalang Meulaboh ini harus berdasarkan keputusan sultan. Mereka juga diwajibkan untuk mengantar upeti tiap tahunnya kepada Bendahara Kerajaan Aceh Darussalam. Perintah ini diterima oleh ketiga Datok tersebut.

Di perjalanan perkembangan daerah Meulaboh, ketiga Datok tersebut kemudian merasa lelah pulang pergi ke Bandar Aceh hanya untuk mengurusi hal-hal kecil. Mereka juga mulai keberatan tiap-tiap tahun mengantar upeti langsung ke Sultan Aceh. Saat itu, Sultan Aceh telah dijabat oleh Sultan Ali Iskandar Syah (1829-1841).

Ketiga Datok ini kemudian meminta kepada Sultan Ali Iskandar Syah agar menetapkan seorang wakil Sultan di daerah Meulaboh. Permintaan ketiga Datok tersebut dikabulkan oleh Sultan Aceh yang kemudian mengirim Teuku Tjhik Purba Lela. Saat itu Teuku Tjhik Purba Lela menjabat sebagai Wazir Sultan Aceh untuk pemerintahan dan menerima upeti-upeti dari Uleebalang Meulaboh.

Keberadaan Teuku Tjhik Purba Lela sebagai wakil Sultan Aceh di Meulaboh mendapat sambutan baik dari ketiga Datok. Namun mereka masih mengeluhkan adanya beberapa pelanggaran dalam hukum dan adat yang membutuhkan penanganan khusus oleh pejabat khusus di bidang tersebut. Mereka kemudian kembali memohon kepada Sultan agar dikirimkan lagi seorang wakilnya yang menangani bidang khusus soal adat dan hukum. Saat itu, Kerajaan Aceh Darussalam telah diperintah oleh Sultan Mansyur Syah.

Sultan Mansyur Syah mengabulkan permintaan para Datok tersebut. Sultan kemudian mengirim Penghulu Sidik Lila Digahara ke Meulaboh sebagai wazir kerajaan. Para Datok kemudian kembali meminta seorang wakil Sultan Aceh yang mampu mengurusi hal-hal keagamaan termasuk perkara nikah, pasah dan sebagainya.

Permintaan tersebut kembali dikabulkan oleh Sultan Aceh. Dia kemudian mengirim Teuku Tjut Din, seorang ulama yang bergelar ‘Almuktasimu-binlah’ menjadi kadhi Sulthan Aceh di Meulaboh.

Meulaboh kemudian berkembang pesat di bawah pemerintahan Sultan Ibrahim Mansyur Syah (1841-1870). Apalagi saat itu banyak perantau dari Sumatera Barat eksodus ke Meulaboh dan Tapaktuan. Mereka kemudian membuka kebun dan menanam lada di daerah ini. Akibatnya produksi lada di pesisir barat Aceh menjadi melimpah dan terdengar ke pedagang-pedagang asing, termasuk Inggris. Lada yang menjadi primadona perdagangan dunia pada saat itu sangat diburu oleh bangsa-bangsa Eropa.

Di masa kejayaannya tersebut, kepala-kepala negeri di Meulaboh kemudian menyusun tata negara berbentuk federasi uleebalang yang disebut Kawai XVI. Federasi ini diketuai oleh Uleebalang Kedjruen Tjiek Ujong Kala. Kawai XVI ini terdiri dari Meulaboh/Tandjung, Udjung Kala, Seunagan, Teuripa, Woyla, Peureumbeue, Gunung Meuëh, Kuala Meureubok, dan Ranto Pandjang.

Selain itu, daerah lainnya yang bergabung di Kawai XVI ini adalah Reudeueb, Lango Tangkadeuön, Keuntjo, Gumé/Mugo, Meuko, Tadu, dan Seuneu ‘Am.

Saat itu ada federasi lainnya terbentuk di perbatasan Meulaboh dengan Pedir selain Federasi Kaway XVI. Federasi ini disebut Kaway XII yang terdiri dari 2 uleebalang yaitu Pameuë, Ara, Lang Jene, Reungeuët, Geupho, Reuhat, Tungkup/Dulok, Tanoh Merah/Tutut, Geumpang, Tangse, Beunga, dan Keumala. Federasi Kaway XII ini diketuai oleh seorang Kedjruën yang kedudukannya berada di Geumpang.[]

Foto: Simbol Kota Meulaboh. @Diliputnews.com

Pantai Tercemar, Warga Meulaboh Ancam Buang Batubara ke Rumah Dinas Wakil Bupati

Pantai Tercemar, Warga Meulaboh Ancam Buang Batubara ke Rumah Dinas Wakil Bupati

MEULABOH – Meningkatnya aktivitas bongkar muat batubara di Pelabuhan Jety Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat ternyata berdampak buruk terhadap lingkungan sekitarnya. Pantai Lhok Geudong, Kelurahan Suak Indrapuri yang selama ini dijadikan sebagai salah satu tempat rekreasi dan lokasi pemandian warga kini tercemar limbah batubara.

Akibat tercemarnya pantai ini maka tak hanya tempat rekreasi ini semakin dijauhi pengunjung, namun mata pencarian warga desa setempat mulai terganggu.

“ (Pantai) Ini lokasi rekreasi yang ditetapkan oleh pemerintah, tapi kondisinya sekarang kotor dengan tumpahan batubara saat bongkar muat di pelabuhan. Sehingga sekarang sepi orang yang berkunjung dan mandi di sini. Kami yang punya usaha kecil menyewakan ban bekas dan berjualan di sini tidak laku lagi”,  kata Yunizar (40). warga Desa Suak Indrapuri, kepada Kompas.com, Jum’at (03/07/2015) petang.

Menurut Yunizar, selain mencemari pantai, dampak lain tumpahnya batubara dari kegiatan bongkar muat di pelabuhan yang dibangun pemerintahan Singapura pasca-tsunami 2004 lalu itu, juga sangat dirasakan para nelayan kecil yang mengantungkan hidupnya dari tangkapan ikan di laut.

“Sekarang nelayan yang menggunakan kapal kecil di sini banyak yang tidak melaut lagi, karena hasil tangkapan sudah berkurang selama laut tercemar batubara, bahkan kalau mereka paksa melaut hasilnya tidak cukup untuk modal beli minyak (BBM) kapal,”  tambah dia.

Warga berharap pemerintah Kabupaten Aceh Barat segera merespon keluhan warga. Mereka berharap lokasi bongkar muat batubara di Pelabuhan Jety Meulaboh yang sudah berlangsung sekitar empat tahun segera dipindahkan jauh dari permukiman warga.

“Kami berharap pemerintah segera memindahkan lokasi bongkar muat  batubara dari pelabuhan itu, karena keberadaan lokasi bongkar muat batubara di situ jelas sudah merampas hak kami, baik itu pendapatan, ekonomi bahkan kesehatan anak-anak kami yang mulai batuk-batuk,”  lanutu Yunizar.

Jika pemerintah Aceh Barat dan Dinas terkait tidak segera membersihkan pantai dari pencemaran batubara, warga mengancam akan mengumpulkan batubara dari laut dan akan membuangnya ke halaman rumah dinas Wakil Bupati Aceh Barat yang berada tak jauh dari pantai Lhok Geudong.

“Kemarin kami ibu-ibu dan anak-anak sudah mengambil sebagian batubara dari laut dan kami kumpulkan, jika tumpukan batubara yang kami kutip dari laut tidak segera dibersihkan dari sini akan kami buang ke rumah dinas wakil bupati,” dia mengancam. | sumber : kompas

Praktik Tipu-tipu, Cara Teuku Kejuruan Muda Mengusir Belanda

Praktik Tipu-tipu, Cara Teuku Kejuruan Muda Mengusir Belanda

TEUKU Umar Johan Pahlawan dikenal sebagai pejuang Aceh yang memiliki kemampuan menipu Belanda. Strategi yang ditetapkan Umar, mampu membuat Belanda terkecoh hingga akhirnya bisa merampas alat-alat perang untuk membantu pejuang Kerajaan Aceh Darussalam.

Siapa menyangka, selain Teuku Umar, praktik ‘tipu-tipu’ tersebut juga dilakoni oleh beberapa pejuang lainnya dari pesisir Barat Aceh. Seperti halnya strategi yang dilakoni Teuku Kejuruan Muda dan bawahannya saat menghadapi agresi Belanda.

Dikutip dari catatan H. Mohammad Said dalam bukunya berjudul Aceh Sepanjang Abad jilid kedua, saat itu Teuku Kejuruan Muda tidak mau bertekuk lutut di bawah bendera Belanda. Padahal, Teuku Tjhi’ Meulaboh, ayah Teuku Kejuruan Muda telah menandatangani pengakuannya kepada Belanda.

Pengakuan tersebut menimbulkan kemarahan Teuku Kejuruan Muda dan rakyat Meulaboh. Akibatnya rakyat mendesak Teuku Kejuruan Muda untuk mengambil alih kepemimpinan dari sang ayah, Teuku Tjhi’ Meulaboh, sebagai penguasa di daerah tersebut.

Hal ini menjadi pukulan besar bagi Belanda yang sedang berperang di Aceh Besar tahun 1877. Meulaboh saat itu terus menjadi pemasok dana dan tenaga untuk pejuang-pejuang di sekitar ibukota. Untuk meredam bantuan tersebut, Belanda kemudian mengirimkan tentaranya ke Meulaboh.

Angkatan perang Belanda tiba di Meulaboh pada 3 Maret 1877. Saat itu, asisten residen RC Kroesen memaksa Teuku Tjhi’ Meulaboh yang sudah renta untuk kembali menandatangani pengakuannya kepada kekuasaan Netherland di atas kapal perang Deli. Kroesen juga meminta bantuan Teuku Tjhi’ untuk membangun benteng pertahanan di Meulaboh.

Namun hal ini tidak bisa dilaksanakan karena Teuku Kejuruan Muda dan pasukannya telah bersiap di lokasi yang dimaksud. Hingga akhir Maret, rencana Belanda tersebut tak kunjung berhasil hingga akhirnya mereka terpaksa mendatangkan pasukan pendaratan di bawah komando Kapten Siberg dengan Mayor Inggeris Palmer sebagai penasehat ahli.

Belanda mulai membuat kubu pertahanan di pantai dekat Merbau pada 10 April 1877. Setelah kubu pertahanan ini selesai menjelang akhir Maret, pasukan Belanda belum juga berani memasuki wilayah daratan yang membuat pasukan Aceh geram. Mereka sudah lama hendak membunuh Belanda yang mencoba menginjakkan kakinya di Meulaboh.

Penasaran dengan sikap Belanda tersebut, Teuku Kejuruan Muda kemudian mencoba salah satu tipuan. Dia mengirimkan tujuh prajurit terbaiknya ke pos Belanda yang berada di antara Meulaboh dan Sungai Merbau. Mereka menyamar sebagai utusan Teuku Tjhi’ yang ditugaskan membantu patroli Belanda di daerah tersebut.

Pos ini merupakan bagian muka bivak yang terletak kira-kira 150 meter dari pusat komando perwira.

Ketujuh utusan yang menyamar tersebut hanya menyandang rencong di pinggangnya. Semula, Belanda ragu dan curiga dengan ketujuh pribumi tersebut. Namun akhirnya Belanda mengizinkan utusan ini masuk ke pos dan mengajak ronda bersama.

Saat patroli dilakukan, ketujuh utusan dijadikan sebagai tameng dan mereka ditempatkan di depan pasukan Belanda. Namun apa yang ditakutkan tak pernah terjadi pada patroli pertama tersebut. Hal ini membuat Belanda menjadi percaya dan bergaul dengan ketujuh pasukan Teuku Kejuruan Muda tersebut.

Kepercayaan Belanda tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh ketujuh prajurit Aceh. Di saat pasukan Belanda lalai, ketujuh pejuang Aceh ini menyerang serdadu Belanda yang menyebabkan 11 di antaranya tewas dan empat lainnya melarikan diri. Serangan ini membuat pejuang Aceh berhasil menyita 11 pucuk senapan dan 250 amunisinya.

Selang sepekan, pasukan Aceh kembali menyerang langsung bivak Belanda. Serangan ini mengakibatkan seorang perwira dan puluhan serdadunya luka berat. Siberg sebagai komandan tertinggi di Meulaboh juga harus melarikan diri dari bivak menuju benteng yang sedang dibangun Belanda di pesisir pantai.

Geram dengan aksi pejuang Aceh, Belanda kemudian meneror gampong-gampong. Mereka juga membakar rumah-rumah penduduk. Sedikitnya tiga gampong berhasil dibakar seperti Gampong Merbau, Penaga, dan Ujung Tanjung.

Tindakan Belanda ini mendapat respon dari penduduk setempat yang geram. Mereka melawan serdadu Belanda dan terjadilah duel satu lawan satu. Kejadian tersebut menyebabkan Komandan Laut Letnan Vreede kritis dan banyak di antara serdadunya yang tewas.

Rakyat Meulaboh kemudian mengepung benteng Belanda yang berada di pesisir pantai. Serangan demi serangan dilancarkan setiap waktu yang membuat serdadu Belanda ketakutan. Bahkan Siberg tidak berani melawan sehingga ia digantikan oleh Kapten Von Lubtow.

Bala bantuan dari Ulee Lheue tersebut berhasil dicegat oleh pejuang Aceh. Konvoi yang datang dalam jumlah besar ini berhasil diobrak-abrik pasukan Aceh sehingga menyebabkan banyak Belanda yang tewas dan terluka. Tidak sedikit serdadu turut menyelamatkan diri dengan terjun ke laut dan akhirnya tewas di sana.

Belanda kembali mengirimkan bala bantuan di bawah pimpinan Mayor du Pon pada 10 Juni 1877. Belanda membangun satu benteng lagi di dekat Kota Meulaboh dan membakar rumah-rumah penduduk serta masjid. Aksi ini mendapat balasan dari masyarakat setempat. Mereka melancarkan serangan tiba-tiba ke pusat pertahanan Belanda.

Penyerangan yang dilakukan pejuang Aceh tersebut berhasil. Di Kuala Cangkol, pemimpin pasukan Belanda, Letnan Dijsktra terluka. Selain itu, Komandan Belanda de Wilde juga kritis di penyerangan lainnya yang dilakukan pejuang Aceh pada 4 Juli 1877. Tidak sedikit serdadu Belanda yang tewas dalam rentetan serangan tersebut meski ada juga pemimpin pejuang Aceh yang menjadi korban, seperti Teuku Abas.

Belanda kemudian mencoba memikat adik Teuku Kejuruan Muda, Teuku Raja Itam, untuk bergabung memihak kolonialis. Harapan Belanda yang hendak memecah belah persatuan warga dengan merekrut Raja Itam ternyata sama sekali tidak terwujud. Apalagi, Raja Itam hanya memanfaatkan Belanda agar mendapat keuntungan untuk kepentingan pribadinya.

Belanda semakin geram hingga akhirnya kembali membakar perkampungan penduduk di daerah-daerah tersebut. Sementara Teuku Kejuruan Muda terus memimpin pasukan Aceh di Meulaboh dan memindahkan pusat perjuangan ke pedalaman. Hal ini dilakukan untuk memudahkan serangan gerilya kepada Belanda tanpa harus mengorbankan rakyat.

Hingga permulaan 1878, Belanda tidak pernah bisa menguasai Meulaboh dengan aman. Bahkan ekspedisi-ekspedisi militer lanjutan yang dikirim dari Banda Aceh sama sekali tidak berhasil membungkam perlawanan rakyat meski Jenderal van der Heijden telah turun tangan.

Hoe gunsting de zaken zich thans ook lieten zien, weldra zou blijken dat wij te Meulaboh niet veel verder gevorded werd waren en dat Teuku Kejuruan Muda en zijn aanhangers, steeds volslagen vijandig blijvende, voortdurend de veiligheid van het garnizoen en van de ons goedgezinde bevolking bedreigen. (Biarpun peristiwanya terlihat sebagai menguntungkan kita, namun segera ketahuan bahwa kita di Meulaboh tidak mencapai kemajuan suatu apa dan bahwa Teuku Kejuruan Muda dan pengikutnya masih terus mengganggu keamanan benteng dan penduduk yang sudah memihak kita),” tulis Kielstra dalam arsip militer ekspedisi Belanda tersebut.

Apa yang disebut Kielstra sangat masuk di akal. Apalagi Teuku Kejuruan Muda selaku pemimpin perjuangan rakyat Aceh di Meulaboh sama sekali tidak bisa disentuh Belanda. Hingga akhirnya, tongkat perjuangan beralih ke tangan Teuku Umar yang meneruskan strategi Tipu Aceh kepada Belanda.[]

STIKes MSB Meulaboh Gelar Pelatihan Sistem Otomasi Perpustakaan

STIKes MSB Meulaboh Gelar Pelatihan Sistem Otomasi Perpustakaan

MEULABOH – Untuk mewujudkan program pengembangan sistem otomasi perpustakaan perguruan tinggi berbasis web, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Medika Seuramoe Barat Meulaboh, bersama Aceh Library Consultant (ALC) menggelar pelatihan otomasi perpustakaan di gedung kampus setempat selama dua hari sejak Sabtu-Minggu, 4-5 April 2015.

Pelatihan ini menghadirkan pemateri dan instruktur dari kalangan alumni jurusan S1 Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh yaitu Arkin, S.IP dan T. Ade Vidyan Maqfirah, S.IP.

“Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan sistem pelayanan perpustakaan berbasis web dengan menggunakan software SLiMS,” kata Roza Wahyuni, S.IP selaku ketua pelaksanakegiatan.

Ia berharap kegiatan pelatihan sistem otomasi perpustakaan semakin menambah pengalaman, ilmu serta wawasan pustakawan dalam bidang sistem otomasi perpustakaan berbasis web.

“Di samping membekali para pustakawan untuk integrasi dari sistem manual ke SLiMS, kita juga berharap melalui pelatihan ini dapat menambah pengalaman dan wawasan,” kata Roza yang saat ini menjabat sebagai kepala Perpustakaan STIKes MSB Meulaboh.

Lebih lanjut ia menyatakan “Seiring perkembangan teknologi informasi, sistem otomasi perpustakaan bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah sistem pelayanan perpustakaan baik dalam proses pembuatan katalog (input data), pelayanan sirkulasi maupun penelusuran informasi (OPAC),”katanya.[ihn]