Zat berahi hewani di tubuh Raffi

Raffi Ahmad akhirnya ditetapkan jadi tersangka. Methylone, yang dikonsumsi Raffi, dikenal sebagai zat antidepresan dan pendongkrak gairah seksual. Peternak Indonesia sudah lama menggunakan untuk hewan piaraannya.
__________________________________

Sempat lolos dari uji narkoba tahap pertama, Raffi Faridz Ahmad akhirnya kedapatan mengonsumsi narkoba jenis baru. Namanya methylone. Narkoba itu terlacak dalam tubuh presenter laris itu setelah sampel rambut dan urinenya diteliti saksama oleh Tim Laboratorium Badan Narkotika Nasional (BNN).

Muasal zat itu diduga kuat berasal dari kapsul-kapsul yang ditemukan saat penggerebekan rumah Raffi, awal pekan lalu. Gara-gara itu Raffi dikenakan status tersangka, Kamis pekan lalu, lima hari setelah ia ditangkap BNN.

Methylone adalah narkoba jenis baru. Dalam Undang Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009, zat ini dianggap turunan katinon (chatinone) dan masuk golongan I narkotika.

Zat methylone ini memiliki efek yang kuat bagi penggunanya, antara lain dapat menimbulkan kejang tak terkontrol, pusing, mual, muntah, jantung berdebar kencang, dan efek paling negatif bisa menimbulkan kematian.

Dipatenkan James Peyton dan Alexander Shulgin pada 1996, methylone sebenarnya diracik sebagai obat antidepresan. Dalam bahasa kimia medis, zat ini berkode “M1”, atau 3,4-methylenedioxy-N-methylcathinone, bk-MDMA.

Entah bagaimana prosesnya, zat ini kemudian banyak dicari para petualang seks.

Pada 2004, di Belanda muncul racikan zat ini dengan nama Explosion. Di Belanda zat ini tidak masuk dalam UU Opium. Dalam kemasan botol 5 ml harganya sekitar EUR10-15 (setara USD13-20, atau Rp128.000-200.000).

Botol obat Explosion tak memuat rincian kandungan dan komposisinya. Hanya tertera stiker bertulis: "Room odorizer Vanilla. Do not ingest" dan “Keep away from children. Never use more than one bottle".

Rasanya pahit. Biasanya diberi penawar rasa. Dalam kasus Raffi, mungkin dicampur dengan minuman soda. Menurut laporan, pengguna obat ini segera merasakan efek euforia yang bersemangat setelah minum. Kandungan utama obat ini adalah methylone.

Di Inggris, zat ini dilarang sejak 2004 karena ada banyak laporan penyalahgunaan. Di Selandia Baru, methylone masuk dalam kategori narkotika, amphetamine analogue. Swedia melarang zat ini sejak 2007 dan memasukkan sebagai narkotika. Amerika Serikat baru melarang obat ini pada 2011.

Menurut situs www.pharmacy.vcu, efek yang ditimbulkan ketika mengonsumsi methylone mirip dengan katinon, ekstasi berbahan dasar amphetamine, dan MDMA berbahan dasar methamphetamine, yakni kesegaran, kegembiraan berlebihan/euforia, dan tidak mengantuk atau insomnia.

M1 menimbulkan keinginan untuk terus bicara dan merespons pembicaraan (sociability), perasaan mengambang, santai, dan pada pemakaian berlanjut dapat menimbulkan halusinasi hingga psikosis.

Karena penambahan stamina yang dihasilkan, pemakai M1 dapat berjoget berjam-jam.

Bedanya, M1 tidak menimbulkan gejala mabuk atau kesedihan berlebihan seperti yang ditimbulkan ketika pengaruh ekstasi menghilang. Mengonsumsi M1 juga tidak menyebabkan pemakainya kehilangan kendali diri dan antusias berlebihan seperti yang ditimbulkan MDMA.

Berbeda dengan katinon yang berasal dari ekstrak tumbuhan teh Arab atau khat, M1 sepenuhnya merupakan hasil proses kimiawi. M1 biasa dipasarkan dalam bentuk serbuk kristal putih yang berbau busuk. Untuk mengurangi efek bau ini, sejumlah produsen memasarkan M1 dalam kemasan kapsul bening seperti MDMA.

Untuk dapat menimbulkan efek yang diinginkan, M1 harus dicampur dengan cairan yang tidak mengandung alkohol.

Dalam pemeriksaan, Raffi mengaku mengonsumsi M1 dengan mencampurkannya dengan minuman ringan berkarbonasi. Konsumsi setengah hingga satu butir kapsul ini sudah cukup untuk menimbulkan efek melayang. Seperti ekstasi dan MDMA, mengonsumsi M1 menimbulkan rasa haus yang sangat besar.

Di Indonesia, para peternak sudah lama menggunakan zat ini. Sebenarnya zat aditif ini biasa digunakan peternak untuk meningkatkan stamina hewannya dan juga untuk menstimulasi gairah mereka saat mau dikawinkan. Rupanya, khasiat ini yang diincar para pengguna, yakni efek pendongkrak gairah dan stamina seksual.

Kuda atau sapi pejantan biasa disuntikkan zat ini agar lebih joss. Jika dikonsumsi manusia, zat ini memiliki efek yang sama, terutama untuk menghilangkan rasa capai setelah beraktivitas yang cukup berat.

Rasa lelah segera berganti dengan gairah, tanpa peduli stamina yang sebenarnya mulai menurun. Rangsangan itu mempengaruhi fokus pemakai, entah hewan atau pun manusia.

Makanya setelah mengonsumsi methylome, dijamin benak peminumnya sebentar lagi hanya berisi pikiran untuk ‘beradu’. Tak ada pikiran lain, hanya itu.

Khusus di Indonesia, peredaran senyawa tersebut belum dikategorikan sebagai narkotika sebab hingga kini masih dipergunakan untuk kepentingan hewan.

Akibatnya, terjadi kecenderungan pemakai beralih menggunakan jenis zat ini. BNN menyatakan, zat turunan katinon termasuk zat adiktif yang berbahaya. "Ini mempengaruhi susunan syaraf pusat secara berlebihan," ujar Humas BNN Sumirat Dwiyanto.

Dalam kasus Raffi Ahmad, zat turunan katinon ini ditemukan dalam barang bukti dan urine dari beberapa orang yang ditangkap di rumah Raffi Ahmad. Tujuh orang dipastikan positif mengonsumsi jenis zat adiktif yang baru masuk ke Indonesia ini. "Katinon saja mempengaruhi syaraf pusat. Ini kekuatannya lebih tinggi," ujarnya.

Menurut dia, zat ini dapat mengakibatkan euforia yang berlebihan karena sifatnya yang halusinogen.

"Ini menyebabkan gangguan pada pancaindra," ujarnya. Indera yang terganggu adalah penglihatan dan penciuman. Gangguan lain zat ini membuat seseorang bersikap paranoid alias ketakutan berlebih. "Di negara lain sudah dilarang," ujarnya.

Namun dalam undang-undang, zat turunan katinon ini masih belum diatur klasifikasinya. Padahal, katinon sudah terklasifikasi. Maka itu, BNN berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk mengukur bahaya dan langkah lebih lanjut terkait zat adiktif ini.

Hingga saat ini, sepuluh orang lain masih diperiksa untuk mengungkap jaringan di balik peredaran zat ini.

BNN menjelaskan Raffi Ahmad memakai narkoba jenis methylone karena masalah pribadi. “Dia pakai setelah ada masalah pribadi,” ujar Deputi Rehabilitasi BNN, Kusman Suriakusumah, saat ditanya tentang kesaksian dari artis berusia 26 tahun itu.

Namun, Kusman tidak merunut lebih lanjut masalah pribadi apa yang dia maksud, dan kapan tepatnya Raffi memakai zat terlarang tersebut. Hanya disebutkan, tersangka (Raffi) mengonsumsi methylone sejak tiga bulan berturut-turut.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa zat pembangkit gairah hewani ini dikonsumsi lajang tenar bernama Raffi? Apakah ini ada kaitannya dengan kegemaran dia, atau zat ini hanya dikonsumsi saat ia capai setelah harinya penuh dengan berbagai kesibukan?

Wakil Kepala BNN Benny Joshua Mamoto mengungkapkan, timnya sudah mengendus kegiatan Raffi Cs. beberapa bulan terakhir. Infonya, di rumah Raffi di bilangan di Gunung Balong RT 09 RW 04, Karang, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, itu sering dipakai kumpul-kumpul, lalu berpesta.

Yang datang banyak, lelaki dan perempuan. Acara ramai itu biasanya berlangsung hingga dinihari. Saat digerebek Minggu (27/1/2013) subuh pekan lalu, 17 orang diciduk.

Spekulasi mengembang liar. Sempat beredar kabar jika Raffi Ahmad ditangkap oleh petugas BNN dalam keadaan tanpa busana. Namun, kabar tersebut dibantah tim pengacara Raffi, Meidy Junianto. "Isu saja itu.”[] DARI BERBAGAI SUMBER

Berita Terkait:
[VIDEO]: Daun khat, penyimpan zat narkoba yang dikonsumsi bebas di Yaman

Polisi sita daun Khat bahan pembuat narkoba yang menjerat Raffi

  • Uncategorized

Leave a Reply