Waspada Konsumsi Beras Thailand, Diduga Mengandung Zat Berbahaya

Isu beras asal Thailand dan Vietnam mengandung zat berbahaya arsenik muncul akhir bulan lalu. Hasil studi organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan, beras produksi Thailand diduga mengandung arsenik dari tambang timah.

Pemerintah mengaku tidak lagi mendatangkan beras dari Thailand. Padahal dari kesepakatan KTT ASEAN tahun ini, pemerintah berencana mengimpor 1 juta ton beras dari Thailand jika kebutuhan dalam negeri mendesak.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian PerdaganganDeddy Saleh meminta masyarakat tidak khawatir dengan isu beras mengandung arsenik yang masuk ke Indonesia. Sebab, pemerintah belum melakukan kerjasama apapun terkait beras asal Thailand.

Dia sekaligus menepis rumor bahwa tahun ini pemerintah telah mengimpor 834.000 ton dari Negeri Seribu Pagoda itu. "Sampai saat ini saya belum pernah menerima laporan. Sudah lama kita tidak impor beras dari Thailand," ujar Deddy saat ditemui di kantornya, Rabu, 10 Oktober 2012.

Isu kandungan arsenik dalam beras muncul setelah majalah ConsumerReports, edisi 20 September lalu menyatakan bahwa nasi yang dimakan sekali sehari dapat mendorong kadar arsenik dalam tubuh manusia naik 44 persen. Sementara untuk konsumsi dua hari sekali dapat meningkatkan kadar arsenik hingga 70 persen. Patut diketahui, zat ini serupa penyebab terbunuhnya aktivis kemanusiaan Munir.

Rencana impor darurat sampai saat ini masih diterapkan pemerintah. Alasannya, konsumsi beras di Indonesia termasuk yang tertinggi di level Asia, mencapai 113 kilogram per kapita per tahun. Jika nantinya harus mengambil dari Thailand pun, Deddy menjamin akan berkoordinasi dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai pelaksana pembelian.

"Itu terserah Bulog akan mengimpor dari mana. Nanti beras yang diimpor akan diverifikasi oleh surveyor kita. Kalau terdapat kandungan yang membahayakan pasti akan dicegah," paparnya.
Sebelumnya, Peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen) Endang Romjali mengaku sedangmeneliti beras yang ada di pasaran.

"Kami masih meneliti tentang hal itu, masih kita teliti berapa persen arsen yang terdapat dalam beras yang dikonsumsi di Indonesia. Pokoknya ini masih dalam taraf penelitian soalnya terdapat level akan arsen tersebut serta kandungan variasinya," ujarnya. | sumber:merdeka.com

  • Uncategorized

Leave a Reply