Warta Pangan Aceh: Bangga menjadi petani

 FOKUS utama Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh adalah membangkitkan kembali kejayaan pangan Aceh. Tekad ini tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi bukan pula suatu cita-cita yang mustahil diwujudkan. Kuncinya kerja keras dan kesamaan visi dari semua elemen di Aceh.

Keinginan ini pula yang tercermin dengan jelas dalam visi dan misi Pemerintah Aceh yang dipimpin Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Pasangan pemimpin Aceh itu mengedepankan pertumbuhan ekonomi rakyat melalui pembangunan pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sebuah visi dan misi yang memang langsung bersentuhan dengan kepentingan rakyat Aceh.

Untuk mewujudkannya, Gubernur Zaini menunjuk Hasanuddin Darjo di posisi Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh. Kepercayaan ini sekaligus menjadi tantangan bagi Darjo. Dia perlu menyiapkan langkah-langkah pembenahan dan menyiapkan kunci untuk membuka kotak pandora kebangkitan dunia pertanian Aceh.

Pola Darjo sebenarnya sederhana, tapi mengena, namun juga tidak mudah. Dia memulainya dengan membangkitkan semangat penyuluh dan petani agar bangga dengan profesinya. Dia laksana seorang pendidik yang berupaya membangkitkan semangat belajar siswa-siswanya agar meraih prestasi.

Darjo tak cuma mengajarkan saja, tapi juga ikut mempraktikkannya sendiri. Misalnya, dia mengajak penyuluh bersentuhan dengan unsur-unsur dasar dunia pertanian dan bagaimana membuatnya bangga dengan pekerjaannya yang memang mulia itu.

Darjo memulai dengan dirinya sendiri, setiap bertemu penyuluh dia selalu menyebut dirinya seorang penyuluh pertanian juga. Dia menunjukkan isi tas yang dijinjingnya yang berisi gergaji kecil, gunting rumput, dan peralatan sederhana yang akrab dengan penyuluh pertanian. Darjo juga sangat mahir mengajarkan bagaimana memelihara tanaman. Darjo selalu mengatakan dirinya bangga sebagai petani dan sekaligus penyuluh pertanian. Dia sejatinya juga petani kakao.

Tak hanya itu, Darjo sampai memperkenalkan tembang-tembang yang pernah diciptakan musisi untuk petani. Bahkan Darjo bernyanyi riang bersama penyuluhnya. Salah satunya adalah lagu Aceh yang berjudul “Jak Keuno Rakan”….

Betapa, di masa lalu sampai seniman sekalipun membanggakan petani-petaninya. Petani di masa lalu, adalah petani yang bergembira hati dengan aktivitasnya. Mereka ke sawah sambil bersiul dan bernyanyi. Tak heran jika kemudian tak ada cerita kesulitan pangan di masa lalu. Tak perlu pula impor beras dan komoditas pertanian.

Ini adalah upaya mengubah budaya, bahkan membangkitkan semangat seseorang untuk menjadi pertani sebagai profesi yang bergengsi. Untuk mendukung upayanya itu, Darjo bercita-cita semua penyuluh di Aceh tak cuma mahir memegang gunting tanaman, tetapi juga menjinjing laptop dan pandai mengoperasikannya sehingga dekat dengan teknologi informasi. Ini tujuannya agar para penyuluh gampang menggali pengetahuan dari seluruh penjuru dunia, bisa berkenalan langsung dengan dunia luar yang pertaniannya berkembang pesat dan didukung teknologi yang maju.

Namun Darjo adalah seorang manusia biasa. Dia haruslah mendapat dukungan dari berbagai kalangan. Tak cukup hanya gubernur dan wakil gubernur saja yang memberinya semangat. Namun juga di kantornya sendiri, juga di semua kalangan lainnya. Jika Darjo mendapat dukungan menyeluruh, cita-cita menjadikan pertanian, perikanan, dan kehutanan, sebagai andalan pembangkit ekonomi masyarakat bukanlah hanya sebuah cerita, tetapi akan menjadi fakta. []

Catatan: Warta Pangan Aceh adalah media yang diterbitkan oleh Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Aceh bekerjasama dengan Tabloid The Atjeh Times, grup ATJEHPOSTcom.

  • Uncategorized

Leave a Reply