Warga Gayo Bakar Bendera Malaysia

MASSA yang menamakan diri Solidaritas Pemuda Gayo menginjak-injak dan membakar bendera Malaysia dalam aksi keprihatinan yang mereka lancarkan di Simpang Lima, Takengon, Selasa (24/6). Massa menuduh aparat negara Malaysia telah bertindak biadab dengan cara menabrak dan menembaki kapal jeti Kelanang yang ditumpangi puluhan warga Aceh di Perairan Pulau Carey, Kuala Langat, Selangor, Malaysia pada Rabu dini hari, 18 Juni 2014.

Dalam aksi keprihatinan itu, Solidaritas Pemuda Gayo mengutuk keras serta mengecam tindakan yang diduga dilakukan oleh petugas custom (bea cukai Malaysia), dengan menabrak serta menembaki kapal yang mengangkut 97 TKI yang sebagian besarnya adalah warga Aceh. “Atas nama kemanusiaan dan peradaban dua negeri yang bertetangga, dengan alasan apapun aparat negara tidak boleh menembak serta menabrak warga sipil termasuk perempuan dan anak-anak,” kata Koordinator Aksi, Bardan Sahidi kepada Serambi, Selasa (24/6). 

Disebutkan, selama empat hari berturut-turut media memberitakan tindakan brutal aparat custom (kastam) Malaysia yang diduga telah menenggelamkan kapal jeti Kelanang hingga menewaskan 14 penumpangnya. Ironisnya lagi, kata Bardan mengutip kesaksian korban, sebelum kapal tenggelam, terlebih dahulu aparat negeri jiran tersebut memintai uang dari penumpang masing-masing 300 RM. “Tindakan aparat Malaysia tersebut tidak mencerminkan sebagai petugas hukum tetapi lebih mirip bajak laut,” tandas Bardan dengan menegaskan, seluruh elemen pemuda Gayo mengecam dan mengutuk tindakan brutal dan tidak manusiawi oleh Malaysia terhadap warga Aceh.

Bardan Sahidi yang juga anggota DPRK Aceh Tengah meminta kepada pemerintah untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Pemerintah Malaysia. Juga menuntut Pemerintah Malaysia ke mahkamah internasional demi supremasi hukum serta hak asasi manusia. “Ini merupakan kasus yang kesekian kalinya. Malaysia telah menciderai hubungan baik negeri serumpun dan negara bertetangga,” pungkas Bardan Sahidi.

Selain berorasi di Bundaran Simpang Lima, massa sempat menginjak-injak bendera Malaysia dan kemudian membakarnya. Juga terlihat satu spanduk bertuliskan kalimat mencolok, ‘ganyang Malaysia’.

Desakan agar pemerintah melakukan pengusutan mendalam (investigasi) kasus kapal karam yang menewaskan 14 dari 97 penumpangnya juga disuarakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh.

“Investigasi perlu dilakukan menyusul adanya testimoni dari korban selamat menyangkut penyebab karamnya kapal,” kata Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik, Politik, dan HAM KNPI Aceh, Iskandar Usman Al-Farlaky kepada Serambi, Senin (23/6).

Menurut Iskandar, Pemerintah Indonesia tidak perlu dengan serta merta menerima laporan sepihak dari pihak Malaysia, karena peristiwa itu menyangkut dengan hak hidup orang. “Jangan dipersangkakan bahwa mereka yang pulang ke Tanah Air dengan kapal tersebut sebagai manusia yang tidak bernilai. Mereka mencari sesuap nasi karena persoalan ingin memenuhi kebutuhan keluarganya di dalam negeri,” kata Iskandar. | sumber: serambinews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply