Warga Banda Aceh dilatih menulis berita jurnalistik

YAYASAN Kajian Informasi Pendidikan dan Penerbitan Sumatera (KIPPAS) Medan, menggelar pelatihan jurnalistik untuk warga Banda Aceh di Aula Kantor Bappeda setempat, selama dua hari, pada Rabu dan Kamis, 6-7 Januari 2013.

Ketua Panitia Pelaksana Munawardi Ismail, mengatakan kegiatan ini diikuti 10 peserta dari berbagai kecamatan di Kota Banda Aceh yang didukung Kinerja-USAID.

"Kami akan terus melakukan mentoring terhadap warga seusai pelatihan ini," katanya kepada wartawan usai acara.  

Kegiatan pelatihan menulis berita untuk warga ini katanya bertujuan untuk mendorong lahirnya jurnalis warga di tengah-tengah masyarakat. "Dengan harapan, agar mereka bisa menulis isu-isu terkait dengan pelayanan publik yang tidak tercover media mainstrems," ujar Munawardi yang juga fasilitator media.

Ketua Yayasan KIPPAS Medan, J. Anto menambahkan, sebenarnya masyarakat sudah mengerti sedikit banyak tentang jurnalistik. Hanya saja, warga terkendala saat menyampaikannya dalam bentuk tulisan. 

“Mereka kan bisa menyampaikan apa yang mereka alami nantinya kepada media,” kata Anto yang memberi apresiasi kepada ibu-ibu rumah tangga yang intensif mengikuti kegiatan tersebut selama dua hari. 

Dalam pelatihan tersebut, jurnalis warga mendapat latihan dan praktik langsung yang dipandu Ketua AJI Kota Banda Aceh, Maimun Saleh. “Peserta juga paham, bahwa jurnalis warga juga harus mengikuti kode etik jurnalistik dalam menulis laporannya,” jelasnya. 

Local Public Service Specialist (LPSS) Kinerja USAID Kota Banda Aceh, Cut Asmaul Husna menjelaskan, kegiatan pelatihan untuk warga ini digelar di lima daerah yakni Kota Banda Aceh, Kabupaten Singkil, Simeulue, Bener Meriah dan Aceh Tenggara. 

Disebutkannya, Kinerja USAID selama ini fokus melakukan advokasi untuk mengangkat suara-suara pengguna layanan di masyarakat. Kata dia, isu tersebut terkait pelayanan publik di bidang kesehatan Ibu dan Anak (KIA), Perizinan Usaha dan sektor pendidikan. 

Menurut dia, selama ini, isu-isu tersebut belum begitu populer dan seksi untuk diangkat oleh media massa mainstream. Oleh karena itu, pihaknya membantu mengadvokasi ini dengan mengungkit partisipasi masyarakat untuk memberitakan isu terkait.

"Salah satu hal yang dilakukan adalah dengan mendorong lahirnya jurnalis warga yang bisa mengangkat dan menulis isu-isu tadi baik di media umum, atau melalui media sosial baru seperti media online website, blog maupun facebook," katanya. 

Diharapkan Asmaul Husna, dengan semakin banyaknya isu-isu pelayanan publik muncul di media massa maupun media sosial baru, terutama yang ditulis dan disuarakan dari sisi pengguna layanan publik, maka hal tersebut berdampak pada terjadinya perbaikan pelayanan publik di setiap Kabupaten di Aceh. 

"Pelatihan ini diadakan untuk memfasilitasi kelahiran jurnalis-jurnalis warga yang memiliki kemampuan dan keterampilan jurnalistik melakukan wawancara, liputan dan menulis sesuai dengan standard jurnalistik yang ada," kata dia.  

"Para jurnalis warga juga diharapkan mampu menggunakan berbagai media komunikasi massa untuk menyebarluaskan  isu-isu pelayanan publik yang mereka tulis," katanya.[] (ihn)

  • Uncategorized

Leave a Reply