Wakil Sekjen Partai Aceh bicara soal perempuan berpolitik di ATJEHPOST

WAKIL Sekretaris Jenderal Partai Aceh, Hj. Darmawati dan tiga politisi perempuan Partai Aceh lainnya berkunjung ke redaksi ATJEHPOSTcom siang kemarin, Rabu, 24 April 2013.

Para politisi perempuan itu adalah Cut Meutia, wakil propaganda tim pemenang Zikir pusat tahun lalu, Ainal Mardhiah, istri Teungku Hamzah atau yang dikenal sebagai Gajah Keng dan anggota Pokja I PKK Aceh serta Azizah atau Adek, Ketua Inong Balee Aceh Besar dan Pusat yang datang lebih awal dari mereka.

Kedatangan mereka disambut oleh Direktur Utama ATJEHPOSTcom Nurlis E Meuko dan Pemimpin Redaksi ATJEHPOSTcom Yuswardi A Suud. Pertemuan yang berlangsung di ruang Pemimpin Redaksi ATJEHPOSTcom ini berlangsung hingga menjelang magrib.

Sesuai kapasitas mereka di ranah politik, perbincangan pun tak jauh-jauh dari wilayah itu. Namun banyak hal-hal menarik yang dipaparkan oleh keempat perempuan ini, sebab sebelumnya ada di antara mereka yang sama sekali tidak pernah terlibat di partai politik manapun.

Hj. Darmawati misalnya, sejak dulu ia tak pernah mau melibatkan dirinya untuk terjun ke politik praktis. Namun hadirnya Partai Aceh membuka hatinya dan membuatnya total di partai itu. Kini ia dicalonkan untuk maju pada pemilu legislatif 2014 mendatang untuk daerah pemilihan dua meliputi wilayah Pidie dan Pidie Jaya.

Di balik gamis hitam dan kerudung warna senada, perempuan kelahiran tahun 1964 ini terlihat begitu berwibawa. Tetapi saat ia berbicara muncul selera humornya yang menggelitik. Cerita-cerita politik dari mulutnya mengalir begitu renyah dan terdengar menyenangkan. Namun sarat dengan ketegasan.

“Hari ini adalah hari perempuan menentukan nasibnya, perempuan jangan pasrah lagi, kita harus saling mensupport dan kompak,” katanya saat bercerita mengenai proses pencalegan dirinya di Partai Aceh.

Pernyataan itu diamini oleh yang lainnya. Menyambung pembicaraan Darmawati, Cut Meutia sedikit memberi gambaran. Politisi perempuan di Partai Aceh katanya harus beda dengan politisi perempuan di partai lain. Sebelum menaklukkan konstituen, mereka terlebih dahulu harus “menaklukkan” para lelaki di internal partai. Kondisi ini katanya, bukan untuk bersaing tetapi untuk membuka wawasan bahwa perempuan juga punya kapasitas yang sama dalam berpolitik.

Beberapa jam berbincang dengan mereka serasa tak cukup waktu untuk mengetahui semuanya. Namun ada pesan penting yang disampaikan Darmawati, yaitu tentang peran perempuan Aceh di masa sekarang.

Menurutnya sekarang bukan lagi waktunya untuk membangga-banggakan kehebatan perempuan Aceh di masa lalu. "Kita hanya pandai membangga-banggakan, tapi tidak pandai mencontoh mereka, kita harus berbuat sesuatu," katanya.[] ihn

  • Uncategorized

Leave a Reply