UU Perlindungan Buruh Migran Segera Diamandemen

JAKARTA – Pemerintah mencatat ada sekitar 6 juta warga Indonesia menjadi buruh migran sektor non formal. Namun, buruknya nasib dan perlakuan kepada buruh migran Indonesia sejak lama diketahui umum. Hal ini akibat lemahnya penegakan hukum dan minimnya pengawasan.

Kasus-kasus yang mengemuka bukan saja tindak kekerasan yang dialami para TKI, tetapi juga meningkatnya kasus perdagangan manusia (trafficking by persons) dalam beberapa tahun terakhir.

Oleh karenanya, pemerintah dan parlemen memutuskan untuk melakukan beberapa perubahan (amandemen) pasal, dalam UU No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI.

“Dalam UU itu memang disebutkan perlindungan dan penempatan TKI tetapi perlindungannya tidak begitu terlihat, lebih dominan kepada penempatannya. Itu hasil analisa kita bersama. Ini yang akan diamandemen dan KPP PA adalah salah satu kementerian yang mendapatkan amanat presiden untuk menyelesaikan hal itu. Ada enam kementerian yang terlibat termasuk Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja,” ungkap Deputi III Perlindungan Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP PA)  Luly Altruiswaty, dalam diskusi mengenai trafficking di Pusat Kebudayaan Amerika Jakarta, Senin malam, 17 September 2012.

Organisasi Migrasi Internasional (IOM) mencatat angka kumulatif trafficking tahun 2005-2011 lebih dari 4000 kasus. Bareskrim, kata Luly, juga memiliki data tetapi tidak mungkin dianggap data secara keseluruhan, karena ada banyak faktor.

“Ada yang enggak melapor karena takut, karena berbagai macam hal. Kita tahu bahwa itu adalah ‘gunung es’. Jadi kejadian yang sebetulnya lebih dari itu,” ujar Luly.

Kasus terbanyak perdagangan manusia di Indonesia, tambah Luly, ada di sepuluh provinsi; diantaranya Kepulauan Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah. 

“Terutama di daerah-daerah perbatasan itu pasti angka trafficking-nya juga tinggi. Dari Aceh, saya enggak hafal persis angkanya, yang jelas tidak ada provinsi yang steril sekarang dari kasus trafficking,” kata Luly.

Seorang mantan TKI yang pernah bekerja di Malaysia, Memey, asal Jawa Barat dalam kesempatan diskusi mengatakan bahwa orang yang mengajaknya ke Malaysia bahkan tetangganya sendiri.

Memey dan calon TKW lainnya dibawa ke Semarang melalui jalur laut. Sesampai di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, mereka meneruskan perjalanan hingga ke Kalimantan Barat. Di tempat itulah transaksi diduga dilakukan, dan Memey dipaksa bekerja di tempat prostitusi.

Kini, perempuan berusia 28 tahun itu sudah kembali ke Pacitan, Jawa Tengah, kampung kelahirannya; meskipun positif terinfeksi HIV/AIDS. Ia menjadi aktivis yang menghimbau setiap orang supaya waspada pada penipuan perdagangan manusia, dengan modus menjadi TKI.

“Banyak teman yang jadi korban itu tidak paham. Mungkin yang saya bisa lakukan adalah memberikan informasi tentang bahaya dan ancaman bekerja di luar negeri,” kata Memey.

Tidak ada lagi rasa waswas dalam diri Memey, termasuk ketika divonis positif HIV/AIDS. Ia bahkan tidak ragu berbagi kepada masyarakat luas, lewat acara bincang-bincang di stasiun radio lokal.

“Saya tidak takut jadi manusia yang lebih berguna, mengapa saya mesti takut?” katanya lagi.

Kisah Memey belakangan di-filmkan oleh IOM bekerjasama dengan WatchDoc dengan judul “Never Again!” (Jangan Terulang Lagi). Film tersebut menjadi bagian dari kampanye IOM atas bahayanya kejahatan perdagangan manusia.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply