Untuk Gayo

GAYO. Empat huruf dalam satu lema ini sudah lama menghentakkan dunia. Gayo, negeri yang tersembunyi di balik bukit-bukit permai di tepi Laut Tawar itu sudah lama orang tahu punya Saman, Kerawang, Didong, hingga kopi yang masyhur sampai ke negeri atas angin.

Dari luar, Gayo terkesan begitu tertutup. Entah karena dikungkung jauh dari hiruk-pikuk Aceh daratan atau karena Gayo tumbuh dengan jejalan adat dan istiadat khasnya. Namun Gayo mengirimkan keindahan untuk ditelusuri. Pada tariannya, pada alamnya, atau bentuk budaya yang lain.

Lalu lindu itu datang selepas siang ketika petani kopi sedang rehat di ladangnya, saat ibu-ibu baru saja tunai melaksanakan salat. Gempa yang menggetarkan, mengoyak isi tanah, mengirim seisi kampung ke lembah, dan menimbun anak manusia di dalamnya.

Gempa 6,2 skala richter itu berpusat di 35 kilometer barat daya Bener Meriah, kabupaten pemekaran dari Aceh Tengah. Gempa dangkal, begitu ahli geologi menyebutnya, terjadi kurang dari sedetik. Namun gempa itu seperti melibas apa pun yang ada di atasnya. Faktor tanah yang lunak juga menjadi sebab begitu banyak bangunan roboh.

Di Desa Bah Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, empat anak-anak tertimbun longsor. Saat gempa, anak-anak itu berlari di bawah pegunungan. Desa Serempah yang tak jauh dari Bah hampir seluruhnya ditelan bumi. Lokasi itu kini mirip lubang besar. Penduduk Serempah kemungkinan tak bisa lagi menempati kampungnya. Di Kampung Belang Mancung, juga di Ketol, anak-anak tertimbun reruntuhan masjid kala mengaji.

Ketol menjadi lokasi terparah. Padahal, kecamatan yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Takengon ini menjadi tumpuan ekonomi kabupaten itu. Ketol dikenal dengan tebu. Petani di sini, selain berladang kopi, juga piawai membuat gula merah.

Ketol juga pernah berjaya pada awal 1980-an ketika sebuah pabrik gula berdiri di sana. Julukan kota tebu pun melekat di sana.

Usai bencana, para korban mengandalkan tenda-tenda mini di depan rumah. Mereka tak bisa kembali ke dalam, rumah telah porak-poranda. Warga juga takut gempa susulan. Apa boleh buat, berada di depan rumah lebih aman walaupun mesti bertarung melawan hawa dingin malam.

Di tenda-tenda, sebagian kaum ibu menggoreng tempe untuk dimakan. Sejumlah perempuan lain mengurus bayinya yang ikut mengungsi dalam tenda. Kaum lelaki bekerja keras membersihkan reruntuhan bangunan. Mereka juga mencari sesuatu yang masih bisa digunakan di antara himpitan puing-puing.

Bantuan belum merata. Beruntung, solidaritas untuk Gayo mengalir deras. Para seniman membuat acara menggalang dana untuk korban gempa, dan mahasiswa berdiri di pinggir jalan menadahkan kardus. Ada juga yang melego buku untuk anak-anak Gayo yang sekolahnya kini telah runtuh.

Kini, Gayo yang masih molek itu membutuhkan uluran tangan dari semua pihak. Hingga beberapa hari sesudah bencana, sebagian korban belum mendapatkan bantuan akibat pola distribusi yang belum merata. Gayo harus dibantu, luka mereka juga duka kita.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply