Uni Eropa Kucurkan 500 Juta Euro Lebih untuk Pembangunan di Indonesia

JAKARTA – Sebagai salah satu mitra strategis, Uni Eropa dan negara anggotanya menyediakan dana lebih dari 500 Juta Euro untuk mendukung upaya Indonesia mencapai tujuan-tujuan pembangunannya. Demikian yang terungkap dalam laporan tahunan Uni Eropa yang diluncurkan di Jakarta, Kamis pagi, 2 Agustus 2012.

Kontribusi terbesar Uni Eropa ada pada sektor lingkungan hidup dan perubahan iklim sebesar 291,3 Juta Euro. Disusul pendidikan (92,6 Juta Euro), pembangunan ekonomi dan perdagangan (44,2 Juta Euro), tatakelola pemerintahan (29,4 Juta Euro), kesehatan dan nutrisi (27 Juta Euro), air dan sanitasi (24,5 Juta Euro), serta rekonstruksi pascabencana (13,7 Juta Euro).

Komitmen Indonesia terhadap perubahan iklim mendapat dukungan ekonomi dan politik secara menyeluruh dari Uni Eropa. Bentuk dukungan berupa pengembangan pengelolaan hutan berkelanjutan dan memerangi praktik pembalakan liar.

Dalam kaitan ini, Uni Eropa ikut mendukung pemberdayaan petani lokal dan membantu pengembangan energi terbarukan serta investasi teknologi bersih.

“Uni Eropa juga pendukung terbesar untuk infrastruktur yang menyangkut CDM (Clean Development Mechanism, Mekanisme Pembangunan Bersih). Inggris yang paling banyak terlibat terutama dari sisi berbasis ekosistem karena Inggris memiliki sistem hukum lebih maju di bidang itu,” ujar Direktur Eksekutif Yayasan Pelangi Agus Pratama Sari, dalam diskusi panel usai peluncuran laporan.

Untuk rekonstruksi pascabencana, Uni Eropa telah memberikan dana signifikan. Pemulihan Aceh dan Nias dibantu melalui skema Multi Donor Fund (MDF) yang dibentuk pada 2005 dan berakhir pada 2012. Sebagai donor terbesar, Uni Eropa telah menyumbangkan dana melalui MDF sebanyak 203,5 Juta Euro.

Bantuan khusus lainnya di bidang pencegahan konflik dan perdamaian. Indonesia dan Uni Eropa sama-sama sepakat bahwa pendidikan serta dialog merupakan cara terbaik meningkatkan pemahaman antarkelompok masyarakat, untuk mencegah konflik secara dini.

Kerjasama pembangunan Uni Eropa dan Indonesia juga bertujuan memberikan tanggapan atas akar konflik, seperti kemiskinan dan tantangan dalam tatakelola pemerintahan serta penegakan hukum.

Beberapa provinsi yang terkena dampak kekerasan dan konflik seperti Aceh, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Timor Barat kini dianggap berada dalam situasi tenang. Namun Uni Eropa menilai titik-titik rawan konflik masih ada, sehingga komitmen mendukung Indonesia bagian dari upaya mempromosikan perdamaian dan keragaman.

“Kami perlu membangun kemitraan yang modern dan berwawasan luas dengan negara-negara berkembang, dengan menitikberatkan pada pertumbuhan yang inklusif dan Hak Asasi Manusia, serta menciptakan sinergi antara kerjasama pembangunan dan kebijakan-kebijakan lain,” ujar Duta Besar Julian Wilson, Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam, dan ASEAN.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply