Warga Keluhkan Oprit Jembatan Lamnyong

    21
    0

    WARGA mengeluhkan oprit atau bagian timbunan dekat jembatan Lamnyong, Banda Aceh, yang terdapat di sebelah barat, turunan menuju ke arah Darussalam yang mencapai 7-10 centimeter.

    Kondisi itu dinilai cukup menggangu, karena berdampak pada kemacetan akibat kendaraan roda dua dan empat harus menurunkan kecepatan laju kendaraannya. Fakta tersebut juga dikeluhkan oleh Dosen Fakultas Hukum (FH) Unsyiah, Saifuddin Bantasyam SH MA, yang menghubungi Serambi, Minggu (13/7).

    Ia mengatakan dirinya sudah berulang kali mengingatkan instansi terkait agar elevasi jalan yang turun di bagian kepala jembatan itu diratakan kembali dengan pengaspalan ulang.

    Namun, kata Saifuddin, dirinya mengaku cukup kecewa, karena sampai kemarin pemerintah tak kunjung memperhatikan sama sekali bagian oprit tersebut.

    “Saya pernah mengundang anggota DPRK Banda Aceh untuk meninjau situasi tersebut, pada 19 Mai lalu. Tim DPRK saat itu didampingi oleh Kepala Dinas PU Pemko Banda Aceh bersama dengan seorang yang dikatanya sebagai Pimpro Jalan NAD,” ungkap Saifuddin.

    Lalu, dari pertemuan tersebut disebut-sebut bahwa kewenangan perbaikan bagian oprit itu ada pada Pemerintah Aceh.

    “Saya merasa kecewa saya saya mendapatkan janji dari Pimpro yang bertemu dengan saya sebelumnya bahwa oprit tersebut janji akan direhab beberapa hari setelah tanggal 19 Mai itu. Lalu saya juga mendapat angin segar dari seorang anggota DPRA yang ikut meninjau jembatan itu dan berjanji akan merehabnya antara tanggal 10 dan 11 Juli. Tapi, kenyataannya hingga hari ini semua itu tenyata baru sebatas janji,” ungkap Saifuddin.

    Ia menjelaskan dari berbagai jembatan yang ada di Kota Banda Aceh, jembatan Lamnyong merupakan eskalasi yang paling banyak dilalui setiap harinya. Bukan angka ratusan, tapi mencapai ribuan kendaraan. 

    “Jika dihitung mahasiswa saja, maka ada sekitar 20.000 mahasiswa yang melewati jembatan itu setiap hari ditambah dosen dan karyawan. Belum lagi masyarakat sekitar dan warga dari kawasan lain yang memiliki kepentingan ke kampus Unsyiah dan UIN Ar-Raniry serta keperluan lainnya,” ungkap Dosen FH Unsyiah itu.

    Bagian oprit itu lanjutnya, menyebabkan kenderaan terbanting dan menimbulkan suara dentuman dan hentakan keras. Keadaan itu sudah membahayakan dan kemungkinan tanah di bagian bawahnya telah kosong, sehingga mengakibatkan bagian oprit menjadi lebih rendah.

    “Jadi, jangan sampai jatuh korban dulu, baru pemerintah bertindak. Bila jatuh korban, maka warga dapat menggugat secara hukum menurut UU Nomor 22 Tahun 2009,” demikian Saifuddin Bantasyam. | sumber: serambinews.com