Wanita Pakistan Dibunuh Keluarganya karena Cinta, Begini Berita New York Times dan Huffington Post

    20
    0

    SEORANG wanita Pakistan yang sedang hamil dibunuh oleh keluarganya sendiri di luar sebuah gedung pengadilan di timur Lohare pada Selasa, 27 Mei 2014. The New York Times menyebutnya dipukuli (beaten) sampai mati, sementara Huffington Post menyebut dilempari batu (stoned) sampai mati.

    New York Times memberi judul perisitwa itu: Pregnant Pakistani Woman is Beaten to Death by Her Family . Sementara Huffington Post memberi tajuk:  Farzana Parveen, Pakistani Woman, Stoned To Death For Marrying The Man She Loved 

    Mengutip The New York Times, seorang polisi mengatakan wanita bernama Farzana Parveena, 25 tahun, dipukuli sampai mati di jalanan yang sibuk. Ada 30 orang yang menonton, tetapi tidak melakukan pencegahan apapun.

    Di Pakistan, tulis New York Times, ada tradisi yang dikenal "pembunuhan demi kehormatan." Tradisi ini berlaku di kawasan pedesaan, jarang terjadi di kota-kota kosmopolitan seperti Lahore.

    Kematian Parveen oleh keluarganya dianggap oleh pegiat hak asasi sebagai kegagalan polisi Pakistan untuk melindungi masyarakat rentan.

    Parveen berasal dari Punjabi, desa kecil berjarak 57 mil di barat Lahore. Ia membuat keluarganya berang lantaran menolak menikah dengan sepupu pilihan orang tuanya. Ia memilih menikah dengan Muhammad Iqbal, seorang duda berusia 45 tahun dari desa tetangga.

    Kepada polisi, orang tuanya mengatakan Iqbal telah menculik putri mereka. Kasus ini pun sampai ke pengadilan. Saat peristiwa itu, mereka hadir ke pengadilan untuk menghadiri persidangan. Pengacara Iqbal membantah Iqbal menculik, melainkan menikah karena saling mencintai. Menurut pengacaranya, Parveen sedang hamil tiga bulan.

    Pagi sebelum peristiwa tragis itu terjadi, saat mereka bertemu pengacaranya, sekelompok orang dari desanya berkumpul di luar kantor pengacara. Serangan muncul ketika mereka menyeberang jalan hendak ke Pengadilan Tinggi di kota itu.

    Salah satu saudara tiri Parveen maju dan menembakkan pistol ke arahnya. Namun meleset. Polisi mengatakan, Parveen tersandung dan jatuh saat mencoba melarikan diri. Saudara tirinya lalu menangkapnya dan memukuli kepalanya dengan batu bata.

    Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu, termasuk ayahnya, tak menyelamatkannya. Menurut polisi, Parveen meninggal karena luka di kepalanya. Sang saudara tiri lalu melarikan diri. Polisi menangkapnya ayahnya, Muhammad Azeem, atas pembunuhan itu.

    Untuk membuat pembacanya memahami konteks peristiwa itu, New York Times merasa perlu menjelaskan perbedaan hukum Islam dengan tradisi suku setempat, hal yang tak muncul dalam laporan The Huffington Post.

    Huffington Post menulis,”Perjodohan adalah norma konservatif di Pakistan, dan ratusan perempuan dibunuh setiap tahun demi apa yang disebut ‘pembunuhan demi kehormatan’ dilakukan oleh suami atau kerabat sebagai hukuman atas tuduhan perzinahan atau perilaku seksual terlarang lainnya.”

    Sementara New York Times menjelaskan,”Pembunuhan demi kehormatan di Pakistan, sering keliru digambarkan sebagai produk hukum Islam.  Beberapa laporan menyebutkan Parveen sebagai korban hukum rajam, tindakan yang mengingatkan pada era Taliban ketika wanita yang dituduh berzina dipukuli sampai mati dengan batu bata."

    Faktanya,  tulis New York Times, pembunuhan seringkali terjadi dan berasal dari tradisi suku atau norma budaya yang mengakar. Komisi independen Hak Asasi Manusia melaporkan, sepanjang 2013 ada 869 wanita yang dibunuh keluarganya sendiri. Ada yang ditusuk, ditembak, dipukuli, atau dibakar sampai mati. Kebanyakan terjadi karena keluarganya tidak dapat menerima pernikahan tanpa persetujuan keluarga.  Dalam beberapa kasus, pembunuhan disetujui oleh tetua suku. Pria ada juga yang dibunuh, tetapi tidak terlalu sering.

    New York Times juga menjelaskan, pengacara yang membela perempuan beresiko menghadapi ancaman pembunuhan, dan orang-orang yang melakukan pembunuhan seringkali dibebaskan dari penjara setelah membayar semacam uang diyat untuk keluarga korban. Ketika pembunuhan dilakukan oleh anggota keluarga sendiri, pembayaran itu tentu tak terjadi.

    Jika hari itu langkahnya sampai di pengadilan, tulis New York Times, Parveen akan mengatakan kepada pengadilan bahwa dia telah menikah dengan Muhammad Iqbal atas kehendaknya sendiri, seperti dikatan pengacanya, Rao Muhammad Kharal. "Parveen ada di sini untuk memberitahu pengadilan bahwa ia menikahi pilihannya sendiri," katanya kepada AFP.

    Sang suami, Muhammad Iqbal, menuduh ayah Parveen, dua saudaranya, dan tiga orang lainnya, berada di balik pembunuhan itu, kata polisi.

    New York Times melaporkan, beberapa jam kemudian dalam sebuah wawancara dari dalam sel penjara tempatnya ditahan, ayah Parveen mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah membunuh putrinya untuk mempertahankan kehormatan keluarga.

    Sementara Huffington Post mengutip pernyataan sang ayah dari keterangan seorang penyidik polisi.

    "Saya membunuh anak saya karena dia telah menghina semua keluarga kami dengan menikahi seorang pria tanpa persetujuan kami , dan saya tidak menyesal, " kata Mujahid, seorang penyidik ??polisi mengutip pernyataan sang ayah, tulis Huffington Post.

    Mujahid mengatakan jasad wanita itu diserahkan kepada suaminya untuk dimakamkan .[] Sumber: thenewyorktimes.com | huffingtonpost.com