Tinggalkan Club, DJ Rencong Transfer Ilmu untuk Kaum Muda Aceh

    28
    0

    Pernah dengar nama DJ Danger Dope? Atau DJ Rencong? Di kalangan penggemar musik hip hop nama ini tak asing lagi. Disc jockey atau deejay ini punya nama asli Muhammad Zaki. Ia kelahiran 27 November 1982.

    DJ Danger Dope atau DJ Rencong adalah nama panggung Zaki. Meski Zaki tak pernah menyebut dirinya DJ, keahlian Zaki dalam membuat musik melalui media cakram itu tak bisa dianggap biasa.

    Saat manggung ia kerap memakai topeng.“Dj itu bukan kita yang klaim, tapi orang yang menikmati karya kita,” kata Zaki kepada The Atjeh Post, di Joker Kopi, Lambhuk, Banda Aceh, Kamis pekan lalu.

    Dunia DJ ditekuni Zaki sejak 2001. Ketika itu ia sedang melanjutkan kuliah di Institut Kesenian Jakarta jurusan desain grafis. Sebelum pindah ke Jakarta dunia Zaki tak lepas dari musik. Ia kala itu menjadi penabuh drum.

    Untuk jadi DJ, kata Zaki, tidak sulit. Yang penting punya keinginan kuat, sense of music yang tajam dan feeling yang kuat, serta otak yang cerdas. Lho, kok? “Iya, karena antara tangan kanan dan tangan kiri harus sinkron, dan itu diprogramnya di otak,” ujar Zaki.

    Untuk mengasah kemampuannya Zaki pernah belajar pada orang Amerika, Inggris, dan Jamaika. Prinsipnya adalah learning by doing, apa yang dipelajari langsung dipraktikkan.

    Pada 2001 ia pernah menjadi deejay sebuah club di Jakarta. Namun tak lama ia memutuskan berhenti. Menurut Zaki dunia club yang glamour tidak sesuai dengan nuraninya.

    Apalagi sewaktu kecil ia selalu mendapatkan ilmu agama dari kedua orang tuanya. Ini yang membuatnya lebih memilih keluar dari club.

    “Kalau iman kita nggak kuat bisa hancur kita. Jadi DJ club godaannya kuat, narkoba, gaya hidup bebas,” kata Zaki.

    Deejay juga bisa berkolaborasi dengan musik apa saja. Bisa dengan rapai, seudati, dan musikalisasi puisi. Selama di Jakarta Zaki pernah mengolaborasikan DJ dengan seruling, harva, biola, dan gamelan.

    “Hasilnya lebih etnik dan menarik. Sebenarnya kalau selama ini orang kenal DJ kan lebih banyak ke music house, itu DJ club namanya, tidak memerlukan keahlian besar untuk membuat music jenis itu,” ujar Zaki.

    Karena keahliannya itu ia pernah tampil di kantor Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Baru-baru ini juga Zaki tampil di acara Java Jazz di Jakarta. Bahkan ia pernah berkolaborasi dengan DJ Hermi Tude dari Australia dan DJ Jams dari Inggris. Juga DJ dari Slovania dan Perancis.

    “Nggak pernah kepikiran. Apalagi seperti saya ini kan berasal dari kampung, rasanya tidak bisa diungkapkan, sesuatu,” kata Zaki tergelak menceritakan pengalamannya.

    Bersama teman-temannya di Jakarta Zaki membentuk grup DJ dengan nama-nama unik seperti Jalan Surabaya, Dynomonk, dan Angkatan Udara. Satu grup ada dua hingga tiga DJ. Grup itu masih hingga kini.

    Zaki juga pernah membuat musik untuk video klip Syahrini dan iklan Dancow. Dan ia juga pernah membuat musik dari lagu Eumpang Breuh.

    Saat ini Zaki mengelola Studio 47 DJ Course. Meski baru setahun pulang ke Aceh, ia tergerak membuka studio tersebut agar bisa menularkan ilmu yang dimilikinya kepada anak-anak muda Aceh lainnya.

    Untuk manggung, kata Zaki, bukan lagi menjadi prioritas utama. Yang terpenting bagi dia ialah bagaimana menciptakan karya musik dan bisa mentransfer ilmunya kepada anak-anak Aceh. “Anak-anak Aceh butuh banyak referensi untuk DJ,” katanya.

    Ini pula yang membuatnya kembali ke Aceh. Kalau mementingkan karir, kata Zaki, tempatnya di Jakarta. Tapi ia sebagai anak Aceh merasa punya tanggung jawab untuk memperkenalkan dunia seni tersebut sesuai dengan yang aslinya pada anak-anak Aceh. Selamat berkarya, deejay.[]