Temuan Peneliti di Lamreh: Dari Makam Sultan Hingga Qadhi

    24
    0

    PENELITI Sejarah dan Kebudayaan Islam Taqiyuddin Muhammad memaparkan sebagian hasil temuannya selama ini tentang jejak sejarah di situs bukit Lamreh dan Kuta Leubok, Aceh Besar. Temuan tersebut disampaikan kepada lebih 90 mahasiswa jurusan sejarah Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh yang berkunjung ke situs Lamreh, Minggu, 28 September 2014, usai siang.

    Taqiyuddin menyampaikan “kuliah lapangan” tersebut di sela-sela kegiatannya melanjutkan penelitian di Lamreh yang melibatkan tiga universitas. (Baca: Tiga Universitas Teliti Situs Lamreh Aceh-Besar).

    “Kuliah lapangan” itu dibuka Ketua Pusat Penelitian Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Unsyiah Dr. Husaini Ibrahim, M.A., dan dihadiri Ketua Program Magister Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU Dr. Suprayitno, M.Hum., Arkeolog Aceh Dedi Satria, dan ilmuan lainnya. Sebelum mengikuti pemaparan, para mahasiswa diajak melihat sejumlah makam peninggalan sejarah di lokasi situs Lamreh itu.

    Berikut antara lain paparan Taqiyuddin Muhammad yang juga ahli Epigrafi Arab tentang sebagian temuan hasil penelitiannya selama ini di Lamreh dan Kuta Leubok. Isi paparan ini sesuai hasil rekaman yang diperoleh ATJEHPOST.co, Senin, 29 September 2014, dari Fauzan, peminat sejarah Islam dari Lhokseumawe yang ikut dalam kegiatan tersebut.

    “Saat ini kita berada di tapak satu kerajaan besar dan sudah disebutkan dalam berbagai catatan dan laporan asing, terutama mungkin seperti yang disebutkan Pak Husaini (Dr. Husaini Ibrahim, M.A) tadi bahwa nama Lamuri sudah dicatat dalam prasasti di Belanda, di India.

    Kita juga menemukan laporan-laporan asing, terutama laporan Arabo-Persia, laporan orang-orang Arab Persia, yang menulis buku dalam bahasa arab. Dia menulis satu buku tentang keajaiban-keajaiban India, baik daratannya, lautannya, dan kepulauannya.

    Kemudian dalam catatan berasal dari abad ke-4 hijriah, sekitar abad ke-9 masehi, sudah didapati catatan yang menyebutkan Lamuri. Disebutkan bahwa di utara pulau Sumatera ini ada satu Kerajaan Lamuri, atau disebut Ramani, atau Ramni.

    Dan, sekitar satu tahun lalu, kita sudah menemukan satu nisan di Pante Raja, Pidie Jaya, yang langsung disebutkan satu tokoh bernama Sultan Munawarsyah bin Muhammad Syah Lamuri. Tapi bukan berarti Pante Raja itu Lamuri. Inskripsi pada artefak atau nisan itu terjemahannya adalah “Ini kubur Sultan Munawarsyah bin Muhammad Syah Lamuri”.

    Sedangkan makam Muhammad Syah Lamuri (ayah Sultan Munawarsyah) kita temukan di Kuta Leubok. Sesuai catatan pada nisan makamnya, Sultan Muhammad Syah wafat 908 H, permulaan abad ke-16 dan itu merupakan penanggalan terakhir dalam kawasan ini.

    Penanggalan paling awal dari batu nisan yang kita temukan di sini seperti nisan makam yang sudah kita lihat tadi, 822 H, permulaan abad ke 15. Pertengahan awal abad ke-15 di sini ada suatu pemukiman yang padat. Data penanggalan pertengahan kedua abad ke-15 kita jumpai di Gampong Pande.

    Dan ketika kita berbicara tentang sejarah, tentu ada dimensi ruangnya dan dimensi waktunya. Sekarang kita berada di dimensi ruang, katakanlah peristiwa atau babak Kerajaan Lamuri, itu terjadi di sini. Di tempat yang kita duduk hari ini, dulunya banyak dinamika yang terjadi di sini. Apalagi  kita temukan beberapa nisan dari makam milik “Malik”. Seperti yang kita lihat tadi di puncak itu, makam Sultan Muhammad Syah bin Alauddin.

    Hanya dua orang sultan yang kita temukan di sini. Sultan Muhammad Syah bin Alaudin dan Sultan Muhammad Syah yang makamnya di bawah, di Kuta Leubok. Yang lainnya bergelar “Malik”, seperti yang kita lihat tadi makam ayah Sultan Muhammad Syah bin Alauddin.

    Pada nisanya makamnya terdapat inskripsi yang artiya “Ini adalah kubur hamba yang lemah, Malik (Raja) Alauddin”. Tapi tidak disebutkan nama ayahnya, sementara pada nisan makam Sultan Muhammad Syah disebut ayahnya (bin Alauddin).

    Dan ada satu makam lagi, yang pemiliknya meninggal pada 30 Ramadan 822 H/1419 M, permulaan abad ke-15. Jadi di sinilah mungkin pemukiman, bahkan istana-istana atau tempat tiggal mereka.

    Dan dalam ruang Lamreh ini kita lihat seperti laut. Kalau kita mengatakan mereka bercocok tanam, tentu tidak mungkin dengan tempat yang gersang ini, bukan tempat yang cocok menanam padi. Tapi kegiatan pokok mereka adalah laut. Intinya perdagangan. Ini merupakan tapak kota maritim dalam sejarah Asia Tenggara. Jadi ini maritim Islam, di sinilah peristiwanya, bagaimana hubungan dagang dengan luar. Ini baru  awal dari suatu penelitian yang lebih intensif nantinya, dan kita harapkan akan menyingkap banyak hal tentang sejarah masa lalu Aceh.

    Sekarang kita sudah melihat indikator-indikator yang menunjukkan bahwa masa kerajaan itu ada, masa yang dinamis itu ada. Dan di sini juga kita temukan bukti yang menunjukkan bahwa kita masyarakat yang kosmopolit. Ada keramik dari India, Cina, Vietnam. Itu menandakan kita punya hubungan perdagangan yang luas sampai ke pelosok-pelosok yang jauh.

    Kalau kita merujuk pendapat Walter, seorang penulis mengatakan di utara pulau Sumatera inilah tempat yang paling layak untuk perdagangan.

    Dan banyak hal lainnya yang kita temukan di sini, termasuk temuan tentang makam seorang qadhi (hakim) di sebuah bukit di Lamreh ini. Jadi di sini saya rasa lengkap, ada sultannya, ada qadhinya. Dalam satu kerajaan Islam ada Wazir yang mengatur pemerintahan), Sultan yang menguasai dan memiliki kerajaan itu, qadhi yang memegang urusan legislatif.

    Nama qadhi yang kita temukan, Ismail yang digelar dengan Sadrul Islam atau pemuka Islam yang mengusai ilmu-ilmu pengetahuan Islam secara mantap.

    Itulah di antara tokoh-tokoh yang kita temukan makamnya di sini, di tapak Kerajaan Lamuri ini. Kita juga ingin mengetahui lebih lanjut ke depan bagaimana dinamika pemukiman muslim ini atau Bandar Islam di Lamreh ini”.[]