Surat Ini Segera Dibalas

    21
    0

    RINA, maafkan aku. Sudah setahun lebih tak satu surat pun kutulis untukmu. Bukan aku lupa, tapi kesibukan di kota memang sangat jauh dari yang kita bayangkan saat kita duduk di pematang sawah dua tahun lalu. Ini pun, kucuri-curi waktu dari jatah tidur malam.

    Surat ini ku tulis bersama gerimis tengah malam. Angin berhembus tak karuan membuat tubuhku kedinginan. Entah kenapa saat-saat seperti ini aku ingin kau ada di sini, atau aku ada di sana. Dalam surat ini aku ingin menyampaikan satu perkara penting. Sekaligus  bercerita kepada mu bagaimana kehidupan di kota. Kamu sangat ingin kan, suatu hari nanti bisa datang ke kota.

    Rina. Sebaiknya urungkan saja niatmu itu. Kota bukanlah surga. Kerlap-kerlip lampu jalan yang kita lihat di layar televisi ternyata bukan wakilan perasaan penduduknya. Orang-orang kota menghabiskan hidup dalam kegelisahan, selalu dikejar pekerjaan, hati mereka selalu resah, was-was. Harga barang terlalu mahal untuk ukuran isi kantong kita. Karena semua kebutuhan di sini harus dibeli, tak ada yang gratis. Mandi dan kencing saja bayar. Persaingan di sini sangat ketat. Satu lagi, orang-orang di sini hampir tidak punya rasa malu.

    Kalau di kampung kita, laki-laki tidak berani berduaan dengan perempuan yang bukan muhrimnya. Di lirik saja sama teungku imum ketar-ketir kita lari. Di kota justru sebaliknya. Rina, mungkin kamu tidak percaya. Di sini saban petang, muda-mudi bercanda ria di pantai dekat pelabuhan sambil menyaksikan matahari tenggelam. Tangan mereka saling menggenggam, tubuh mereka begitu rapat. Terkadang aku iri, kapan kita bisa seperti mereka. Menikmati suasana persawahan berdua tanpa ada sorotan mata Teungku imum.

    Rina. Bagaimana keadaan mu di sana? Aku harap-harap cemas apakah kita akan bersama lagi, melanjutkan rajutan tali kasih yang terputus. Sebenarnya bukan putus, tapi sengaja kita jeda sejenak, aku telah berjanji, ke kota untuk mencari pekerjaan agar jumlah mahar yang ditentukan ibumu bisa ku penuhi. Aku paham, kelopak matamu yang basah dan suaramu yang lirih adalah sebuah bukti bahwa kau siap menunggu aku kembali. Tapi Rina, hidup memang sulit ditebak. Kita hanya bisa berencana, pada akhirnya tuhanlah yang memutuskan.

    Berat ku katakan ini padamu. Namun aku juga tak bisa hidup dalam bayang-bayang penyesalan. Sore itu, aku sedang tak enak badan. Aku pikir dengan melakukan refresing akan membuat tubuhku sehat kembali. Aku pergi sendiri, membawa motor bebek bekas, yang baru satu minggu ku beli. Saat pertama motor ini ku beli, aku berharap kau adalah perempuan pertama yang ku boncengi.

    Sampai di sebuah pantai dekat pelabuhan, aku berhenti untuk membeli jagung bakar. Demi tuhan Rina, ini pertama sekali aku ke sana. Dan benar kata kawan-kawan yang sudah duluan singgah ke sana, pantainya sangat elok, batu-batu besar menjadi tebing sepanjang bibir laut. Matahari tenggelam ke dasar lautan, sinarnya membuat air semula biru menjadi jingga.

    Saat aku sedang menunggu jagungnya masak, seorang wanita yang lebih dulu memesan jagung beranjak. Celaka, dompetnya jatuh pas di depanku. Namun, perempuan itu seperti buru-buru, motornya melaju kencang. Aku sudah memanggilnya lima kali,  dia tidak mendengar. Rina, aku masih ingat pesanmu tempo hari. Kamu mencintai aku karena kejujuran, sederhana dan tampil apa adanya. Dan kamu berpesan agar aku selalu jujur dan ringan tangan dalam perantauan.

    Tahu apa yang aku lakukan Rina, aku mengejar perempuan itu untuk mengembalikan dompetnya yang jatuh. Hampir satu jam aku mencari perempuan itu. Aku menjumpainya, ia sedang duduk di sebuah bongkah batu,pandanganya ke laut. Ragu-ragu aku mendekatinya, setelah ku kuberikan dompet itu dia tak berkata sepatah pun. Aku melihat mendung di matanya. Aku jadi salah tingkah, aku segara meninggalkan dia sendiri, mungkin bersama kesedihannya.

    Rina, kamu sudah bisa menebak sendiri apa yang terjadi selanjutnya. Dia memanggilku, perlahan dia bangkit berjalan ke arahku. Apa yang hendak kukatakan kalau dia menuduhku telah mencuri dompetnya. Ku rasa ini benar-benar pengalaman buruk. Tapi, yang terjadi justru berbanding terbalik. Dia berterima kasih, dia memberikan aku seratus ribu.

    Aku menolaknya, Rina. Bukankah menolong orang tanpa mengharap imbalan. Sekarang dia pula yang salah tingkah, dia minta maaf, uang itu dimasukkan kembali ke dompet tadi. Dia mengajak ku duduk di batu sebelahnya sambil menikmati jagung bakar. Saat itu aku sangat rindu kepada kamu Rina, aku teringat saat kita duduk di pematang sawah sambil menjaga padi yang mulai menguning. Bahagia sekali rasanya.

    Hari-hari berikutnya, kami sudah sering menghabiskan waktu bersama di pantai dekat pelabuhan itu. Rina, bila ku perhatikan seksama senyum kalian persis sama. Tapi, perempuan ini tidak punya belahan di dagu. Meski dia cantik, bagiku kau tetap perempuan pertama yang telah menanam bibit cinta di taman hati.

    Ternyata dia menceritakan semua kejadian ini kepada orang tuanya. Sungguh aku tak menyangka, perempuan itu adalah anak semata wayang pengusaha panglung kayu. Cerita ini mirip-mirip kisah dalam sinetron. Namun, ini benar ku alami Rina.
    Perempuan itu menginginkan aku menjadi imam dalam hidupnya.

    Keluarganya mau menerimaku apa adanya. Tidak jadi soal aku tak mampu membayar mahar berpuluh mayam emas. Asal aku siap menjadi suami dan ayah yang baik bagi anak-anak kelak. Rina, aku dalam kegalauan. Demi tuhan, aku sangat mencintaimu. Aku masih berangan untuk membina rumah tangga bersamamu, tinggal di rumah kecil dekat kebun sawi, menghabiskan sisa hidup sambil bercocok tanam. Aku ingin menanam benih ke rahimmu.

    Namun Rina, mahar yang dipatok ibumu terlalu tinggi untuk lelaki tamatan sekolah menengah atas seperti aku. Kamu tahu sendiri kan, harga emas terlampau mahal, sedang gajiku di pabrik pengawetan ikan tak seberapa.

    Aku diberikan waktu lima hari untuk memberi jawaban kepada perempuan itu. Kamu tentu sudah paham apa maksudku. Karena aku masih sangat mencintai kamu, aku ingin kamu sampaikan lagi pada ibumu apakah jumlah mahar tidak bisa dikurangi lagi. Aku berikan waktu empat hari untuk membalas surat ini. Apapun jawabannya, semoga itu jalan terbaik bagi kita.

    Banda Aceh, April 2012
    Zulmasry, Alumus LPM Unmuha dan Alumni Muharram Jurnalis College (MJC)

     

    Dari Redaksi:
    The Atjeh Post menerima kiriman cerpen, puisi, syair/hikayat, esai, resensi, yang akan dimuat pada rubrik Budaya. Kirimkan karya Anda ke email redaksi@atjehpost.com atau man_tulis@yahoo.co.id Tulisan tersebut akan tayang seminggu dua kali (Kamis dan Minggu)