Sosok Syeh Rih Meureudu di mata penulis buku Adat dan Budaya Pidie Jaya

    26
    0

    MENINGGALNYA Syeh Rih Muda, Sabtu, 25 Mei 2013, menyisakan duka mendalam bagi kesenian Aceh. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga dan pelaku seni tari Aceh, namun juga dirasakan oleh masyarakat secara keseluruhan.

    Iskandar Norman, Penulis Buku Adat dan Budaya Pidie Jaya, mengatakan pernah beberapa kali berjumpa dengan Syeh Rih. Menurutnya, meninggal Syeh Rih Muda adalah kehilangan besar bagi dunia seni tari Aceh.

    "Saya pernah beberapa kali bertemu dengan Syeh Rih. Beliau adalah sosok pribadi yang enak diajak diskusi. Cara bertuturnya yang khas, dan ungkapan spontanitasnya dengan pantun-pantun lama membuat siapa saja betah berbicara dengannya" ujar Iskandar Norman, kepada ATJEHPOSTcom, di Lambhuk Banda Aceh, Minggu, 26 Mei 2013.

    Menurutnya, selama beberapa kali berjumpa dan berdiskusi dengan Syeh Rih, tercatat beberapa harapan Syeh Rih selama hidupnya tentang dunia seni seudati masih belum mendapat perhatian pemerintah.

    Beliau pernah mengungkapkan juga kekecewaannya, ketika menerima surat pada tahun 2002 dari Asian Art Centre diundang ke Singapora dalam rangka memasukkan seudati ke dalam kreasi tari serumpun yang mendunia.

    Pada tahun 2002 itu, kesempatan besar ini untuk menduniakan seudati terlewatkan begitu saja karena kurangnya perhatian pemerintah pada masa itu. Menurut ceritanya, Beliau tidak mempersoalkan tidak bisa hadirnya bersama abangnya pada event tersebut. Tapi Beliau kecewa tidak bisa memasukkan tari seudati dalam kreasi tari serumpun yang akan dikenal masyarakat dunia.

    "Ketika bercerita tentang itu, saya sempat disodorkan Syeh Rih surat undangan dari Singapore itu," kata Iskandar Norman lagi.

    Namun menurut Iskandar Norman, Syeh Rih adalah seniman yang konsisten. Walau pun beberapa harapannya tidak mendapat perhatian, Beliau tetap saja mengajarkan anak-anak sanggar berlatih tari seudati. 23 tahun menjadi pelatih tari di Sanggar Cut Nyak Dhien Pendopo Gubernur, menurut Iskandar Norman, adalah bukti bagaimana konsistennya Syeh Rih dalam seni tari ini.

    "Krueng Raya meugah meu ganong

    Kapai jitamong KM Rumbia

    Kapai jitamong ganong pih jiweh

    Malam nyoe jadeh ta meu prang haba

    Ji gob di meuprang ngon aneuk budee

    Tanyoe rakan e ta meuprang haba

    Hana di laot geu tarek awee

    Hana ateuh glee geu taguen sira"

    "Itu adalah dua bait panton Syeh Rih yang sangat saya ingat ketika Beliau membacanya di depan saya waktu itu. Pernah juga, tak lama setelah tsunami, Syeh Rih berpantun di depan saya secara spontan tentang tsunami Aceh. Tapi sayangnya, saya tidak sempat mencatatnya waktu itu, karena kesempatan bertemu beliau juga secara kebetulan saja," ujar Iskandar Norman.[] (mrd)