“Soegija” dan Trauma Perang Olga Lydia

    6
    0

    JAKARTA – Ikut membintangi karya terbaru sutradara Garin Nugraha, “Soegija”, Olga Lydia mengaku banyak mendapatkan pengalaman baru berharga. Apalagi ini adalah film perang pertama bagi aktris kelahiran Jakarta, 4 Desember 1976 itu.

    “Saya generasi yang lahir ketika film-film Hollywood memenuhi bioskop di Indonesia, tidak ada referensi sama sekali soal film perang di Indonesia. Jadi, ketika saya disodori naskah oleh tim-nya Mas Garin, saya antusias dan skenarionya bagus sekali. Ini naskah film terbaik yang pernah saya baca dan terlibat di dalamnya,” kata Olga Lidya dalam diskusi film “Soegija” di Jakarta, Rabu, 30 Mei 2012 lalu.

    Dalam film ini, Olga berperan sebagai seorang ibu yang harus berpisah dengan anaknya, ketika pasukan tentara Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942. Lokasi film di beberapa tempat di Semarang dibuat sedemikian rupa, sampai-sampai aktris keturunan Tionghoa itu tidak kuasa menahan haru dan ketakutannya membayangkan perang.

    “Sampai sekarang saya tidak habis pikir kalau ada orang yang ingin memaksakan kehendaknya dengan jalan kekerasan. Itu adegan perpisahan antara saya dengan ayah dan anak saya terbayang-bayang terus dalam pikiran, sehingga setiap kali saya dengar kata “konflik” atau “perang” antarsuku atau soal tanah sekalipun, saya selalu bayangkan ibu-ibu yang kehilangan anaknya, suaminya atau anak yang terpisah dengan orangtuanya. Di hari terakhir syuting tiba -tiba hujun deras turun, sehingga suasana di lokasi makin jadi melodramatis,” kisah Olga.

    “Soegija” sendiri mengisahkan kehidupan uskup Katolik pribumi pertama di Indonesia, Soegijapranata, dengan berlatarbelakang kota Semarang dan Yogyakarta dalam kurun waktu 1940-1949.

    Soegija berperan penting dalam masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang dibuktikannya dengan memindahkan pusat keuskupan dari Semarang ke Yogyakarta, bersamaan dengan pemindahan ibu kota negara dari Jakarta saat itu.

    Bagi Olga, sosok Soegija tidak hanya sebagai uskup katolik yang menjalankan tugasnya sebagai tokoh agama, tetapi mengobarkan semangat cinta tanah air yang sangat besar.

    Presiden Soekarno belakangan juga memberikan gelar Pahlawan dan pangkat Jenderal Anumerta kepada Uskup Soegijapranata.

    Budayawan Nirwan Dewanto, yang berperan sebagai Uskup Soegija mengatakan awalnya ia ragu menerima tawaran Garin, karena baginya ini suatu peran yang serius. Tetapi setelah berulangkali diyakinkan, terutama karena perawakannya yang dinilai pas untuk figur Soegija, akhirnya ia pun luluh.
    “Saya mau terlibat karena bekerja bersama bakat-bakat terbaik di bidang perfilman Indonesia. Film-nya ‘kan digarap Garin, musiknya oleh Djaduk Ferianto, “ ungkap Nirwan Dewanto, suami dari musisi etnis asal Aceh, Nyak Ina “Ubiet” Raseuki.

    Film yang menghabiskan dana sekitar Rp12 Miliar ini rencananya akan ditayangkan serentak di seluruh Indonesia pada 7 Juni 2012. Garin Nugroho mengerahkan sebanyak 150 orang pemain dalam film kolosal yang naskahnya ditulis oleh Armantono. []