Rivalitas Partai Lokal Aceh Saat Pilpres

Tiga partai lokal Aceh dipastikan saling berseberangan dalam menentukan arah dukungan terhadap pasangan capres dan cawapres pada pilpres mendatang.

Partai Aceh (PA) selaku partai pemenang pemilu April lalu dengan tegas mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Rivalnya, Partai Nasional Aceh (PNA) juga tegas memihak kepada pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Sementara Partai Damai Aceh (PDA) memilih sikap netral. Hingga saat ini, PDA belum menentukan ke mana arah dukungan partai berlambang kopiah Aceh dan Pedang tersebut. Partai yang didirikan oleh sejumlah kalangan ulama Aceh ini memilih bersikap netral menjelang pilpres mendatang.

"PDA belum menentukan pilihan. Belum ada pertemuan internal partai maupun intruksi dari ketua partai,” ujar Ketua PDA Aceh Utara, Tengku Sulaiman, kepada VIVAnews.

Namun ia mengatakan sebagian anggota partai tersebut terpecah. Sebagian anggota dan pengurus partai cenderung mendukung Jokowi, namun sebagiannya lagi memilih mendukung pasangan Prabowo-Hatta.

“Secara pribadi ada yang mendukung Jokowi, saya sendiri lebih cenderung ke Prabowo. Namun saat ini posisi kami masih netral. Ke depan, kami belum tahu. Bisa saja kami mendukung satu pasangan tertentu,” kata dia.

Koalisi Merah-Putih Prabowo dipastikan mendapat tambahan amunisi dari PA. Ketua Umum Partai Aceh, Muzakkir Manaf, secara tegas menyatakan mendukung penuh pasangan nomor urut satu Prabowo-Hatta pada pilpres mendatang.

Menurut Wakil Gubernur Aceh itu, PA menilai Prabowo-Hatta sosok yang peduli terhadap Aceh. "Kami dukung Prabowo, karena beliau sangat komit dengan butir-butir MoU dan UUPA (Undang-undang Pemerintah Aceh),” ujar Muzakkir Manaf, yang akrab disapa Mualem itu.

Sebelumnya PA yang dipimpin Mualem juga telah membentuk tim pemenangan Prabowo-Hatta. Mualem sendiri terjkun langsung menjadi ketua tim pemenangan. Sejumlah posko pemenangan pun disiapkan oleh tim pemenangan tersebut.

Tak tanggung-tanggung, Mualem, PA dan partai koalisi di Aceh menargetkan Prabowo-Hatta menang 90 persen di Aceh. Meski, kubu PA sendiri disebut-sebut tidak solid. Terang saja, sejumlah petinggi partai mantan kombatan itu justru menyatakan dukungan terhadap pasangan Jokowi-JK.

PA Tak Solid

Sebut saja Zaini Abdullah. Sebagai Gubernur Aceh, Zaini mendeklarasikan dirinya untuk mendukung pasangan Jokowi-JK. Bukan tanpa alasan. Menurutnya, Jokowi dan Jusuf Kalla, keduanya merupakan tokoh yang sudah dekat dengan Aceh. Jokowi pernah tinggal di Aceh, sementara JK disebut sebagai salah satu aktor di balik perdamaian Aceh.

Ia percaya sosok Kalla mampu menyelesaikan butir-butir MoU Helsinki maupun turunan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA) yang dibuat di era pimpinan SBY dan Boediono.

“Kami harapkan masyarakat Aceh tahu memposisikan diri dalam menentukan pilihannya pada Pilpres kali ini,” kata dia.

Selain Zaini, juga salah satu petinggi PA lainnya Zakaria Saman juga menyatakan hal yang sama dengan Gubernur Aceh. Alasannya pun sama, ia menilai pasangan Jokowi-JK adalah pasangan yang dibutuhkan oleh masyarakat Aceh saat ini.

Pun begitu, pihak Mualem tak gentar. Ia kembali menegaskan bahwa PA dan seluruh jajarannya di daerah, bertekad penuh mendukung Prabowo-Hatta.  

"Itu hak mereka, tetapi saya dan jajaran Partai Aceh mendukung Prabowo-Hatta sepenuhnya untuk kami menangkan di Aceh. Bahkan kami target 90 persen harus menang di Aceh," ujarnya.

Kubu Jokowi-JK juga mendapat dukungan dari PNA. Partai yang didirikan oleh mantan Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf, ini memberikan dukungan sepenuhnya kepada Jokowi-JK. Alasannya tidak jauh beda dengan kedua petinggi PA.

“Yang pertama, kami menganggap Jokowi bisa menyelesaikan persoalan bangsa. Kedua, karena ia (Jokowi) dipasangkan dengan JK. JK ini adalah arsitek perdamaian Aceh,” ujar politisi PNA, Sofyan, kepada VIVAnews, Senin, 16 Juni 2014.

Menurutnya, PNA akan bekerja semaksimal mungkin bersama tim pemenangan Jokowi-JK lainnya untuk memenangkan pasangan tersebut di Aceh. “Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenangkan Jokowi-JK di Aceh,” paparnya.

Persaingan ketat dipastikan akan tersaji di panggung pilpres mendatang. Dukungan masing-masing partai lokal kepada kedua pasangan capres-cawapres dinilai memiliki pengaruh besar terhadap perolehan suara di Aceh.

Kita tunggu saja, siapa yang bakal meraih suara terbanyak di Aceh pada pilpres mendatang.[] sumber: viva.co.id

Leave a Reply