Puisi Wahyuni untuk “Cahaya dan Anak Laki-Lakiku”

    622
    0

    WAHYUNI adalah Master psikologi kelahiran Tanoh Gayo, Takengon, 26 Juni 1972. Dua puisi spesial ini dia kirim sebagai tanda kasih sayang pada keluarga. Katanya, puisi inilah simbol keeratannya dengan orang-orang yang berada diseputarnya. Berikut puisi "keluarga" untuk anak dan orang tuanya.

    Anak Laki-Lakiku

    Malam singkat  di tepi ranjang …
    Menyapa  Tuhan untukmu anak-anaku

    Menjadilah Matahari Jiwa-jiwa…
    Dalam luas dunia ..
    Menjadilah laki-laki Agung
    Bagai batu-batu, sungai, dan gunung

    Kuatlah menentang Badai  ..
    Karena kalian kokoh
    Sigap sebagai Laki-laki
    Tak membiarkan kekalahan berlarut
    Selalu berjiwa pelindung

    Malam singkat di tepi ranjang …
    Airmata intan bagimu Pangeranku

    Jadilah Penyejuk mama
    Untuk dunia skala besar
    Mengganas pada kesalahan
    Memihak kebenaran
    Karena kau selalu Imam  bagi kebenaranmu.

    Darah-darah tubuh mengalir deras
    Pada nadi-nadi lemah
    Karena kau anaku
    Yang telah memperlakukan masa
    Dengan tenang dan sabar

    Malam singkat di tepi ranjang …
    Sujudku melafaz kalimah untuk namamu

    Aku ingin dirimu menjadi anak laki-lakiku
    Yang santun menyapa Rabbi
    Menjaga  setiap detik menjadi kekuatan
    Hati,pikiran, dan jiwa sebagai kekasihNya
    Karena kalian dua anak laki-laki-ku
    yang kukuh dan kuat walau sakit
    Tetaplah sebagai pejuang yang punya prinsip
    Bahwa dirimu adalah laki-laki yang tidak kalah
    Dan bertanggungjawab…

    Anakku, puisi sederhana Mama
    Di malam singkat kala kupandangi kalian
    Di tepi ranjang kayu saat matamu terpejam
    Terlihat gagah sebagai anak laki-lakiku…

    Ya Allah,
    Jadikanlah Anakku Kaleegeo  patuh pada-MU
    Dan selalu berada disisi-MU
    Mengikuti seluruh jalan-Mu
    Karena dia anak-anak-Ku yang nersujud padaMu semata

    Pasar Inpres 2012

    Cahayaku

    Aku memanggilnya Mak
    Karena sayangku padanya
    Tak terperi
    Darahku miliknya
    Hanya sewarna merah
    Dengan segaris benang hitam
    Hingga tulusmu menyatukannya..
    Ikhlas…

    Pak
    Dirimulah pria berjiwa putih miliku
    Benteng dimana aku bersandar
    Disampingmu aku tenang
    Walau luka-luka menyerangku
    Marahi aku,  jika salah
    Karena Menjadi kerinduanku setiap waktu

    Kutau..
    Malam dan siang untukku
    Kalian tasbihkan hingga berjuta do’a-do’a
    berjuta-juta  air mata

    kalian tempuh perjalanan panjang
    Melawati cuaca terik dan hujan
    hingga  melepuh kaki dan jari
    terkadang luka hati
    Demi  Aku 

    Aku ingin dihatimu, Mak
    Aku ingin berada di jantungmu, Pak
    Tanpa kalian apalah makna buana ini
    Kalian marah pada kebun
    Hanya karena rantingnya menyakitiku
    Kalian menolak Laut kala dia mengancamku
    Seluruhnya kalian lakukan
    Hanya demi aku…

    Kutau Mak
    Kau sakit kala aku tersakiti
    Kulihat matamu memerah
    Kala airmataku tumpah
    Aku tak mampu menjabarnya dengan kuat
    Karena cintamu begitu berani
    Menjadikanku harum dimana-mana

    Kutahu, Pak
    Kau biarkan sebuah warnamu pudar
    Untuk pengorbanan kasih sayang  ini
    Namun tetap tenang, memberiku hidup
    Bersama bunga-bunga di lantai itu
    Kau tetap  arahkan cahaya padaku
    Kala diriku  rapuh

    Dan Inilah aku
    Yang tak mampu memberi kalian bahagia itu…

    Pasar Inpres, Takengon…