Puasa Hemat ala Mahasiswa Aceh di Eropa

Penulis: Martunis

Jika di Indonesia kita menghabiskan lebih banyak uang untuk belanja kebutuhan buka puasa dan sahur selama bulan Ramadan, kenyataan sebaliknya justru terjadi pada kami mahasiswa di Eropa. Selama bulan Ramadan, praktis kami mengeluarkan uang yang jauh lebih sedikit dibandingkan bulan- bulan sebelumnya, karena hampir semua kebutuhan makan dan minum bisa kami peroleh secara gratis, bagaimana bisa?

Jawabannya: rajin-rajinlah ke mesjid. Hampir di semua mesjid di Eropa, baik Jerman, Belanda dan juga, menurut informasi kawan, di Prancis, selama bulan puasa mereka memberikan bukaan gratis kepada semua jamaah yang shalat magrib di mesjidnya. Menunya pun beragam, umumnya berdasarkan negara asal para pengurus mesjid. Di Mesjid Turki misalnya, makanan yang disediakan hampir semuanya ala Turki, begitu juga dengan mesji Maroko atau Libanon, makanannya disesuaikan dengan lidah mereka.

Bagaimana jika ingin menyicipi makanan ala Indonesia? Di Mesjid al Falah Berlin Anda bisa memperolehnya. Hampir setiap hari (kecuali hari Jumat), mesjid Indonesia di Berlin ini menyediakan makanan buka puasa untuk seluruh jamaahnya. Tidak hanya saat buka puasa, saat sahur mesjid ini juga menyediakaan makanan untuk jamaah yang datang ke sana. Jamaahnya tentu didominasi oleh mahasiswa pencari makanan gratis seperti saya.

Karena Indonesia sangat kaya dan pengunjung mesjid juga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, menu yang disediakan juga sangat beragam, dan berasal hampir di semua daerah di Indonesia. Sayangnya hingga saat ini saya belum pernah mencicipi mie Aceh di mesjid ini.

Namun karena letak tempat tinggal yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya di Kreuzberg, sedangkan mesjid Al Falah lokasinya di Alt-Moabit, saya lebih sering memilih untuk berbuka di Mesjid Turki yang letaknya hanya 300 meter dari tempat tinggal saya. Di sana saya berbaur dengan jamaah berbagai negara, tetapi umunya orang Turki dan muslim dari Afrika. Mesjid langganan saya ini adalah fatih kultur haus, meski berlabel kultur haus atau rumah budaya, bangunan ini lebih banyak difungsikan sebagai sebuah mesjid, sama seperti mesjid Al Falah yang masih berstatus sebagai sebuah e.V ., atau lengkapnya IWKZ eV (Indonesisches Weisheits – und Kulturzentrum, e.V.). Kenapa harus rumah budaya atau pusat budaya, tidak langsung menyebut mesjid, nanti kita diskusikan masalah ini di tulisan lain.

Balik lagi ke buka puasa gratis. Di Mesjid Turki langganan saya, biasanya jamaah sudah berkumpul beberapa menit sebelum masuk waktu magrib. Begitu azan akan dikumandangkan, panitia membagikan sebutir kurma pada semua jamaah, dan langsung dilanjutkan dengan shalat magrib. Selesai magrib baru semua jamaah turun ke lantai bawah yang merupakan kantin untuk makan buka puasa. Lain halnya dengan kebiasaan di mesjid Indonesia, kita biasanya berbuka dengan bubur atau kolak, kemudian shalat dan setelah shalat baru makan makanan “berat”.

Perbedaan yang saya rasakan antara berbuka dengan mesjid Indonesia dengan mesjid Arab-Turki lain di Jerman adalah, jika di mesjid Indonesia, menunya pas, sesuai dengan lidah kita, tetapi jumlah makanan yang tersedia sering pas-pasan mengingat banyaknya jamaah berbuka puasa. Sebaliknya di mesji Arab atau mesjid Turki, menunya biasanya pas-pasan dengan lidah saya, tapi jumlahnya dijamin jauh lebih banyak karena mengikuti porsi makan orang Arab.

Hmmm, semua memang ada plus minusnya, tapi sebagai jamaah yang romantis (rombongan makan gratis), sebaiknya dinikmati saja itu sedekah, karena yang paling penting adalah berkah dari puasa, bukan makanan saat berbuka. Toh, kenikmatan yang paling besar bagi orang yang berpuasa adalah saat berbuka, bukan begitu?

Penulis adalah mahasiswa asal Aceh di Jerman

Leave a Reply