Potensi wisata bahari Pantai Kuala Raja Bireuen

    29
    0

    BUIH putih beiringan mengikuti ombak memukul pantai Kuala Raja, Bireuen, Sabtu sore, 11 Mei 2013. Sebagian ombak berkecipak memukul tanggul. Di tanggul batu yang menjorok ke lautan belasan pria memainkan pancingnya. Tarik ulur, mereka tetap semangat, meski ikan yang dibawa pulang tak seberapa.

    Di kejauhan, dekat perkampungan, sekelompok remaja setempat bermain bola. Cuaca meredup, awan hitam melayang di angkasa, mendung datang, sepertinya segera turun hujan. Di arah barat laut, matahari terlihat malu di balik awan.

    Di bagian lain, pohon cemara tumbuh subur. Di antara pepohonan cemara dekat kuala, berdiri beberapa pondok pedagang. Beberapa pondok itu muncul beberapa bulan lalu usai dicabutnya larangan bagi wisatawan berkunjung ke pantai indah dengan pasir kecoklatan.

    Garis pantai Kuala Raja tergolong panjang dan menyatu dengan pantai Desa Ujong Blang Mesjid dan Ujong Blang Arun, yang telah lebih dulu membuka diri kepada pengunjung. Pantai Kuala Raja telah berulangkali buka tutup. Padahal pantai tersebut menjadi idola masyarakat Bireuen dan beberapa daerah lain.

    A Hanan, tokoh masyarakat setempat mengatakan, Pantai Kuala Raja dan Pantai Ujong Blang, Kecamatan Kuala, Bireuen, sangat berpotensi menjadi kawasan wisata bahari seperti resort-resort di tempat lain. Selain letaknya hanya dua kilometer dari pusat kota Bireuen, jalan menuju ke pantai tersebut juga sudah memadai.

    "Hambatannya, belum semua masyarakat setempat dapat memahami manfaat pengembangan lokasi wisata. Padahal jika diterima masyarakat, pemerintah dapat membantu membangun sarana dan fasilitas pendukung, supaya pantai Kuala menjadi lokasi wisata yang representatif, bisa menjadi Ujong Batee-nya Bireuen," katanya.

    Bukti kalau Pantai Kuala Raja dan Ujong Blang sangat berpotensi, saat hari Minggu, ribuan pengunjung datang ke pantai Kecamatan Kuala itu untuk berwisata. Ada yang datang bersama keluarga, ada juga rombongan. Dari masyarakat, mahasiswa hingga pelajar.

    Sebab belum tersedia wahana bermain, yang dapat dilakukan pengunjung selama ini hanya berenang. Sesekali, kata Hanan, ada semacam tour yang ditawarkan nelayan. Pengunjung naik boat nelayan, lalu dibawa keliling hingga ke lautan Selat Malaka dengan kutipan yang terjangkau. Itupun ada jika ada nelayan yang memiliki waktu senggang.

    Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bireuen, Irfan, sebelumnya mengatakan, Pemkab Bireuen sangat berkeinginan melakukan pengembangan kawasan wisata yang sangat berpotensi di daerah itu. Tetapi perlu menunggu lahirnya Qanun Lokasi Wisata Islami sebagai dasar dan acuan.

    "Ada sedikit hambatan dari masyarakat sekitar setiap kali Pemkab Bireuen berencana melakukan pengembangan lokasi wsiata, makanya sedang disusun draft qanun lokasi wisata Islami untuk diajukan ke dewan. Setelah qanun tersebut lahir, akan ada batasan-batasan serta pedoman bagi dinas dan masyarakat dalam mengembangkan lokasi wisata," ujar Irfan dalam perbincangan dengan ATJEHPOSTcom beberapa waktu lalu.

    Awan di atas langit Kuala Raja kian meredup. Beberapa pemancing telah pulang. Mereka menjinjing kantong plastik berisi beberapa ikan sebesar tiga jari manusia. Remaja bermain bola telah bubar.

    Di mulut kuala yang belum dikeruk, sepasang suami istri bergantian menjaga anaknya yang berusia sekitar dua tahun. Hari kian gelap, hanya tinggal aku dan lima pemancing di atas tanggul Pantai Kuala Raja.[]