Penggusuran Paksa di Cina Meningkat

    20
    0

    PENGGUSURAN warga secara paksa terus meningkat secara signifikan dalam dua tahun terakhir di wilayah Cina. Pengusiran marak terjadi karena kolusi antara pejabat lokal dan pihak pengembang untuk mendapatkan lahan demi pembangunan infrastruktur.

    Amnesti Internasional menyampaikan laporan tersebut, kemarin. Pihak Amnesti Internasional juga menyatakan penggusuran secara paksa telah menimbulkan kekerasan dan ketidakstabilan sosial serta korban meninggal.

    Kendati secara hukum penggusuran permukiman warga itu legal karena semua lahan di China milik pemerintah, Amnesti Internasional menilai kekerasan yang terjadi menjadi tantangan bagi pemimpin baru Cina di tangan Wakil Presiden Xi Jinping.

    Dalam laporan setebal 85 halaman yang disusun dari Februari 2010 hingga Januari 2012, Amnesti Internasional mengatakan penggusuran yang berbuntut kekerasan telah menyebabkan sejumlah kematian, penahanan, dan kekerasan.

    "Jutaan orang sangat rentan mengalami penggusuran secara paksa yang legal. Penggusuran paksa merupakan masalah tunggal yang terbesar di negara ini. Masalah besar itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun, semakin meningkat dan harus diakhiri," kata Nicola Duckworth, Direktur Senior Penelitian Amnesti Internasional.

    Volume penjualan kawasan permukiman oleh pemerintah daerah ke pihak swasta terus meningkat. Hal itu dipicu target ambisius pemerintah Beijing untuk membangun infrastruktur dengan stimulus kucuran dana 4 triliun yuan pada akhir 2009.

    Akan tetapi, hiruk-pikuk yang spekulatif itu telah meningkatkan volume utang sektor real estat yang mencapai 10,7 triliun yuan pada akhir 2010. Karena itu, pemerintah Cina meluncurkan kampanye pada 2010 untuk membatasi penjualan dan pembangunan infrastruktur yang spekulatif.

    Amnesti Internasional telah menyambut baik peraturan tersebut. Namun, kenyataannya hal tersebut masih jauh dari standar dan hanya berlaku untuk penduduk perkotaan. Dari 40 penggusuran paksa, 9 di antaranya menyebabkan kematian.

    Amnesti Internasional bahkan mendapat laporan bahwa Wang Cuiyan, seorang ibu berumur 70 tahun, dikubur hidup-hidup oleh traktor pada Maret 2010. Saat itu, sekitar 30 sampai 40 pekerja datang untuk menghancurkan rumahnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. | sumber: mediaindonesia