NATO Temukan Anak-anak Tewas Akibat Serangan Udara di Afganistan

    11
    0

    Pimpinan pasukan NATO di Afganistan mengatakan mereka menemukan mayat anak-anak tewas setelah serangan udara dari koalisi yang membuat marah pemerintah Afganistan, mereka juga mengatakan kematian anak-anak itu mungkin berkaitan dengan operasi anti pemberontak didaerah tersebut.

    Serangan udara itu terjadi pada hari Rabu dekat desa Giawa, di timur Provinsi Kapisa, dan diikuti pemboman serupa yang telah memicu ketegangan antara pemerintah dan NATO atas jatuhnya korban sipil yang terus meningkat setiap tahunnya selama konflik lima tahun.

    Pesawat NATO dan pasukan darat menyerang gerilyawan di daerah terbuka di distrik Najrab Kapisa, seperti yang dikatakan Carsten Jacobson, Juru bicara pasukan NATO.

    "Setelah korban penyerangan tambahan ditemukan dan ternyata korban tersebut adalah anak muda Afganistan dari berbagai usia," kata Jacobson kepada wartawan.

    Pejabat pemerintah Afganistan menunjukkan foto-foto mengerikan dari mayat anak laki-laki, dan mengatakan tujuh dari mereka berusia antara enam dan 14 tahun, sedangkan satunya berusia 18 tahun. Mereka dibom dua kali saat menggembalakan domba ditengah salju dan menyalakan api agar tetap hangat.

    "Dimana hak bagi anak-anak yang tewas ini? apakah mereka memiliki hak atau tidak? apakah mereka memiliki hak untuk hidup sebagai bagian dari masyarakat dunia?" kata Mohammad Tahir Safi, seorang anggota parlemen yang dikirim oleh Presiden Hamid Karzai untuk menyelediki serangan udara.

    Menurut Safi, tentara Perancis didaerah tersebut tidak diberi izin memanggil bantuan udara untuk penyerangan bagian utara di sebuah daerah yang disebut bukit Ahmad Bik.

    Meskipun demikian, serangan udara tetap diluncurkan, kata Safi.

    Jacobson mengatakan operasi anti pemberontak telah dilakukan sesuai dengan aturan pada serangan udara NATO, yang telah diperketat dan berakhir dibawah tekanan Karzai dan pemerintah.

    Popularitas Kazai hancur akibat kematian warga sipil dan ia telah berulang kali mendesak pasukan NATO untuk menghentikan pembunuhan warga biasa.|DEDE|reuters