Muslim Jerman diserang polisi usai Tarawih

    21
    0

    DALAM sebuah serangan terkini dan aksi diskriminasi terhadap Muslim Jerman, satu grup personel polisi menyasar jamaah pemuda Muslim seusai menjalankan shalat tarawih pekan lalu. Polisi memborgol dan memukuli mereka.

    "Kami meminta nama dan identitas mereka, tapi tidak memberi informasi sama sekali," tutur Soufian D, salah satu korban kepada DeutschTürkisches Journal.

    Insiden itu terjadi Rabu pekan lalu, ketika 15 pemuda Muslim keturunan Maroko dan Turki menjadi korban kekerasan berlebihan oleh polisi setelah meninggalkan masjid di Kota Offenbach.

    Petugas polisi yang bermaksud mengecek indentitas pemuda Muslim tersebut dilaporkan bersikap agresif dan memukul mereka setelah memborgolnya. Ketika polisi tak memiliki alasan untuk menahan, mereka pun dilepaskan.

    Saat itu pula, petugas memperingatkan pemuda Muslim bahwa yang terburuk akan terjadi bila mereka menginformasikan kepada media mengenai insiden tersebut. Menurut penuturan para saksi, 13 polisi terlibat dalam insiden tersebut.

    Umuk K, yang berada di dekat tempat kejadian ikut cemas dengan adiknya. Ia lalu pergi ke polisi untuk bertanya apa yang terjadi, alih-alih menerima jawaban, ia malah ikut menerima pukulan.

    Usai insiden tersebut, ia pun mengajukan gugatan kepada polisi atas serangan dan perlakukan buruk. "Polisi sepertinya tertarik dengan ketegangan," ujarnya.

    Terlepas dari peringatan polisi, pemuda Muslim tersebut tetap mengajukan gugatan terhadap aparat yang menyerang mereka. "Kita tak memiliki dan membawa senjata, tapi kita dipukuli dan diperlakukan tidak benar," ujar korban.

    "Sebagai Muslim, kita dipandang sebagai kriminal potensial. Kita tetap mengajukan gugatan hukum dan menginginkan keadilan,' imbuhnya.

    Kekerasan terhadap Muslim di Jerman akhir-akhir ini mengalami peningkatan, saat debat mengenai imigrasi Muslim di negara itu sedang memanas. Menurut poling terbaru dari Universitas Munster, warga Jerman memandang Muslim lebih negatif ketimbang tetangga-tetangga mereka di Eropa.

    Tahun lalu, harian Jerman, Der Spiegel, memperingatkan negara itu menjadi kian tidak toleran terhadap minoritas Muslim. | sumber: republika.co.id