Menuju puncak Bur Ni Telong

KEBUN KOPI dan sayur-mayur, dua hal yang langsung mengingatkan kita pada daerah berhawa sejuk, Kabupaten Bener Meriah. Selain itu, daerah pemekaran dari Aceh Tengah ini rupanya menyimpan pesona alam lainnya. Apalagi kalau bukan Bur Ni Telong yang menjadi incaran para pencinta alam, khususnya para pendaki gunung.

Bur dalam bahasa Gayo berarti ‘gunung’ dan telong artinya ‘terbakar’. Jadi, Bur Ni Telong adalah gunung yang terbakar alias gunung merapi. Namanya memang unik, terlebih bagi masyarakat pesisir yang biasa menyebut gunung menjadi gunong. Di kaki gunung ini terhampar perkebunan kopi milik masyarakat.

Umumnya gunung merapi, Bur Ni Telong juga mempunyai sumber air panas. Di Bener Meriah sumber air panas yang berasal dari gunung ini terdapat di dua titik, yaitu di Simpang Balik dan Bandar Lampahan. Keberadaan sumber air panas ini cukup bermanfaat bagi daerah berhawa sejuk ini dan termasuk salah satu destinasi wisata yang digemari di sana.

Gunung ini berada di ketinggian 2.624 meter di atas permukaan laut. Jaraknya sekitar 17 kilometer dari Takengon, Aceh Tengah. Menariknya, Bur Ni Telong punya lima kawah dengan tipe A, B, C, D, dan E. Dari beberapa literatur, gunung ini pernah meletus pada 7 Desember 1924 dan mengakibatkan kerusakan lahan pertanian dan perkampungan di sekitarnya.

Sejak dulu Bur Ni Telong selalu menjadi incaran para pendaki. Misran misalnya, anggota Federasi Panjat Tebing Indonesia ini sudah ratusan kali mendaki Telong. Menuju ke gunung, pendaki harus melewati kebun-kebun kopi milik warga. Jalan tersebut sekarang sudah lebih aman bagi pendatang.

Dari puncak gunung, pendaki bisa memandangi Danau Laut Tawar, perkampungan penduduk di beberapa kecamatan di Bener Meriah dan Takengon, dan tentu saja hamparan kebun kopi yang terlihat hijau. Saat pagi hari atau usai hujan, pemandangan tampak lebih indah lagi karena kebun-kebun kopi dan perkampungan penduduk itu diselimuti kabut bak gumpalan awan.

Mendekati puncak, kita akan menemukan areal sekitar 400 hektare yang ditumbuhi bunga edelweiss, bunga endemik yang hidup di ketinggian tertentu. “Bagus sekali pemandangannya, ketinggiannya juga cukup walau sebenarnya kalah dibandingkan Gunung Sinabung di Sumatera Utara,” kata Misran.

Untuk sampai ke gunung kata Misran, bisa melalui dua jalur. Jika mau mendaki jalur yang ekstrem, bisa melewati daerah Pante Raya. Jalur ini menjadi lintasan favorit para pendaki gunung. Namun jika mau yang lebih mudah, bisa melalui Bandar Lampahan atau disebut jalur keluarga. Sampai sekarang kedua jalur ini masih berupa jalan setapak.

“Kalau pemerintah mau membangun pariwisata Bener Meriah, sebaiknya jalan keluarga dibenahi agar tidak sulit membawa anak-anak,” katanya.

Pemerintah setempat sudah mewacanakan kawasan ini sebagai daerah objek wisata, tetapi terkendala persoalan lahan milik warga di seputar kaki gunung. Meski sudah diusahakan mencari jalan keluar, namun belum ada kesepakatan. “Tanah di bawahnya itu adalah lahan perkebunan rakyat,” kata Kabid Pariwisata Dinas Pariwisata Bener Meriah, Eni Resona, kepada ATJEHPOSTcom.

Namun Misran menilai, hal itu terjadi karena pemerintah kurang membuka komunikasi dan sosialisasi sehingga terjadi misscommunication. “Padahal pemerintah tinggal memperbaiki jalan saja, daerah itu sudah bisa dikunjungi siapa pun,” ujarnya.

Menurutnya, ada dua potensi wisata yang bisa dikembangkan di Bur Ni Telong, yaitu wisata tracking dan wisata keluarga. Jika keduanya dikelola dengan benar, berwisata ke Bener Meriah akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan, bisa menikmati pemandangan alam yang indah sekaligus tubuh yang sehat.[]

Leave a Reply