Menilik Pendidikan Aceh Utara

    26
    0

    Aceh adalah salah satu provinsi yang telah menjadikan pendidikan sebagai salah satu program yang masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kabupaten/Kota (RPJMK). Keseriusan pemerintah untuk memajukan dan meningkatkan mutu pendidikan terlihat pada pengalokasian dana APBA dan APBK yang setiap tahunnya mencapai jumlah 20%, termasuk pengalokasian dana otonomi khusus sesuai amanah Undang-Undang Pemerintah Aceh.

    Kebijakan yang semestinya telah menempatkan mutu pendidikan Aceh minimal berada pada peringkat sepuluh besar nasional, bukan sebaliknya. Menjadi daerah yang memperoleh nilai UN SMU terendah pada 2013, sebanyak 1754 siswa  SMU atau 3,11 persen tidak lulus Ujian Nasional, dan kebanyakan siswa tersebut berasal dari SMA-SMA di Kabupaten Aceh Utara.

    Setahu saya, sepanjang sejarahnya, Aceh belum pernah mendapat predikat terendah dalam hal pendidikan, apalagi Aceh Utara walau dalam kondisi perang dan tanpa dana otonomi khusus sekalipun seperti saat ini. Namun mengapa hari ini, ketika semua fasilitas telah terpenuhi, baik dari segi keamanan maupun dana, mutu pendidikan bisa menurun? 

    Tentu semua ada sebab akibatnya, tidak mungkin ada asap jika tidak ada api. Baca saja tulisan KADIS pendidikan di bawah

    UUPA mengamanatkan bahwa 20% APBA/APBK harus diperuntukkan untuk pendidikan. Hampir semua kabupaten/kota dalam tahun terakhir menempatkan dana melebihi 20% dari APBK untuk pendidikan. Namun kalau dirinci lebih lanjut yang patut diperhatikan adalah semua daerah menghabiskan sebagian besar dana untuk gaji guru. Rata-rata kabupaten/kota menggunakan 67% anggaran pendidikan untuk gaji guru, malah ada kabupaten/kota yang menghabiskan dana pendidikan melebihi dari 85% untuk gaji guru, sebaliknya sangat minim untuk peningkatan kualitas”. http://aceh.tribunnews.com/2012/09/10/pendidikan-aceh-mau-kemana?

    Untuk jumlah guru, rasio yang ditetapkan nasional 1:25 (satu guru untuk 25 siswa), di di Aceh rasionya 1:16, sehingga wajar saja jika dana untuk meningkatkan kualitas pendidikan pun terpakai untuk gaji guru. Guru di Aceh sudah berlebih dan tidak merata. Selain itu, guru menumpuk di daerah perkotaan. Menumpuknya guru di perkotaan menjadikan tenaga guru di pedesaan tidak terpenuhi. Hal itu menjadi alasan tersendiri bagi kepala sekolah untuk menerima tenaga honor yang berijazah Paket C. Karena tenaga pengajarnya sudah mulai marak dari Paket C, wajar saja ketika sekolah-sekolah di pedalaman semakin hari semakin tertinggal.

    Sebut saja seperti SMA Meurah Mulia, SMA Seunudon, yang terletak di Kabupaten Aceh Utara. Di kedua SMA inilah muridnya paling ramai tidak lulus Ujian Nasional tahun 2013, dan di kabupaten ini pula murid SMP terbanyak tidak lulus UN, yaitu 423 siswa. Kabupaten yang nasibnya mungkin bisa saya sebut waallahualam ini memang sangat memprihatinkan. Kabupaten yang pernah jaya di era delapan puluhan dan sembilan puluhan itu kini redup tanpa ekonomi apalagi prestasi.

    Menumpuknya guru di daerah perkotaan seperti di Lhokseumawe sudah harus ditindaklanjuti. Bupati dan wali kota selaku pihak yang berwenang sudah seharusnya bersikap tegas terhadap pemerataan guru. Pendistribusian guru ke daerah-daerah pedalaman dan pedesaan sudah harus segara dilakukan. Bukankah ketika mereka menandatangani SK di situ disebutkan akan bersedia ditempatkan di mana saja? Mengapa juga ketika tugas itu datang, para guru mangkir?

    Selain pendistribusian guru, pemerintah juga harus mulai selektif merekrut tenaga guru. Guru itu pendidik, pendidik harus mahir di bidangnya. Minimal PGSD/PGMA dan SMA-nya bukan paket C, dan tidak ada alasan menerima paket C karena guru tidak tercukupi karena faktanya guru di Aceh 1:16. Saya tidak bicara data, tetapi bicara realitas.

    Kebetulan beberapa teman saya di Kecamatan Meurah Mulia Aceh Utara yang mengambil paket C kini ada yang sudah menjadi guru “Selamat buat teman-temanku tercinta”. Tapi dengan berat hati pula saya sangat menyesalkan sikap Pemerintah Aceh Utara yang tidak selektif ketika merekrut tenaga guru, terutama guru honor dan kontrak yang ujung-ujungnya akan dimasukkan ke daftar pemutihan, lalu resmi menjadi PNS.

    Semoga ke depan tidak ada lagi guru yang ijazah SMA-nya adalah paket C. Bukan tidak boleh memiliki ijazah paket C, tetapi jangan menjadi tenaga honor guru. Guru bukanlah profesi  yang bisa dibuat “coba-coba”. Masa depan generasi bangsa ada di tangan guru. Semestinya yang menjadi guru itu adalah sarjana pendidikan dan magister pendidikan (S.Pd, M.Pd.), PGSD, PGMA, dan jurusan keguruan lainnya, karena merekalah ahlinya. Bukankah menyerahkan sesuatu yang bukan pada ahlinya akan mendapat kehancuran pada suatu ketika nanti?

    Kehancuran pendidikan Aceh Utara sudah nyata di hadapan kita, tidak dimungkiri kalau guru bukanlah satu-satunya faktor dunia pendidikan berhasil atau tidak. Ada faktor lingkungan, keluarga, dan lainnya. Namun, guru adalah faktor utama kesuksesan dan kegagalan dunia pendidikan, karena antara mutu guru dan mutu siswa sangat erat  hubungannya.

    Lihat saja  hasil Uji Kompetensi Awal (UKA) guru di Aceh. Guru TK mencapai nilai rata-rata 36,26 peringkat 32, guru SD nilai rata-rata 35,95 peringkat 32, guru SMA peringkat 31, dan guru SMK peringkat 29 dari 34 provinsi. Data ini menggambarkan bahwa ada hubungan antara kemampuan guru dan hasil belajar siswa. Karena rata-rata kemampuan guru berkisar pada peringkat 30, hasil belajar siswa juga akan berkisar pada peringkat 30 tersebut. Jadi tidak perlu terlalu bermimpi Aceh tercinta akan memiliki pendidikan yang bagus jika gurunya masih “meunan-meunan”.

    Kepada Bapak Bupati Aceh Utara khususnya, saya sangat berharap, tolong jadikan sektor pendidikan adalah sektor utama yang harus mendapat perhatian Anda. Bukankah sejarah telah mengajarkan kepada kita masyarakat Aceh Utara ini, bahwa SDA (sumber daya alam) yang kita miliki ternyata tidak mampu membawa Aceh Utara menuju Kabupaten termasyhur untuk selamanya, berharap kepada SDA seperti gas dan minyak bumi, dan lain sebagainya kini ludes dan hanya tersisa besi tua. Sudah saatnya Aceh Utara membuka mata hatinya.

    Jangan terus menerus terbuai dengan kejayaan masa lalu, kini SDM satu-satunya harapan kita. Ilmu adalah warisan yang tak akan pernah pudar untuk selamanya. Mari tingkatkan mutu pendidikan anak bangsa karena jalan lain untuk memajukan Aceh Utara sampai hari ini sepertinya masih belum terbayang dalam pandangan Anda. Jadi, tolong terimalah sedikit saran saya ini wahai Bapak Bupati kami tercinta. Mari ciptakan guru yang tidak akan menghancurkan masa depan generasi muda dan wujudkan pemerintah yang tidak akan menghancurkan masa depan bangsa. Demikian dan terima kasih.

    Penulis : Ibu Rumah Tangga dari Kecamatan Meurah Mulia Aceh Utara.