Melirik keberhasilan pertanian negara tetangga

PADA 2011, saya berkesempatan mengunjungi Negara Gajah Putih atas undangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Songkhla. Pascaundangan tersebut saya juga sempat memfasilitasi pengiriman 10 orang petani Aceh dua angkatan untuk belajar singkat budidaya  buah-buahan dan pascapanen di salah satu perguruan tinggi ternama di Thailand Selatan bekerja sama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh dan Badan Penyuluhan Pertanian Aceh.

Keberhasilan Pembangunan Pertanian Thailand bukan terjadi dengan sendirinya, melainkan karena memang telah lama dipersiapkan dengan baik grand desainnya oleh pemerintah yang didukung rakyat sama-sama pro sektor pertanian.

Raja Thailand Bhumibol Abduljaded dan pemerintahnya telah mengambil peran yang sangat besar untuk memajukan sektor ini dari hulu hingga ke hilir. Pertanian telah dipandang sebagai suatu sistem yang terpadu, dari perencanaan, penanaman, industri prossesing, hingga pemasarannya. Pemerintah memberikan insentif dan subsidi untuk mendorong masyarakat agar menanami lahan-lahan kosong dan menanam tanaman yang berorientasi ekspor.

Subsidi dan insentif diberikan langsung kepada petani sesuai dengan luasan lahan dan rekomendasi penyuluh pertanian setempat untuk menghindari terjadinya penyelewengan. Pemerintah menjamin kualitas bibit unggul yang dikembangkan masyarakat melalui proses hasil kajian dan riset. Hampir semua wilayah memiliki pusat kajian dan riset sesuai komoditas yang dikembangkan. Pemerintah juga telah membangun infrastruktur  pertanian yang sangat bagus hingga ke pelosok pedesaan.

Selain itu, pemerintah juga tidak hanya berpikir untuk produksi saja seperti halnya di Indonesia, khususnya Aceh.  Negara berperan sangat besar untuk memasarkan hasil pertanian ke seantero dunia. Negara bahkan tidak tanggung-tanggung mengundang ahli pertanian dunia untuk mendukung riset dan rekayasa genetika. Melalui riset dan rekayasa ini, pemerintah telah mengambil kebijakan pengembangan satu komoditas untuk satu wilayah (one village one commodity) sehingga masing-masing wilayah memiliki kekhasan sesuai dengan potensi dan daya dukung wilayahnya.

Keberhasilan Thailand dengan kebijakan ini disertai dengan langkah nyata di lapangan telah mengangkat negara Thailand sebagai negara pengekspor utama produk pertanian dan menguasai pangsa pasar dunia. Produk pertanian Thailand, terutama pangan, tidak hanya dipasarkan di negara tetangga, tetapi juga telah menembus sejumlah negara terjauh, seperti sayur-sayuran di ekspor ke Eropa, China, Jepang, buah-buahan di ekspor ke Amerika dan negara Timur Tengah.

Negara Thailand tidak terlalu lama dilanda krisis ekonomi pada 1997 karena memiliki fondasi ekonomi dan wawasan kebangsaan (nasionalisme) yang sangat kuat, khususnya di bidang pertanian dan agroindustri.  Sejumlah produk pertanian berorientasi ekspor dihasilkan industri-industri kecil dan skala rumah tangga yang tersebar hingga ke pelosok pedesaan. Karena itu, sangat sulit ditemukan masyarakat menganggur yang menghabiskan waktu sambil “pèh t’ém” di warung kopi seperti di Aceh.

Bandingkan dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan berlangsung sangat lama. Krisis berkepanjangan ini menyebabkan Presiden Soeharto lengser dari kursi empuk yang telah dikuasai selama 32 tahun. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan tinggal landas pada 2000 ternyata telah tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga Malaysia dan Thailand. Hal ini karena pusaran ekonomi Indonesia dikuasai oleh sebagian kecil (7%)  dari masyarakat yang dekat dengan kekuasaan.

Kondisi geografis dan keadaan alam Aceh tidak berbeda dengan Thailand. Untuk itu, kemajuan pembangunan pertanian Thailand harus dapat menjadi pendorong bagi Aceh untuk bangkit guna meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat seperti yang pernah dilakukan éndatu Aceh tempo dulu yang punya hubungan ekonomi dan kekerabatan, terutama dengan Thailand di bagian selatan.

Ini merupakan PR besar dan apabila dapat dirumuskan secara sistematis dan bertahap dalam suatu Grand Desain Pembangunan Pertanian Aceh, insya Allah ekonomi Aceh akan bangkit dan pelabuhan-pelabuhan akan bergairah karena adanya transaksi bisnis ekspor dan impor. Insya Allah dengan kerja keras yang visioner, bahu-membahu, impian menuju masyarakat Aceh yang sejahtera dapat diwujudkan seperti halnya Negara Jiran Thailand. Semoga! []

* Pegawai pada BPKS Sabang, email: fauzi_umar_3@yahoo.co.uk

Leave a Reply