Kisah Warga Aceh Berwirausaha di Norwegia

NAMANYA Baharudin. Sosok ini akrab disapa Teungku Baha. Dia adalah warga Aceh asal Peunteut, Aceh Utara yang kini menetap di Norwegia.

Teungku Baha menetap di Norwegia pada tahun 2003 silam. Saat itu Aceh masih dilanda konflik berkepanjangan, hal ini membuat pria lulusan SMA ini terpaksa keluar Aceh dan mencari suaka politik ke Norwegia.

Di Norwegia, dia menetap di Kota Stavanger atau 300 kilometer dari ibu kota Norwegia, Oslo.

Sehari-hari, Teungku Baha berprofesi sebagai penjual potet, yaitu sejenis kentang dibakar yang diolesi margarin, jagung, daging, saus dan keju sebelum dibakar dalam oven. 

Lelaki berpostur gempal dan dikenal humoris ini kepada ATJEHPOSTcom menuturkan, awalnya ia menekuni usaha ini ketika banting setir dari perusahaan pembuatan roti bantal pada awal Juni 2006 silam. Menurutnya, ia hanya menjual potet di hari libur saja, yaitu Sabtu dan Minggu. 

"Loen cuma meukat potet, uroe weekend sagai, yaitu uroe Sabtu ngon Minggu dari, poh 4 supot sampe poh 10 malam. (Saya cuma jual potet di hari libur saja, yaitu hari Sabtu dan Minggu saja dari pukul 16.00 hingga 22.00 waktu Norwegia," ujarnya ketika dihubungi lewat media jejaring sosial Facebook.

Ia menuturkan, rata-rata dari omset penjualannya ia memperoleh sekitar 6000 Kroner (mata uang Norwegia-red) atau sekitar Rp11 juta lebih per hari-nya. Bahkan, pada Sabtu malam atau hari-hari libur nasional, Teungku Baha bisa memperoleh keuntungan hingga 7000 atau 8000 Kroner. 

Selain itu, Teungku Baha juga menghabiskan selama delapan jam sebagai wiraswasta.

Menurutnya, pekerjaan yang ditekuninya disana tidak tetap, namun setiap pekerjaan yang ditekuninya tetap diberikan kontrak kerja dan asuransi. 

"Semua pekerjaan swasta mudah kita dapatkan disini, bahkan kita bekerja sebagai buruh kasar atau cleaning service saja juga diberikan asuransi kesehatan dan bonus tambahan," ujarnya. 

Sementara mengenai pendidikan sekolah di Eropa, khususnya Norwegia, ia menceritakan, semua kebutuhan sekolah mulai TK hingga masuk ke perguruan tinggi tidak dipungut biaya alias gratis. Bahkan, untuk sekolah setingkat SMA semua biaya tinggung oleh kerajaan dan setiap siswa mendapat santunan hingga 300 Kroner per bulannya. 

"Bahkan, setiap ibu yang melahirkan saja diberikan santunan sebanyak 50 Ribu Kroner atau kalau dirupiahkan setara dengan 100 Juta," ujarnya pria berusia 32 tahun dan hobi masak ini sambil tertawa terkekeh.[]

Leave a Reply