Kisah Tragis Penerima Beasiswa Pilot Aceh (1)

    27
    0

    Pengantar: 
    Ini adalah bagian pertama dari dua tulisan tentang nasib para pemuda yang ikut program beasiswa pilot Pemerintah Aceh sejak 2009. Bagian kedua klik: Kisah Tragis Penerima Beasiswa Pilot Aceh (2)

    ***

    PROGRAM beasiswa pilot oleh Pemerintah Aceh melalui Lembaga Dirgantara Aceh ternyata menyisakan kisah pilu. Tujuh calon pilot hingga kini masih terkatung-katung, belum menyelesaikan pendidikannya. Program yang dimulai pada 2009 ini, seharusnya sudah selesai pada April 2011. Namun, hingga Juni 2014, mereka masih menunggu kelanjutan nasibnya. Tragis!

    ATJEHPOST.com menemui seorang calon pilot untuk mencari tahu bagaimana sebuah program beasiswa malah berujung pada terancamnya masa depan penerima beasiswa. 

    Penerima beasiswa ini menolak namanya ditulis. Masih terekam di benaknya ketika seorang penerima beasiswa lain dikeluarkan lantaran mengadukan masalah mereka kepada wartawan. Itu sebabnya, ia menolak namanya disebut. 

    Penerima beasiswa ini lantas bercerita bagaimana awalnya ia begitu bangga lantaran lulus sebagai salah satu penerima beasiswa dari Pemerintah Aceh pada 2009. Sudah terbayang betapa gagahnya ia dengan seragam pilot. 

    Menjelang akhir 2009, lelaki muda ini diberangkatkan bersama 9 rekannya untuk belajar ilmu penerbangan di Integrity Training Service (ITS), Ipoh, Malaysia. 

    Tak lama kemudian program pendidikan pilot itu macet dan terhenti dua bulan gara-gara kucuran dana tidak lancar. 

    "Tetapi kami tidak dibolehkan pulang ke Aceh dan diminta oleh tetap di Malaysia. Permintaan itu datang dari orang yang  mengelola program ini di Aceh," katanya. 

    Catatan ATJEHPOST.com, program beasiswa kedirgantaraan itu dikelola oleh Teuku Syahril, pensiunan TNI Angkatan Udara yang kini menjabat Kepala Lembaga Dirgantara Aceh. 

    Ketika kucuran dana kembali lancar, beberapa bulan kemudian kembali bermasalah. Pendidikan pun kembali macet. 

    Suatu ketika, ketika pendidikan macet lagi, mereka memilih memberontak, tidak mengikuti seruan agar tetap di Malaysia. Mereka pun mengadu kepada Gubernur Aceh saat itu. 

    "Di depan kami gubernur menelepon Teuku Syahril menanyakan bagaimana kabar kami. Pak Syahril yang sedang di Jakarta mengatakan kami baik-baik saja di Malaysia. Padahal kami lagi di depan gubernur di Banda Aceh," katanya. 

    Setelah perkara itu diselesaikan, pada 2011 mereka balik lagi ke Malaysia. Namun, tak berapala lama sekolah penerbangannya tutup karena bangkrut. 

    "Setelah itu setahun kami terkatung-katung, dilarang pulang ke Aceh. Kalau pun diancam akan dikeluarkan dari daftar penerima beasiswa." 

    Selama setahun itu, kata pria ini, mereka tidak punya kegiatan apa pun, selain menunggu datangnya kabar tentang kelanjutan pendidikan mereka. 

    "Selama setahun kami makan tidur, makan tidur, tapi dibiayai negara. Itu kan pemborosan. Kami dilarang pulang agar jangan bocor kalau pendidikan kami bermasalah." 

    Ketika itu, kata pria ini, mereka tersisa sembilan orang. Sementara seorang lagi dikeluarkan setelah mengadukan masalah mereka kepada wartawan. 

    Menjelang Pilkada 2012, mereka nekat pulang ke Aceh. Namun, karena pemerintah sedang disibukkan dengan urusan pemilihan kepala daerah, mereka pun harus mengalah. 

    Beberapa bulan sesudahnya barulah ada kesepakatan mereka akan melanjutkan pendidikan. Kali ini dilempar ke anak perusahaan ITS bernama ESB di Malaysia. Yang ikut ke sini tinggal 7 orang. Mereka pun kembali berlatih dan memperoleh lisensi PPL, Private Pilot License. Dengan lisensi ini mereka boleh menerbangkan pesawat kecil untuk menyiram sawit, tapi belum dapat melamar menjadi pilot komersial. Untuk ini, mereka harus mengantongi sertifikat CPL/IR. 

    Masalah menjadi bertambah runyam ketika Indonesia tidak mengakui lulusan ESB Malaysia itu. Mereka harus ikut program penyetaraan lagi. Akhirnya, mereka pun harus mengulang lagi. Kali ini tidak lagi di Malaysia, melainkan pindah ke Jakarta. Mereka dilatih di Merpati Pilot School. 

    Untuk menyelesaikan tahap ini, mereka harus bayar Rp75 juta per orang. Dari mana uangnya? Dari kantong orang tua sendiri. Sebab, pelaksana beasiswa beralasan uangnya belum cair. Mereka pun dijanjikan akan dikembalikan uangnya jika sudah cair. 

    "Nyatanya, sampai saat ini uang itu tidak dikembalikan," kata pria yang saat ini berusia 24 tahun itu. 

    Alasan tidak ada uang, bagi anak muda ini, tidak masuk akal. Sebab, setahunya, pada 2013 ada dana hibah Rp15,3 miliar dari Pemerintah Aceh untuk Lemabag Dirgantara Aceh yang disalurkan lewat Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan (Isra). 

    Sebagian dari dana itu dijanjikan untuk membiayai kelanjutan pendidikan mereka hingga mendapat lisensi pilot komersil. Masing-masing orang dianggarkan mendapat Rp350 juta. Namun, hingga kini uang itu belum sampai ke tangan mereka. [Bersambung]

    Bagian kedua klik:  Kisah Tragis Penerima Beasiswa Pilot Aceh (2) 

    Baca juga:
    Kemana Dana Beasiswa Pilot Aceh Mengalir?

    Puluhan Miliar untuk Sekolah Pilot Aceh

    Rp50 Miliar untuk Lembaga Dirgantara Aceh, Apa Hasilnya?

    Inspektorat Usut Dugaan Korupsi di Lembaga Dirgantara Aceh