Kisah Jengek Pulau Weh

    17
    0

    MASIH terbayang jelas di benak Harun Keuchik Leumiek bagaimana hiruk-pikuknya pelabuhan Sabang pada akhir 1960. Kala itu, kata pengusaha emas perhiasan Aceh ini, geliat ekonomi di pelabuhan Sabang menyebar ke daratan. Aceh bahkan menjadi salah satu pusat perbelanjaan terkenal di Indonesia dan mancanegara.

    Saat itu Sabang berstatus daerah pelabuhan dan perdagangan bebas sejak 1963 hingga 1985. Berbagai macam barang bebas masuk ke Sabang, mulai dari kaset asli band tenar dunia semacam The Police atau Genesis hingga mobil pabrikan mancanegara. Berbondong-bondong orang datang membeli barang ke Sabang.

    Harun ingat betul ketika suatu hari pada 1970 ia memasukkan dua mobil merek Holden pabrikan Australia lewat Sabang. Mobil itu ia beli di Singapura.

    "Geliat ekonomi masyarakat waktu itu sangat tinggi. Tidak mengherankan kalau warga di Banda Aceh memakai produk-produk luar, seperti produk buatan Inggris, Jerman, dan lain-lain yang berkualitas tinggi,” ujar Harun kepada The Atjeh Times, Jumat pekan lalu.

    Ada tiga jenis barang impor saat itu yang paling dominan masuk. Ketiga jenis barang itu, kata Harun, berupa barang elektronik, pecah belah, dan kain pelekat. Barang-barang ini diburu pengusaha-pengusaha dari Medan dan Jakarta. Mereka banyak memasok barang dari Aceh.

    "Dulu, jangankan di Sabang, di Pasar Aceh saja bisa dengan mudah kita temui barang-barang berkualitas tinggi. Bahkan banyak orang luar seperti orang dari Medan masuk dan menjadi jengek serta membangun pos perkumpulan mereka di sini," ujar Harun.

    "Jengek artinya jenggo ekonomi. Dulu pos para jengek itu ada di Ulee Lheue satu, dan di Pasar Aceh satu," ujarnya lagi sambil tersenyum.

    Istilah jengek sekarang ini mungkin bisa disebut agen. Mereka ini biasanya memasukkan barang-barang tertentu dari freeport Sabang ke daratan Aceh. Menurut Harun Keuchik Leumiek, jengek mengambil langsung barang dari Sabang dan memasok ke Banda Aceh melalui Ulee Lheue dengan terlebih dulu mengurus bea cukainya di sana.

    Jengek, kata dia, tidak memasukkan barang dalam jumlah besar. Mereka tidak termasuk sebagai pengusaha atau pedagang besar. Yang menjadi jengek, kata Harun, kebanyakan dari kalangan kelas menengah ke bawah.

    Namun, pembeli lebih memilih membeli barang jengek karena harganya relatif murah dan kualitas juga tidak kalah. "Saya sendiri, selama freeport Sabang masih aktif tidak pernah melakukan usaha dagang melalui ini karena barang dagangan yang ada di sana hanya berupa tiga hal yang saya sebutkan tadi, yaitu barang pecah belah, barang elektronik, dan kain pelikat,” ujarnya.

    Beranjak dari kegemilangan Sabang tempo dulu, Harun berharap Pemerintah Aceh mengaktifkan kembali pelabuhan di Teluk Sabang.

    Menurutnya, Aceh dengan pelabuhan alam yang ada di Teluk Sabang tentu bisa menjadi andalan. "Yang jelas, dulu orang Medan dan Jakarta ramai-ramai datang bawa uang, belanja barangnya di Aceh. Perputaran uang di Aceh waktu itu tinggi. Tapi sekarang sudah terbalik."[]