Kebesaran Malikussaleh, sang penyebar Islam dari Samudra Pasai

TEUNGKU Muhammad Yakob menyapu lantai keramik putih di kompleks makam itu. Makam Al-Malik Ash-Shâlih atau Al-Malikush-shâlih yang lebih dikenal Sultan Malikussaleh ini, dipayungi cungkup beratap genteng hijau tua.

Makam raja pertama Kerajaan Islam Samudra Pasai itu berada di Gampong Beuringen, Samudra, Aceh Utara. Di sisi makam Sultan Malikussaleh, ada makam Sultan Muhammad atau Malikul Zhahir. “Ini putra Sultan Malikussaleh,” ujar Teungku Muhammad Yakob, juru kunci makam Sultan Malikussaleh, ditemui beberawa waktu lalu.

Makam Malikussaleh ditutup dengan kelambu kuning, bagian atasnya berwarna hijau. “Kelambu itu dipasang oleh ulama dayah, Teungku Don dari Matang Mane Blang Jruen (Tanah Luas, Aceh Utara) yang datang bersama rombongan dayah lainnya, termasuk dari Woyla,” kata Teungku Ahmad Yus, warga Gampong Beuringen.

Teungku Muhammad Yakob menyebutkan, makam Malikussaleh ramai dikunjungi warga lokal maupun luar negeri. Hampir saban bulan, kata dia, ada kunjungan dari Malaysia, Filipina, Thailand, Brunai Darussalam dan warga negara lainnya. “Dari daerah kita, anak sekolah, santri dan mahasiswa biasanya datang berombongan,” ujar Yakob.

Kalangan siswa dan mahasiswa berkunjung ke makam itu untuk menggali pengetahuan sejarah. Puluhan mahasiswa Universitas Al-Muslim Bireuen, misalnya, datang ke makam Malikussaleh awal 2013, bagian dari tugas kuliah tentang perkembangan masyarakat berbudaya.

“Sebagian besar generasi muda sekarang terkesan sudah melupakan sejarah dan kebudayaan Aceh. Maka saya memberi tugas pada mahasiswa menggali sejarah Kerajaan Islam Samudra Pasai agar ketika mereka jadi guru bisa memberi penjelasan terhadap generasi masa depan,” kata Ahmad, dosen Universitas Al-Muslim.

***

SULTAN Malikussaleh wafat pada 696 Hijriah (1297 Masehi). Kepemimpinan Kerajaan Samudra Pasai kemudian dilanjutkan putranya, Al-Malik Azh-Zhahir Muhammad atau Sultan Muhammad lebih dikenal Malikul Zhahir, 1297-1326 Masehi, dan seterusnya.

Nisan makam Al-Malik Ash-Shâlih atau Malikussaleh, kata peneliti sejarah dan kebudayaan Islam Taqiyuddin Muhammad, dari sisi struktur materilnya: bahan baku, ornamen, relief, kaligrafi dan pilihan ayat-ayat Al-Qur’an yang diukir, memiliki kecenderungan cita rasa seni Islam di era kesultanan Aceh Darussalam. Seni memunculkan suatu asimilasi budaya masyarakat pra-Islam di utara Sumatra dengan nilai-nilai Islam yang universal.

Itu sebabnya, dapat dipastikan pada masa pemahatan nisan tersebut dan jauh sebelumnya, Malikussaleh adalah sosok sangat dikenal. “Sejarah hidupnya dikenang dan diteladani. Semangat yang dikembangkannya menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya,” ujar Taqiyuddin Muhammad.

Pada makam Malikussaleh terdapat inskripsi di sisi muka nisan sebelah kaki atau selatan, yang teksnya: “Hdza al-qabrul al-marhm al-maghfr at-taqiy an-nshih al-hasb an-nasb al-karm al-‘bid al-ftih al-mulaqqab sulthn Malik ash-Shlih alladz intaqala min syahr Ramadhn sanata sitt wa tis’na wa sittumi’ah min intiqal an-nabawiyyah saqa Allhu tsarhu wa ja"ala al-jannata matswhul ilha illa-Llhu Muhammad rasulullah.”

Makna dari kalimat itu, kata Taqiyuddin, ialah: “Inilah kubur orang yang dirahmati lagi diampuni, orang yang bertaqwa (takut kepada murka dan azab Allah) lagi pemberi nasehat, orang yang berasal dari keluarga terhormat dan dari silsilah keturunan terkenal lagi pemurah (penyantun), orang yang kuat beribadah (‘abid) lagi pembebas, orang yang digelar [dengan] Sultan [Al-]Malik Ash-Shalih, yang berpindah [ke rahmatullah] dari bulan Ramadhan tahun 696 dari hijrah Nabi [saw.]. Semoga Allah menyiramkan [rahmat-Nya] ke atas pusaranya serta menjadikan syurga tempat kediamannya. Tiada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah).

***

SULTAN Malilkussaleh menyayangi orang-orang tak berdaya. Statusnya yang tinggi tidak menyulitkan dirinya untuk merendah. “Iman dan pengalaman hidupnya telah mengangkatnya untuk menjadi sosok yang dicintai rakyatnya, terutama golongan lemah,” ujar Taqiyuddin yang juga alumni Universitas Al-Azhar, Kairo.

Tidak mengherankan, era pemerintahan Malikussaleh adalah masa awal Samudra Pasai muncul sebagai sebuah kesatuan politik yang kuat dan berpengaruh di Nusantara. Terutama, kata Taqiyuddin, dalam memperluas wilayah Islam di bumi Nusantara. Sehingga, Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia dan semenanjung Melayu.

Tak dapat tidak untuk diakui bahwa proses islamisasi Asia Tenggara yang begitu cepat, kata Taqiyuddin, peristiwa sejarah terhebat di kawasan ini. Hal tersebut tentu dilakukan orang-orang yang benar-benar teguh, salah satunya Sultan Malikussaleh.

“Ahli ibadah lagi pembebas yang juga kesatria, sifat ini yang membuat Al-Malik Ash-Shalih (Malikussaleh) bukan orang terkecualikan dalam barisan tokoh-tokoh besar dan agung dalam sejarah Islam,” kata Taqiyuddin.

Malikussaleh, Taqiyuddin menambahkan, seorang pengembang dakwah Islam dan penyebar nilai-nilai kebebasan. Apabila ketertarikan ramai orang kepada Islam diawali faktor sosok penyebarnya, kata dia, kepribadian Malikussaleh merupakan daya tarik pertama yang mendorong orang untuk memeluk Islam.

“Jelas sekali, ia seorang yang tidak bernafsu menguasai tanah dan harta milik orang lain, ia hanya menginginkan hati mereka di dalam Islam,” kata Taqiyuddin.

Itulah kepribadian orang yang digelar dengan raja yang shalih. Gelar  yang amat sepadan dengan penyandangnya, Malikussaleh. Sang pemanggul dakwah Islam itu memang telah tiada. Namun nama raja besar Kerajaan Islam Samudra Pasai ini banyak diabadikan untuk nama lembaga pendidikan, yayasan, bandara dan nama salah satu jalan di Lhokseumawe.[]

Leave a Reply