Kaum ibu ancam blokir jalan lintas jembatan maut Lhoksukon

    17
    0

    KAUM ibu Desa Dayah, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, mengancam akan memblokir jalan lintas Medan–Banda Aceh, persisnya di jembatan maut desa setempat pada Selasa 26 Februari 2012 mendatang. Proyek jembatan itu telah ditinggalkan rekanan sejak pertengahan 2012 lalu.

    Jika itu dilakukan, maka pengguna jalan yang datang dari arah Banda Aceh atau Medan, harus mengambil jalur alternative dari Kecamatan Matangkuli dan keluar dari line pipa ExxonMobil Landing atau dari Simpang Cibreik, Kecamatan Syamtalira Aron.

    Tentunya jalur itu akan memakan waktu lebih lama, mengingat jalan aspal tersebut banyak yang telah rusak. Ditambah lagi, kawasan itu banyak berseliweran ternak warga.

    Cut Saripah, 38 tahun, warga Desa Dayah, kepada ATJEHPOST.com, Minggu 24 Februari 2013 menyebutkan, dirinya merasa sangat dirugikan dengan proyek pembangunan jembatan tersebut.

    “Selama 6 bulan listrik untuk penerangan jalan di lokasi proyek dialirkan dari listrik rumah saya. Belum lagi air bersih PDAM Tirta Mon Pase. Setelah rekanannya kabur, saya yang harus membayar semua biaya itu,” ujarnya.

    Hal senada diungkap Heri, 31 tahun, warga setempat. “Kita minta Pemerintah Aceh Utara turun ke lokasi besok (Senin-red) untuk melihat langsung kondisi jembatan yang sangat rawan tersebut. Kita juga minta kejelasan dari Pemerintah kapan jembatan itu akan diselesaikan pengerjaannya.”

    Kata Heri, sudah tidak terhitung angka laka-lantas di jembatan itu. Bulan Februari ini saja sudah tiga kali, belum lagi bulan-bulan sebelumnya. Mulai dari sepeda motor hingga mobil pernah terjun ke dasar jembatan. “Apakah harus menunggu korban lebih banyak lagi?” kata Heri.

    “Benar, dasar jembatan itu sangat mengerikan. Banyak besi besar yang sudah terpancang dan mengarah ke atas. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika besi itu menembus tubuh pengendara yang jatuh ke dasarnya. Belum lagi macet yang sering terjadi,” timpal Cut Saripah.

    Sejumlah warga lainnya mengatakan, hingga saat ini kondisi jalan masih gelap walau lampu penerangan ukuran kecil sudah dipasang dinas terkait.

    “Lampu itu hanya terlihat sedikit terang dari arah Medan, sedangkan jika datang dari arah Banda Aceh, suasana jalan masih gelap. Lagi pula lampu yang dipasang terlalu kecil,” kata dia.

    Beberapa kaum bapak menambahkan, pihaknya tidak mau tahu. Jika Senin nanti pihak Pemerintah Aceh Utara tidak datang ke lokasi. Maka mereka akan ikut serta bersama kaum ibu untuk memblokir jalan tersebut. “Sudah cukup korban, tolong pemerintah buka mata dan telinga,” tukas warga.(mrd)