Intonasi emosi pengaruhi fungsi otak bayi

    20
    0

    JIKA Anda memiliki anak yang masih bayi, berusahalah menjauh saat sedang marah dengan mengeluarkan suara bernada emosional. Studi terbaru mengungkapkan otak bayi akan "menyala" dalam merespon nada marah bahkan saat mereka sedang tertidur sekalipun.

    Bayi memiliki pikiran yang murni sehingga masih mudah dibentuk. Lingkungan dan berbagai peristiwa yang mereka alami, merupakan faktor pembentuk otak menjadi sesuatu yang baik atau buruk. Stres karena penganiayaan atau dibesarkan di sebuah institusi yang penuh penderitaan, memengaruhi perkembangan otak mereka.

    Dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science menunjukkan, meski hanya mendapat tekanan secara moderat pun dapat memengaruhi fungsi otak bayi.

    "Kami tertarik apakah berbagai peristiwa yang biasa terjadi menjadi sumber stres di awal dalam kehidupan anak seperti konflik atau pertengkaran di antara kedua orang tua mereka, berhubungan dengan bagaimana fungsi otak seorang bayi," ujar penulis studi Alice Graham dari University of Oregon, Amerika Serikat.

    Dari pertanyaan tersebut Graham bersama rekannya mengamati otak dari 20 bayi yang sedang tidur dengan rentang usia antara enam hingga 12 bulan. Penelitian dilakukan menggunakan pencitraan resonansi magnetik fungsional.

    Di dalam pemindaian, bayi-bayi tersebut diuji mendengarkan kalimat yang diucapkan laki-laki dewasa dengan berbagai intonasi. Mulai dari sangat marah, agak marah, senang, hingga intonasi yang terdengar netral. Dari pengujian tersebut terlihat otak bayi menggambarkan pola yang berbeda dari aktifitas sesuai dengan setiap intonasi emosional yang diucapkan.

    Bayi yang tinggal di rumah penuh konflik memiliki respon yang lebih besar untuk intonasi yang sangat marah di bagian otak mereka. Melalui studi ini, Graham bersama koleganya menginformasikan bahwa konflik orang-tua dapat memengaruhi fungsi otak bayi dalam menangani kondisi stres dan emosi. | sumber: nationalgeographic.co.id