Imam Inggris Sebut ISIS Koboi dan Tak Mewakili Agama

    21
    0

    Para imam terkemuka di Inggris telah mengutuk dengan keras kelompok militan dari Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam sebuah video diedarkan di dunia maya dan dirilis pada pekan ini. Video itu bertujuan untuk menghalangi para pemuda muslim Inggris turut berperang di Irak dan Suriah.

    Kecaman terhadap kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang juga telah memproklamirkan diri sebagai "khalifah", itu dianggap sebagai serangan balik tokoh dengan profil tinggi dari para pemimpin muslim di Inggris sejauh ini terhadap kelompok ekstremis yang telah menguasai sebagian besar wilayah di utara dan barat Irak serta Suriah bagian timur, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Sabtu (12/7).

    Para imam Inggris itu muncul dalam sebuah video yang menggambarkan ISIS sebagai "korup, jahat, bergaya bak koboi dan teroris".

    Mereka mengatakan video itu bertujuan untuk melawan kampanye media digital yang kerap dilancarkan ISIS dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya dalam upaya untuk memikat para pejuang asing untuk berjuang di "khalifah" baru mereka buat itu.

    "(ISIS) adalah koboi. Mereka tidak mewakili agama dan tidak memenuhi syarat untuk mewakili agama," kata Sayed Ali Rizvi, kepala organisasi Majlis Ulama-e-Shia.

    "Kami kaum muslim bersatu melawan ISIS, melawan terorisme, melawan kekejaman, melawan rasa sakit dan penderitaan," lanjut dia.

    "Mereka tidak mewakili agama, mereka tidak memenuhi syarat untuk mewakili agama," tegas Sayed.

    Imam Maulana Shahi Raza, yang juga pemimpin Masjid Agung Leicester, mengatakan dia menolak Negara Islam yang dideklarasikan oleh ISIS.

    "Sebagai seorang muslim Sunni saya tidak menerima khilafah (kekhalifahan) dari ISIS," ujar Raza dalam klip video itu.

    "Saya menganggap ISIS sebagai organisasi teroris dan mereka berusaha untuk menciptakan korupsi dan fitnah (perpecahan) di dalam dunia muslim," jelas dia.

    Kecaman ini datang di saat Kantor Luar Negeri Inggris memperkirakan sekitar 500 warga Inggris telah melakukan perjalanan ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan kelompok itu.

    Para imam itu juga berada di belakang sebuah surat terbuka yang ditandatangani pada awal bulan ini dengan lebih dari 100 imam Inggris yang memperingatkan agar warga muslim untuk tidak melakukan perjalanan ke negara-negara yang dilanda konflik, menurut laporan BBC.[] sumber: merdeka.com