Hilangnya Asinan Boh Meuria, Oleh-oleh Khas Pantai Barat Aceh

Rumbia atau buah sagu selama ini merupakan oleh- oleh khas Aceh Barat. Masyarakat Aceh menyebutnya boh meuria. Berbilang tahun lalu, rasanya tak lengkap ke Aceh Barat kalau belum membeli asinan rumbia.

Namun, setelah bencana gempa dan tsunami, pohon-pohon sagu di pesisir barat itu tak lagi berbuah. Akibatnya, asinan rumbia pun menghilang dari peredaran. Sayangnya, hingga kini belum ada penelitian mengapa pohon sagu tidak lagi menghasilkan buah rumbia.

Sebelum gempa dan tsunami melanda Aceh, khususnya kawasan pantai Barat aceh Asinan rumbia banyak dijual di tempat- tempat pedagang buah  yang berjajar di kawasan Batee Puteh jalan lintas Meulaboh- Banda Aceh dan Meulaboh-Medan.

Asinan rumbia juga menjadi sentra ekonomi home industri masyarakat petani yang rumahnya dekat dengan hutan sagu, seperti Kecamatan Sama Tiga, Bubon, Meureubo dan sebagian kecil pinggiran Kecamatan Johan Pahlawan.

Di Meulaboh, dulunya pengolah rumbia yang sangat dikenal adalah usaha  Rindang, dan home industri milik Hamdani yang berada di kompleks terminal angkutan umum.

Saat ini, entah apa sebabnya, industri rumah tangga pengolah asinan rumbia ini sudah jarang ditemui. Padahal, asinan rumbia dari Aceh Barat pernah dikenal hingga ke seantero nusantara.

Ditemui di rumahnya pada Minggu, 28 Oktober 2012, Hamdani, 67 tahun menuturkan, saat masih mengolah asinan rumbia, kebutuhan ekonomi keluarga ditopang dari usaha itu. Bahkan, ketiga anaknya disekolahkan hingga selesai kuliah dari hasil menjual asinan rumbia.

Menurut Hamdani, tak sulit mengolah asinan rumbia. Cukup dengan mencampurkan garam ke dalam air, lalu diaduk sesuai dengan banyaknya rumbia. Sebelum direndam dalam air garam, rumbia terlebih dahulu dicuci. “Setelah itu baru direndam selama lima sampai tujuh hari,” kata Hamdani.

Kata Hamdani, dulu ia setiap hari dia mengolah ribuan buah rumbia menjadi asinan. Itu pun terkadang tidak bisa memenuhi permintaan pembeli yang datang langsung ke rumahnya.

Asinan rumbia yang dijualnya dimasukkan dalam karung berisi 100 biji. Per karung itu dijual dengan harga Rp20 ribu.  “Dulu setiap bulan bisa dapat penghasilan hingga Rp1-1,5 juta,” ujarnya.

Pembeli asinan rumbia milik Hamdani kebanyakan datang dari luar Aceh Barat, seperti dari Banda Aceh dan kota-kota lain di Aceh. Bahkan, kata dia, tak jarang ada pembeli dari provinsi lain yang kebetulan sedang berada di Meulaboh.

Sayangnya, paska bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004, buah tangan khas Aceh Barat itu menghilang dari peredaran meski pun pohon sagu masih bisa dijumpai di beberapa daerah di Aceh Barat. Hanya saja, pohon-pohon itu tak berbuah.

Hamdani menambahkan, saat masih adanya rumbia dulu bukan hanya dia yang dapat menopang kehidupan ekonomi selaku pengolah asinan rumbia, tapi juga para pengumpul buah rumbia.[]

Leave a Reply