Hary Tanoe dan politik simsalabim Indonesia

    15
    0

     

    HARY Tanoesoedibjo (47). Pengusaha papan atas ini mencuri perhatian dunia politik Indonesia sejak awal tahun. Ia bukan politisi karir. Usahanya berkembang sejak reformasi, kala perekonomian Indonesia morat-marit. Mulai dari sektor penjaminan, media dan belakangan merambah ke pertambangan dan infrastruktur (perusahaannya baru saja membeli konsesi tol Bakrie Group). Asetnya bertambah gemuk. Dengan modal ini, kelompok politik mana yang bakal menampiknya. Politik Indonesia kini identik dengan uang, pencitraan dan jaringan. Hary Tanoe memiliki tiga hal itu.
     
    Hary memiliki jaringan media terbesar di Indonesia. PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNC) dan PT Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), Global TV, Mobile-8 Telecom Tbk., Indovision dan perusahaan-perusahaan lainnya di bawah bendera grup perusahaan Global Mediacom dan Bhakti Investama. Pada 2011, Forbes memeringkat Hary Tanoe di posisi ke-22 orang terkaya Indonesia dengan total nilai kekayaan sebesar USD1,19 miliar.
     
    Bergabung dengan Partai Nasional Demokrat sejak November 2011, tiga belas bulan kemudian ia pecah kongsi dengan petolan Nasdem, Surya Dharma Paloh. Keluar dan kemudian bergabung ke Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura). Tak sampai dua pekan, elektabiltas Hanura menyalip Nasdem. 
     
    Di tengah jalan, Hary Tanoe terkena kasus. Juni 2012, Hary Tanoe diinterogasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sehubungan dengan kasus korupsi Tommy Hindratno, pejabat pajak di Kantor Pajak Sidoarjo dan James Gunarjo, yang diyakini terhubung dengan PT. Bhakti Investama Tbk., perusahaan miliknya. Tommy diduga jadi perantara dalam upaya kongkalikong pajak. Pemulusnya senilai Rp3,4 miliar. KPK menggerebek kantor PT Bhakti Investama Tbk. dan PT Agis di Menara MNC, Jakarta Pusat.
     
    Apa pun masalah yang membelit Hary Tanoe, kehadirannya di dunia politik Indonesia diyakini bakal memberi warna. Elit Hanura mulai menggadangnya sebagai calon wakil presiden. Semua tahu sekarang siapa saja bisa mencalonkan dan dicalonkan. Yang belum terdengar adalah gagasannya tentang masa depan Indonesia, soal ekonomi, politik, pendidikan, budaya, tentang korupsi dan lain-lainnya. 
     
    Publik akan menilai, apa motivasi Hary Tanoe berpolitik. Apakah hanya sekadar mencari kekuasaan di negeri simsalabim ini, atau ada motif murni untuk memperbaiki?