Hadih Maja Aceh

    25
    0

    Meunyoe até hana teupèh
    Aneuk krèh jeut taraba
    Meunyoe até ka teupèh
    Bu leubèh han jipeutaba

    RANGKAIAN kalimat di atas selanjutnya disebut hadih maja. Berkaitan dengan arti hadih maja tersebut, Mohd. Harun dalam bukunya Memahami Orang Aceh (2009) menyebutkan bahwa kata hadih secara etimologi berasal dari bahasa Arab, hadits, yang berarti kejadian atau peristiwa. Apabila dikaitkan dengan Islam, hadits berarti tindakan, ucapan, dan diam Rasulullah mengenai sesuatu. Lebih lanjut, Mohd. Harun (2009) menyebutkan bahwa maja berarti nenek moyang (ancestor) atau orang Aceh lebih mengenalnya dengan istilah indatu.

    Berdasarkan pengertian hadih dan maja seperti yang disebutkan di atas, dapat dikatakan bahwa hadih maja berarti perkataan tetua, atau seperti yang disebutkan ucapan-ucapan yang berasal dari nenek moyang dan tidak ada hubungannya dengan agama, tetapi ada kaitannya dengan kepercayaan rakyat yang perlu diambil ibaratnya untuk menjamin ketenteraman hidup atau untuk mencegah terjadinya bencana, seperti adat istiadat pada suatu upacara, aturan-aturan berpantang, dan ucapan-ucapan mengenai moral (Aboe Bakar, dkk. dalam bukunya Kamus Aceh Indonesia, 1985, 273).

    Hadih maja disebut oleh Mohd. Harun (2009) sudah menjadi rujukan hukum  dan sumber nilai, jauh sebelum Islam masuk ke Aceh. Oleh karena itu, meski Islam menjadi agama yang mengakar kuat bagi orang Aceh, perkataan orang tua zaman dulu masih menjadi salah satu rujukan bagi orang Aceh bahkan kemudian terjadi akulturasi yang padu dengan Islam.

    Secara historis, Mohd. Harun dalam bukunya Memahami Orang Aceh (2009) menyebutkan bahwa hadih maja pada awalnya dinisbahkan kepada ungkapan yang dihasilkan perempuan yang  dituakan dalam masyarakat Aceh. Namun dalam perkembangan selanjutnya, bukan hanya perempuan yang dituakan yang menghasilkan ungkapan, pihak tetua lelaki pun juga menghasilkan ungkapan-ungkapan berhikmah (peureuman datôk). Oleh karena itu, hadih maja merupakan ungkapan-ungkapan berhikmah yang dihasilkan oleh indatu, baik tetua perempuan maupun tetua lelaki.

    Hadih maja sampai sekarang masih digunakan oleh orang Aceh secara lisan dan tulisan. Penggunaannya secara lisan masih dapat ditemukan dalam acara resmi dan tak resmi, seperti pidato resmi pejabat negara di Aceh atau komunikasi antarindividu dan keluarga.

    Hadih maja bermaksud memberitahukan informasi mengenai perlunya seseorang membawa diri dalam pergaulan di mana pun dia berada; di kampung sendiri, terlebih-lebih di rantau orang (Mohd. Harun, 2009).[]