Gempa Politik Aceh

    17
    0

    Gempa adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan. Bila guncangannya sangat kuat sudah pasti akan menimbulkan kerusakan bahkan korban jiwa. Kerusakan umumnya karena struktur banggunan yang tidak kuat, dan korban jiwa terjadi karena kepanikan dalam menghadapi gempa dan akibatnya.

    Ada dua tipe gempa. Gempa vulkanik yang disebabkan letusan gunung berapi dan gempa tektonik akibat terjadi pergeseran dan pergesekan lempeng bumi. Jika gempa vulkanik hanya merusak lingkungan sekitarnya maka gempa tektonik dengan getaran yang kuat bisa menjalar keseluruh bumi.

    Pemahaman sederhana gempa bumi itu lebih kurang sama dengan gempa politik Aceh. Kalau dilihat dari getarannya yang kini menjalar hingga ke nasional maka jelas ini bukan lagi gempa politik "vulkanik" (gempa akibat ledakan di salah satu partai politik). Gempa politik Aceh adalah tipe gempa politik "tektonik."

    Kalau begitu, mengikuti pemahaman umum gempa tektonik, maka gempa politik paska konflik ini terjadi karena ada pergeseran lempengan plat tektonik bumi politik. Dalam bumi politik Aceh perseseran lempeng tektonik terbesar terjadi pada Pemilu Legislatif 2009. Pada pemilu inilah terjadi pergeseran lempengan politik yang dasyat.

    Sebagaimana diketahui, pada pemilu legislatif 2009, secara lokal, hanya Partai Aceh yang berhasil melewati angka electoral treshold (ET). Lima partai lokal lainnya, meradang dan tak sangup mencapai ET.  UU Nomor 11/2006 dan Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2008 mengatur untuk lolos dari ancaman ET partai lokal harus memperoleh sekurang-kurangnya 5 persen dari kursi DPRA (minimal 3 kursi) atau memperoleh sekurang-kurangnya 5 persen dari jumlah kursi DPRK yang tersebar sekurang-kurangnya di 1/2 jumlah kab/kota di Aceh.

    Dari sinilah jejak pergeseran lempengan politik terjadi dan menjadi pergesekan yang makin kuat dan keras dan dari waktu ke waktu sehingga menghasilkan patahan  yang menimbulkan getaran dan guncangan yang ringan dan makin kuat dari waktu ke waktu.

    Saking kuatnya pergeseran dan gesekan sementara struktur bangunan politik lokal belum begitu kuat pondasi politiknya maka terjadilah guncangan politik yang mengejutkan. Akibatnya ada banyak kegamangan politik terjadi sehingga menghasilkan bentuk response politik yang gamang pula (panik politik Aceh). Inilah yang kemudian menambah kuatnya guncangan yang dihasilkan oleh gempa politik Aceh.

    Guncangan gempa yang kuat sangat mungkin berpotensi tsunami. Apakah hari ini gempa politik Aceh sudah mengundang tsunami politik? Bisa jadi, insiden-insiden kekerasan dan pengrusakan fasilitas umum adalah bentuk dari tsunami kecil yang dihasilkan dari gempa politik Aceh yang kuat. Ada kekuatan luar Aceh atau luar kepentingan politik lain yang terundang untuk melakukan kerusakan dengan menumpang gempa politik Aceh.

    Moga saja, gempa bumi berkuatan 7,1 skala richter (11/1) memulihkan ingatan elit Aceh kita semua untuk tidak lagi membesarkan daya guncangan gempa politik Aceh. Pergeseran dan gesekan lempengan politik sudah harus diperkecil pada tingkat yang normal saja. Bukan karena kita takut guncangan tapi semata karena struktur banggunan dan keteguhan politik kita masih sangat gamang dan juga gampang meledak-ledak. Mohon dimaklumi dan dipahami.[]