Gagal jadi bupati Aceh Utara, Ayah Panton bidik kursi DPRA?

    29
    0

    SENIMAN Aceh ini bernama Syamsuddin Jalil, tapi lebih dikenal Ayah Panton. Laki-laki asal Blang Mee, Geudong, Samudera, Aceh Utara ini dipanggil Ayah Panton lantaran puluhan tahun menetap di Keude Panton, Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

    Ahli seni budaya dan sejarah Aceh ini sempat meramaikan Pilkada Aceh Utara 2012 lalu. Mendaftar lewat jalur independen (perseorangan), langkah Ayah Panton dan Samsul Bahri terhenti di tengah jalan. Pasangan kandidat bupati-wakil bupati ini gagal memenuhi jumlah dukungan KTP.

    Gagal menjadi bupati Aceh Utara, tak mengendorkan semangat Ayah Panton untuk bercokol di pentas politik. Kali ini, Ketua Lembaga Kanapakad yang konsen di bidang Adat Aceh ini membidik kursi DPR Aceh. Kanapakad ialah singkatan dari Keurukon Aneuk Nanggroe Papah Adat Keuneubah Aceh Darussalam.

    Nama Ayah Panton sebagai Calon Anggota Legislatif Aceh tercatat dalam deretan nama Caleg yang akan diusung Partai Damai Aceh (PDA) pada Pemilu 2014 mendatang.

    Data diperoleh ATJEHPOSTcom dari Sekretaris Jendral PDA, Teungku Khaidir, Senin malam, 4 Maret 2013, Ayah Panton salah satu Caleg untuk DPRA Daerah Pemilihan Aceh Utara dan Lhokseumawe. Selain Ayah Panton, PDA akan mengusung Tgk. Saifullah dan Tgk. Bukhari dari Dapil Lima tersebut.

    Lantas mengapa Ayah Panton memilih “perahu” PDA untuk menuju Parlemen Aceh? “Ada tawaran dari dua partai nasional, tapi saya fokus pada partai lokal karena kita harus memperkuat partai lokal,” kata Ayah Panton, Selasa, 5 Maret 2013.

    Menurut Ayah Panton, DPRA sebagai lembaga yang melahirkan regulasi atau qanun. Itu sebabnya, ia ingin menjadi anggota DPRA. “Untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan Aceh sangat tergantung dari regulasi, saya ingin berperan mempercepat lahirnya regulasi-regulasi yang dibutuhkan Aceh saat ini dan ke depan,” kata mantan tim spesialis alt media di Direktorat Komunikasi BRR Aceh-Nias ini.

    Pertimbangan lainnya, kata Ayah Panton, Aceh pernah jaya di masa silam lantaran memiliki metode yang teruji dan termasyur. “Kenapa tidak kita kembali kepada metode itu, karena yang diinginkan oleh indatu untuk kita sebagai anak cucunya hanya empat, beu malem, beu kaya, beu meutuah dan beu bahgia, tentunya dijabarkan dengan program-program yang tepat,” katanya.[]