FPI Aceh Demo Polresta Banda Aceh

SEJUMLAH anggota Front Pembela Islam (FPI) Aceh menggelar demo di depan Kantor Polresta Banda Aceh, Senin 5 Mei 2014. FPI menuntut kepolisian agar melepaskan simpatisannya yang ditangkap pada Minggu malam kemarin.

Ketua DPD FPI Aceh, Tgk Muslem Al Thaihiri mengatakan simpatisan yang ditangkap itu tidak melakukan anarkis pada saat mencegah maksiat. Menurutnya, dia hanya berteriak sedikit dan kemudian diserempet oleh orang tidak dikenal.

"Kemudian dia menyenggol hingga terjadi perkelahian. Dan dia ditangkap," katanya.

Itu sebabnya, FPI Aceh mendatangi Polresta Banda Aceh untuk memediasi pelaku dan korban. "Proses mediasi sudah diselesaikan secara damai. Rupanya yang disenggol itu intel. Dan mereka sudah mau melakukan perdamaian demi kemaslahatan semuanya," kata dia.

Dia berharap kepada Pemerintah Kota Banda Aceh agar mencabut izin tempat usaha yang melanggar ketentuan syariat Islam, seperti salon atau hotel. Begitupun, dia meminta Satpol PP dan WH Banda Aceh agar berperan aktif dalam mencegah maksiat di Banda Aceh.

"Kalau kita lihat sekarang banyak salon yang belum ditertibkan, dan banyak muda-mudi yang suka duduk di tempat remang-remang. Yang sangat disayangkan di Masjid Raya Baiturrahman, ketika magrib masih ada orang duduk di halaman mesjid tidak salat. Bahkan berpasang-pasangan. Inikan hal yang sangat disayangkan dan memalukan Aceh," ujar Ketua DPD FPI Aceh.

Hal yang sama juga diakui Wakapolresta Banda Aceh, Sugeng Hadi Sutrisno. Dia mengatakan, massa yang ditangkap bukan dari anggota FPI. "Tapi simpatisan yang bekerja di salah satu katering di Banda Aceh," katanya.

Menurut Sugeng, saat itu pelaku baru pulang dari kerja dan melihat anggota FPI Aceh melakukan aksi amar makruf nahi mungkar di kawasan Peunayong Banda Aceh.

"Kemudian dia ikut, diduga memprovokasi. Ketika mau ditangkap oleh anggota, dia melakukan perlawanan yang menyebabkan anggota luka di tangan," ujarnya.

Padahal, sambung Sugeng, kegiatan FPI malam itu turut dipantau oleh pihak kepolisian. "Kita turunkan intel malam itu dengan pakaian preman. Yang pakai pakaian dinas kita turunkan di titik tertentu yang kemungkinan terjadi anarkis. Sebab tugas polisi mengamankan masyarakat jangan sampai terjadi anarkis," katanya lagi.

Terkait penangkapan itu, pihaknya telah memediasi antara pelaku dan korban. Bahkan mereka saling berdamai. "Prosesnya sudah kita lakukan dari kedua belah pihak, tidak ada keberatan melakukan perdamaian. Begitupun, korbanya tidak begitu parah," kata Wakapolresta Banda Aceh.

Dia berharap kepada FPI Aceh, saat melaksanakan penertiban agar tidak arogan. "Ikuti aturan darimana dimulai startnya. Kalau perlu koordinasikan dengan Satpol PP dan WH Banda Aceh dan Pemerintah Kota," katanya.[]

Leave a Reply