Ekonomi Aceh Tumbuh, Investor Asing Menanjak

EMPAT orang anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD- RI) itu duduk di ruang utama tempat Gubernur Aceh biasa menerima tamu di kediamannya. Mereka adalah Farhan Hamid, Abdurrahman BTM, Teuku Bahrum Manyak, dan Mursyid.

Selasa sore pekan lalu, mereka sudah duduk manis menunggu Gubernur Zaini Abdullah selesai melantik pejabat baru di lingkup Pemerintah Aceh. Sambil membunuh waktu, sesekali mereka mengobrol ringan, sebagian lain terlihat sibuk mengutak-atik telepon genggam di tangannya.

Tak lama kemudian, Doto Zaini pun tiba. Usai salat asar, Gubernur menjabat tangan mereka satu per satu. Seolah tak ingin buang waktu, Doto langsung mengajak para tamu berbicara. Serius tapi santai, Gubernur Zaini Abdullah angkat suara.

Selain anggota DPD, pertemuan juga dihadiri sejumlah pejabat, mulai dari pejabat pemerintahan hingga perbankan.

Kepala Kantor BI Perwakilan Aceh, Zulfan Nukman menyampaikan perkembangan ekonomi Aceh selama tahun 2012. Zulfan menyampaikan jika selama tahun 2012, perekonomian Aceh tumbuh sangat baik.  “Pertumbuhan ekonomi di Aceh yang sangat positif” kata Zulfan.

Namun, Zulfan juga tak lupa menyebut banyaknya uang Aceh yang mengalir ke provinsi tetangga. Angkanya mencapai Rp 1,6 triliun. Andai saja uang itu dibelanjakan di Aceh, tentu pertumbuhan ekonomi kian menanjak.

Singkat kata, pertemuan sore itu berlangsung dengan satu kesimpulan: ekonomi Aceh mengalami perbaikan dibanding sebelumnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Perizinan di Badan Investasi dan Promosi Aceh, Jonni mengatakan, keberadaan sejumlah perusahaan asing yang sedang melirik investasi di Aceh menunjukkan mulai tumbuhnya minat investor untuk menanamkan modalnya di Aceh. Salah satunya adalah Edu Mirae Energy Co. Ltd yang merupakan anak Perusahaan PT. Edu Holdings Korea Selatan.

“Rencananya investasi mereka mencapai 500ribu US$ untuk membangun Pabrik Solar Cell di Balohan, Sabang. Kontrak agreement mereka dengan Pemerintah juga sudah dilakukan, saat itu sudah ditanda tangani gubernur,” kata Jonni, Jumat pekan lalu.

Rencananya, Mirae bekerjasama dengan BPKS sebagai mitra. “Apabila kerjasama ini sukses, ke depannya Sabang akan kembali seperti tempo dulu yang terkenal dengan kekayaan dan kemakmurannya,” kata Jonni.

Perusahaan lain yang tercatat mengambil ancang-ancang berinvestasi adalah PT. Senagan Energy. Perusahaan microhydro asal Malaysia itu, kata Jonni, melirik wilayah Nagan Raya sejak tahun 2010. Pada 20 April 2012, mereka kembali melakukan Pendaftaran Penanaman Modal (PPM) dengan rencana investasi mencapai 2 juta US$.

Sedangkan beberapa perusahaan lain yang sudah mendaftarkan diri untuk investasi yaitu, PT. Sakea Prima Minerals. Rencananya perusahaan asal Singapura itu akan menanamkan modal dib idang pertambangan dan perdagangan besar senilai 625 ribu US$.

Ada juga PT. Velcan Ilthabi Hydropower dari Uni Emirat Arab. Rencana investasi mencapai 1.020.000 US$. PT. Energi Alam Raya Semesta dari Seychelles Victoria, perusahaan pembangkit tenaga listrik ini mewacanakan investasi sebesar 34.200.000 US$ di Kabupaten Aceh Barat.

Selain perusahan luar negeri, berdasarkan data yang tercatat pada Bidang Perizinan Badan Investasi dan Promosi Aceh, perusahaan dalam negeri juga mendongkrak pertumbuhan ekonomi bidang investasi. Terdapat delapan puluh perusahaan tanah air dan lokal yang mendapatkan izin invetasi dibumi serambi mekkah.

“Delapan puluh itu ada perusahaan tambang, rumah sakit, SPBU dan lainnya. Ada yang sudah jalan ada juga akan mulai melaksanakan,”ungkap Jonni.

***

Ketertarikan negara asing untuk berinvestasi di Aceh juga ditunjukkan oleh empat negara besar di Skandinavia. Beberapa waktu lalu saat empat Duta Besar di Skandinavia mengunjungi Aceh, 05 Febuari 2013 lalu, selain membicarakan soal perdamaian Aceh yang semakin membaik sebab telah melewati fase kritis, mereka juga turut berbicara soal invetasi.

Gubernur Aceh Zaini Abdullah memberi apresiasi atas rencana investasi negara-negara Skandinavia di Aceh. Dia pun memaparkan perkembangan Aceh setelah perdamaian. "Aceh sudah mengalami peningkatan drastis dibandingkan delapan tahun lalu. Ini menjadi catatan amat penting," kata Zaini.

Sebagai contoh, kata dia, pendapatan per kapita di Aceh naik menjadi 17,6 persen, dari 16,2 persen tahun lalu. Hal sama juga dapat dilihat dari persentase pengangguran. “Memang jika dilihat rata-rata nasional, pengangguran kita masih tinggi. Namun jumlah ini masih lebih baik dari delapan tahun lalu, dan akan lebih baik lagi di tahun-tahun mendatang," kata Zaini optimis.[]

Leave a Reply