Dosen Unimal: Aceh Utara Miliki Potensi Pariwisata Melimpah

    20
    0

    LHOKSEUMAWE – Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh, Rusyidi Abubakar menilai Aceh Utara memiliki potensi sangat besar di sektor pariwisata. Sayangnya belum ada upaya serius dari pemerintah setempat untuk mengembangkan sektor tersebut guna meningkatkan pendapatan asli daerah.

    Kepada ATJEHPOSTcom, Selasa, 27 November 2012, Rusyidi Abubakar menyebutkan, potensi pariwisata yang dimiliki Aceh Utara antara lain wisata alam seperti air terjun Blang Kolam di Kecamatan Kuta Makmur, wisata pemandian Krueng Sawang, Pantai Ulee Reubek Seunuddon, Pantai Lancok Syamtalira Bayu dan Kuala Cangkoi Lapang.

    Selain itu, menurut Rusyidi Abubakar, wisata sejarah di kawasan bekas kerajaan Samudra Pasai di Kecamatan Samudra. “Juga ada potensi wisata religi seperti sejumlah dayah di Aceh Utara yang memiliki daya tarik tersendiri,” katanya.

    Di sekitar lokasi wisata alam seperti air terjun Blang Kolam, kata Rusyidi Abubakar, juga bisa dibuka kebun binatang, wisata lingkungan, wisata buatan seperti panjat tebing. “Bisa pula dikembangkan tanaman durian dan langsat yang asli dari kawasan setempat, tidak dimiliki daerah lain,” kata Rusyidi yang tengah menyelesaikan program doktor ekonomi lingkungan di USU Medan.

    Semua potensi wisata tersebut, tambah Rusyidi, akan mendatangkan PAD dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat, apabila pemerintah daerah mampu mengelola dengan baik. “Kalangan dunia usaha juga bisa mengambil peran menggerakkan sektor wisata, jangan hanya terpaku pada sektor bina marga dan cipta karya,” katanya.

    “Pariwsata itu salah satu kebutuhan masyarakat, dia pasti menjadi incaran banyak orang. Lihat saja selama ini, sebagian orang Aceh Utara membawa keluarganya ke luar Aceh untuk berlibur, mengajak anak-anaknya melihat kebun binatang karena di daerah kita tidak ada yang seperti itu,” kata Rusyidi.

    Mengenai lokasi wisata alam rentan terjadinya pelanggaran syariat Islam, menurut Rusyidi, hal itu masih bisa dicarikan solusi. Oleh sebab itu, kata dia, semua stake holder perlu duduk bersama.

    “Jangan seperti selama ini, kesannya semua jalan sendiri-sendiri. Apakah Dinas Syariat Islam sudah mengambil peran melakukan pembinaan, begitu juga instansi terkait lainnya, apa yang sudah dilakukan untuk mencegah pelanggaran syariat Islam di lokasi wisata alam,” katanya.

    Dia berharap semua pihak tidak selalu melihat lokasi wisata dari sudut pandang negatif. Apabila pola pikir positif dikedepankan, kata dia, tentu ada solusi untuk mengatasi hal yang tidak baik. “Kalau tidak, apa maknanya Visit Aceh Years 2013 yang sudah dicanangkan Pemerintah Aceh. Program itu bukan hanya untuk Banda Aceh, tapi juga Aceh Utara dan daerah lain,” kata Rusyidi.

    Rusyidi menaruh harapan bahwa Aceh Utara di bawah kepemimpinan Muhammad Thaib atau Cek Mad akan melakukan terobosan untuk mengembangkan sektor pariwisata yang selama ini tidak dimanfaatkan. “Cek Mad punya latar belakang pengusaha, tentu beliau paham bagaimana menangkap potensi sektor ini untuk kepentingan daerah dan masyarakat,” katanya.[]