Demam Hijab Landa Inggris

Sumreen Farooq sering diperlakukan tidak sopan di jalanan London. Untuk itu, saat berusia 18 tahun ia memutuskan untuk mengambil sikap yakni dengan mulai mengenakan hijab.

Farooq merupakan salah satu dari banyak perempuan muslim muda di Inggris yang memilih mengenakan hijab, untuk menunjukkan identitas agamanya di sekitar lingkungan mereka. Meski akhir-akhir ini kekerasan terhadap umat Islam yang jelas-jelas menunjukkan identitas mereka meningkat.

Dalam berbagai studi dan wawancara, kaum perempuan di negara-negara minoritas muslim memakai hijab atas kehendak mereka sendiri. Sementara pada umumnya, media Barat selalu menggambarkan bahwa perempuan muslim dipaksa keluarga atau suami mereka untuk memakai hijab.

Sebanyak di bawah lima persen dari 63 juta penduduk Inggris adalah muslim. Namun tidak ada angka resmi tentang berapa banyak perempuan muslim yang memakai hijab dan niqab.

Tapi tampaknya dalam beberapa tahun terakhir. Perempuan muda yang memakai hijab untuk menegaskan identitas muslim mereka dan menampilkannya keyakinan mereka secara terbuka, merasa diserang.

Shanza Ali, 25 tahun, mengatakan, ibunya yang berasal dari Pakistan tak pernah memakai hijab. Namun Shanza dan adiknya, Sunda, memutuskan untuk memakai hijab saat berusia 20 tahun. "Saya memutuskan untuk membuat komitmen sebagai seorang muslim dan saya tidak pernah berhenti sejak itu," katanya kepada Reuters.

"Kadang-kadang Anda lupa bahwa Anda menutupi rambut Anda, tetapi Anda tidak pernah lupa mengapa Anda memakainya. Yang perlu diingat, karakter harus lebih penting daripada penampilan."

Shaista Gohir, ketua Jaringan Perempuan Muslim Inggris, mengatakan lebih banyak perempuan memakai hijab sejak serangan di Amerika Serikat pada 11 September 2001 dan di London pada 7 Juli 2005. Meski mereka di bawah pengawasan politik dan publik yang lebih besar.

"Bagi beberapa perempuan muda itu adalah cara untuk menunjukkan mereka berbeda dan mereka adalah muslim," katanya kepada Reuters. Perempuan yang secara terbuka menonjolkan identitas agama mereka dengan mengenakan atribut keagamaan akan menjadi target pengawasan publik.

Sebuah survei tentang jumlah serangan terhadap muslim di Inggris oleh kelompok Tell MAMA (Measuring Anti-Muslim Attacks) sungguh mencengangkan.

Selama tahun pertama pemantauan, Tell MAMA mencatat 584 insiden anti-muslim antara 1 April 2012 dan 30 April 2013, dengan sekitar 74 persen dari insiden itu terjadi secara online. Secara fisik, enam dari 10 (58 persen) merupakan serangan terhadap perempuan muslim. Dan 80 persen merupakan serangan terhadap perempuan muslim yang mengenakan hijab dan niqab. Jumlah itu meningkat menjadi 734 insiden selama 10 bulan dari Mary 2013 sampai Februari 2014.

Sebuah studi tahun lalu oleh University of Birmingham menemukan lebih dari 15 tahun perempuan muslim telah menjadi target anti-muslim berulang kali. Kendati demikian, tak satu pun dari perempuan yang diserang melepas hijabnya.

Sebuah studi internasional pada tahun 2012, yang dilakukan di Austria, India, Indonesia dan Inggris, menemukan bahwa mayoritas perempuan memakai hijab karena alasan kenyamanan, fashion, dan kesederhanaan.

Tapi dalam masyarakat minoritas, tanggapan perempuan lebih beragam. Mulai dari argumen agama untuk kenyamanan hingga melawan stereotip dan diskriminasi.

"Bagi perempuan di kelompok minoritas, hijab adalah cara untuk menegaskan identitas budaya mereka. Sebagai cara mengatasi pandangan negatif tentang komunitas muslim secara politik," kata peneliti Caroline Howarth, dari London School of Economics.

"Ini jelas-jelas bertentangan dengan pandangan negara-negara non-muslim di Barat bahwa hijab adalah simbol fundamentalisme agama dan penindasan patriarkal." | sumber: dream.co.id

Leave a Reply