Cerita Siswa Baru Masuk SD

    17
    0

    SEORANG perempuan gendut dan anak kecil melesat masuk ke kompleks Sekolah Dasar Negeri 1 Muara Dua, di Cunda, Lhokseumawe, pukul 07.15 WIB, Senin, 4 Agustus 2014. Di kompleks SD itu ramai perempuan dan pria dewasa berbaur bersama anak-anak berseragam putih merah.

    “Hampir saja terlambat,” kata perempuan berbadan lebar dari Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe, itu kepada lima perempuan yang duduk menjuntai di kursi beton di bawah sebatang pohon dalam kompeks SD.

    Kak Jah, begitu perempuan itu akrab disapa. Ia mengantar anaknya, Raihan, yang mulai hari ini menjadi siswa baru SD favorit di Kecamatan Muara Dua. “Tadi di rumah, si Raihan marah-marah. Katanya kenapa mamak lama kali berangkat ke sekolah,” ujar ibu lima anak ini kepada saya, tak lama setelah kami bersalaman.

    Biasanya, Raihan bangun tidur pukul 07.00, paling cepat 06.30 WIB. “Bulan puasa kemarin, saya kasih bangun sahur, dia nggak mau, katanya nggak saggup bangun. Tadi dia sudah bangun dari jam 5 subuh karena tidak ingin terlambat ke sekolah. Sebentar-bentar dilihat jam dinding, maklum hari pertama masuk SD,” kata Kak Jah riang gembira.

    Tepat pukul 07.30 WIB, bel sekolah melengking. Dua setengah detik kemudian terdengar suara lewat pengeras suara, “Ayo anak-anak, bentuk barisan upacara”. Ratusan siswa menyerbu ke halaman sekolah membentuk barisan sesuai kelas masing-masing. “Anak kelas satu bentuk barisan paling ujung, dekat ruangan dewan guru,” seorang guru memberi instruksi.

    Kepala SDN 1 Muara Dua, Muliadi, turut mengarahkan para siswa lewat pengeras suara agar membentuk barisan rapi. Ia kemudian meminta para walimurid menjauh dari lokasi upacara. Sebagian orangtua dari siswa baru tetap menempel di sisi anaknya.

    Muliadi dan sejumlah guru secara bergantian meminta walimurid menjauh. Mulanya imbauan disampaikan lemah lembut dalam bahasa Indonesia. Lantaran banyak walimurid mengabaikan, guru mulai meninggikan suaranya dan memakai bahasa Aceh campur bahasa Indonesia. 

    “Buk, hana payah neu atoe le droe neuh, katroh bak SD Sa Muara Dua, jeut kamoe atoe, kamoe rame di sinoe,” ujar seorang guru perempuan.

    Ia kemudian berkata, “Buk, jangan ada lagi di tiang, jangan berdiri di teras”.

    “Nye han neu deungo, kamoe jok pulang aneuk droe neuh”.

    “Ibuk depan kelas lima jangan lagi di situ. Capek deh”.

    “Buk, pak, maaf, ya, mohon pindah dari tempat itu.”

    “Maksud kami, anak-anak ibuk jangan lihat ibuk, nanti manja”.

    “Mulai besok, ibuk hanya mengantar sampai pintu pagar, nggak usah takut buk, kami rame di sini”.

    Guru itu tak lagi “merepet” setelah semua walimurid menjauh ke pintu masuk kompleks SD.

    Kepala sekolah, Muliadi kemudian memberi instruksi kepada para siswa.

    “Lancang depan, grak”.

    “Tegak, grak”.

    “Istirahat di tempat, grak”.

    “Anak-anak kelas satu sudah pintar, ya, sudah tahu baris-berbaris”.

    Muliadi lantas berpidato. “Mulai hari ini di seluruh Indonesia menjalankan Kurikulum 2013, kita malah sudah laksanakan sejak Januari kemarin,” katanya.

    Ia turut menjelaskan tentang proses belajar mengajar di sekolah itu dan kualitas para guru. “Guru-guru SD ini sudah ditatar di tingkat Kota Lhokseumawe hingga provinsi, sudah matang”. Soal disiplin dan pentingnya menjaga kebersihan sekolah juga dipaparkan.

    Selesai upacara pukul 08.00 WIB, sejumlah guru mengatur pembagian ruang kelas untuk siswa baru. Sebanyak 90 siswa kelas satu dibagi dalam tiga ruangan belajar.

    Guru kelas kemudian mulai mengajar. Masing-masing guru punya cara tersendiri untuk akrab dengan siswa baru. Guru kelas 1b, misalnya, mengajak siswanya membaca doa, setelah itu bernyanyi “balon ku ada lima”. Sebagian besar siswa yang bersikap dingin dan kaku seperti batu, kini tampak ceria. Beberapa siswa diminta tampil ke depan menyanyikan lagu kesukaannya. Ada yang menyanyikan “potong bebek angsa”, ada pula lagu “aku sayang ibu”, dan lainnya.

    ***  

    Persis pukul 09.00 WIB, Muliadi memberi instruksi lewat pengeras suara agar walimurid kelas satu masuk ke ruangan aula. “Rapat walimurid segera kita mulai,” katanya.

    Kepala sekolah ini membuka pertemuan dengan memuji kualitas guru kelas satu. “Sudah profesional, sebab (mengajar siswa) kelas satu lebih berat dibanding kelas lain. Kalau saya diminta masukan oleh pemerintah, saya usulkan guru kelas satu, layaknya dua kali lipat gajinya,” ujar Muliadi.

    “Apalagi kontrak saya dengan guru kelas satu, enam bulan (siswa) harus bisa membaca,” kata dia. “SDN 1 Muara Dua ini harus unggul, maka mohon dukungan semua walimurid, itu wajib”.

    Muliadi mengatakan, salah satu programnya tahun ini, saban hari Sabtu khusus belajar ekstra kurikuler atau ekskul. “Bakat, minat, anak-anak disalurkan hari Sabtu, tidak ada belajar Matematika, IPA, dan lainnya”.

    “Ekskulnya  IT, komputer. Kita sudah ada lab komputer bantuan PT Arun. Di situ nanti akan diajarkan anak-anak secara bergiliran,” katanya.

    Selain IT, Muliadi menyebutkan, bidang kesenian. “Tarian kreasi baru, ranup lampuan, dan tarian tradisional lainnya akan diajarkan sesuai minat dan bakat anak”.

    “Bidang olahraga, kita menang di tingkat kota (Lhokseumawe), jatuh di provinsi. Mudah-mudahan ke depan anak-anak tembus ke nasional,” kata dia lagi. “Yang sudah unggul kita di drum band, kita juara dua di Banda Aceh, dan di Sumatera”.

    Intinya, kata Muliadi, walimurid jangan kaget jika hari Sabtu anak-anak tidak membawa buku ke sekolah, sebab dilatih berolahraga sesuai bakat dan minatnya. “Harus didukung, kalau tidak maka tidak akan jalan”.

    Muliadi kemudian mengulang tentang Kurikulum 2013 yang berlaku mulai tahun ini. “Ini meringankan walimurid, satu buku lima pelajaran. Dulu banyak buku, jadinya satu tronton, tas anak-anak cepat koyak karena berat,” ujarnya.

    “Buku paket sudah kami siapkan, sedang distempel. Bapak ibu cukup siapkan tas. Buku cuma satu. Tidak ada lagi hafalan, tapi mengasah nalar anak-anak,” kata Muliadi.

    ***

    Pukul 10.00 WIB, bersamaan selesainya rapat walimurid, siswa kelas satu dibolehkan pulang, satu jam lebih cepat lantaran hari pertama. Anak-anak pulang bersama orangtuanya.

    Kak Jah sempat kehilangan Raihan. Warga Panggoi terlihat panik sebab tidak menemukan buah hatinya di ruangan kelas. Tak lama, Kak Jah menemukan Raihan dekat kantin sekolah tengah melahap siomay. Baju putih masih baru yang membungkus siswa baru ini berlumur saos siomay.

    Wajah Kak Jah memerah semerah saos siomay. “That parah kah Raihan, baro si uroe ka jak sikula ka laboe bajee,” kata Kak Jah. Raihan membalas dengan senyuman tanpa dosa.[]