Cerita Masjid Asal di Gayo Lues dan Malikussaleh

    14
    0

    TIDAK ada yang tahu persis kapan masjid Asal di Desa Penampaan, lebih kurang berjarak  2 km dari kota Blang Kejeren, Gayo Lues, dibangun. Namun arkeolog Jepang–kata warga–mencatat sekitar tahun 1214 Masehi, jauh sebelum Kerajaan Taman Iskandar berdiri.

    Mendapati masjid itu kita melalui jalan Desa Penampaan yang cuma cukup untuk sebuah mobil mini bus. Berada diantara rumah penduduk, ada sebuah masjid berdiri. Masjid ini cukup besar dan seputarannya ikut dipagar.

    Tapi tunggu dulu, itulah masjid yang di bangun belakangan. Sedangkan bangunan Masjid Asal berada di dalamnya, dimana halaman mesjid tersebut berada di dalam masjid besar itu.

    Menurut cerita seorang tokoh desa Penampaan Muhammad Nasir, sejarah Masjid Asal bermula dari Orang tua Syech Ali Muhammad dari Jazirah Arab datang ke Aceh dan bertemu dengan ulama Arab lainnya di Syech Ismail, ulama yang mensyahadatkan Sultan Malikussaleh di Pasee dan merupakan sultan Islam pertama di Aceh.

    Rombongan Jazirah Arab, termasuk seorang perempuan yang menyusuri daerah Pase sampai ke Belang Kejeren sekitar tahun 15-an Masehi.

    "Jadi sebelum Sultan Iskandar Muda Mesjid Asal ini sudah ada, lebih tua dari Masjid Baiturrahman Banda Aceh," kata H Muhammad Nasir.

    Jadi, katanya, yang membangun masjid ini termasuk Syech Ali Muhammad dari Jazirah Arab. Kecuali ukiran yang terdapat di setiap sisi papan seperti pintu dan beberapa buah papan di depan mesjid, itu tidak diketahui.

    "Itu harus dipelajari lagi, apalagi seusia saya ini," katanya.

    Sementara, H Muhammad Nasir menyebutkan kalau nama Desa Penampaan ini sendiri berasal dari niat seorang janda kaya dan cantik dari Arab yang ingin membangun Masjid. Lalu dia sampai di desa dan meminta kepada masyarakat untuk membuat masjid, tetapi ditolak sebelum perempuan tersebut menunjukan biaya untuk membangunnya. dan kemudian perempaun itupun menampakan keuangan anggaran untuk masjid tersebut, sejak itulah desa ini disebut desa "penampakan".

    "Jadi penampakan itu berasal dari adanya keterbukaan dimasa itu," ujar H Muhammad Nasir.

    Dan satu halyang patut di catat, hingga kini, walau ada masjid utama, Masjid Asal masih banyak dikunjungi orang melakukan shalat, bahkan banyak masyarakat datang secara khusus untuk berjamaah di mesjid ini, namun masjid hanya menampung sekitar 50 jemaah saja.

    Masjid Asal dibangun setengah tanah liat dan setengah papap. Atapnya terbuat dari daun rumbia, ditengahnya menjulang sebuah kubah munggil yang ditopang oleh sebuah kayu. Kayu tersebut bergantung, namun sekarang sudah diturunkan karena dianggap sudah terlalu tua dan rapuh.

    Di dalam mesjid baru terdapat sebuah sumur dengan  kedalaman sekitar 7 meter. Sumur ini oleh masyarakat kampung diyakini tidak pernah mengalami kekeringan. sekarang dari sumur ini ditarik melalui sebuah kran ke luar, tempat mengambil wudhu masjid.

    Diantara papan dinding di depan  sebelah kiri pintu, terdapat sebuah lubang kecil. Lubang itu untuk mereka yang ingin memberi sumbangan apabila tidak ada orang, maka melalui lubang tersebut.

    Sedangkan di samping kanan Masjid Asal, ada sebuah sungai yang kini hanya dipakai oleh penduduk untuk mencuci, karena masjid tidak menyediakan jalan menuju sungai. Untuk melihat foto-foto masjid klik link ini,[] (mrd)