Cara Remaja Muslim Amerika Berpuasa di Musim Panas

    25
    0

    NEW YORK-Maleke Nabbus, 14 tahun, senang bermain bola basket dengan para sepupunya selama liburan musim panas bahkan saat mereka berpuasa Ramadan. Menurut dia, olahraga di saat puasa tidaklah berat.

    “Tidak seberat itu, kok. Hanya terkadang kita tidak dapat bermain terlalu lama, paling sekitar satu jam,” ujarnya.

    Maleke adalah satu dari jutaan Muslim di dunia yang berpuasa pada bulan Ramadan. Di belahan bumi utara, saat ini adalah hari-hari terpanjang dan terpanas sepanjang tahun. Sepupu Maleke, AdeebBaiou, 17 tahun, juga berbermain dalam cabang-cabang olahraga yang kompetitif dan intens.

    Ia, seperti banyak atlet Muslim lainnya, memilih berbuka puasa saat musim pertandingan. “Tantangan terbesar adalah tidak mengalami dehidrasi dan tidak dapat minum,” ujar Adeeb.

    Namun, ada untungnya juga berpuasa di musim panas, menurut adik perempuannya, Sabrine, yang merasa lebih mudah menjalani Ramadan karena sedang libur sekolah. “Saya senang karena tidak perlu bangun pagi. Siang hari memang lebih panjang, tapi kita bisa tidur sampai sore,” katanya.

    Selama musim panas ini, Sabrine bekerja di kafe lokal. Ia harus berada di antara orang-orang yang makan dan minum sementara ia berpuasa. “Sedikit sulit bagi orang yang melayani orang lain makan dan minum. Susah juga melihat mereka, tapi saya mencoba tidak memikirkannya,” kata Sabrine.

    Serage Gerbbi, 15 tahun, mengatakan bahwa kawan-kawannya yang non-Muslim heran, bagaimana ia bisa tetap berpuasa. “Awalnya mereka kaget dan berkata, ‘Kok bisa kamu tidak minum seharian?’

    "Mereka sangat mendukung dan terkadang sungkan makan di depan saya, tapi saya baik-baik saja,” kata Gerbbi.

    Sementara Gerbbi dan kawan-kawannya merasa lapar, haus dan lelah pada waktu berpuasa, mereka paham mengapa mereka melakukannya. “Anda akan merasa lebih dekat dengan agama Anda, lebih dekat dengan Tuhan,” ujarnya

    Meski anak-anak tidak diwajibkan berpuasa di bulan Ramadan, Nourene Nabbus, 9 tahun, berpuasa tahun ini, yang merupakan kedua kalinya. “Saya ingin berpuasa karena saya ingin tahu apa yang dirasakan ayah dan ibu,” ujarnya.

    Ibu Nourene, WafaaElmahgob, senang putrinya ikut menjalankan ibadah. “Ia ingin melakukannya. Ketika saya mengatakan bahwa ia boleh berpuasa setengah hari untuk latihan, karena siang hari berjalan panjang, ia bersikeras puasa sampai sehari penuh juga," kata Nourene.

    Elmahgob mendapatkan kesenangan dengan melakukan hal-hal yang biasa, seperti memasak, selama bulan yang spesial ini. “Pada bulan yang lain, kita menyiapkan makanan dengan buru-buru dan makan dengan cepat. Namun, berbeda saat Ramadan, karena Anda menikmatinya. Ini juga waktu bagi saya untuk menelepon saudara-saudara perempuan saya di luar negeri dan meminta resep-resep dan hal baru. Sangat menyenangkan.” | sumber:republika