Bara di Kota Dingin

    24
    0

    HARI menjelang tengah malam di Kota Takengon, Aceh Tengah. Di tengah hawa dingin yang membekap, sekelompok orang merangsek ke kantor Partai Aceh di Simpang Wiriji, Takengon. Sebagian mengenakan seragam ala militer. Belakangan, mereka diketahui sebagai anggota organisasi massa Pembela Tanah Air (PETA).

    Massa yang beringas kemudian membongkar paksa pintu kantor yang terkunci. Masuk ke dalam, mereka mengobrak-abrik isi kantor, lalu membakarnya. Tak hanya itu, mereka juga merusak atribut Partai Aceh yang ditemui di sepanjang jalan. Sebuah mobil taft berstiker Partai Aceh juga tak luput dari aksi perusakan. Malam itu, Selasa, 18 Maret, Takengon mencekam.

    Tak hanya di Takengon, Kantor Dewan Pimpinan Sagoe Weh Pesam, Bener Meriah, dan Pos Koordinasi Caleg DPRK Partai Aceh juga jadi sasaran perusakan. Akibatnya, tribun depan, alat peraga kampanye, dan inventaris kantor turut dihancurkan.

    “Ada sekelompok orang yang mengatasnamakan Pembela Tanah Air atau PETA datang dan menghancurkan kantor kita,” kata Joni Suryawan, Juru Bicara Partai Aceh Wilayah Aceh Tengah keesokan harinya.

    Selain di Weh Pesam, perusakan alat peraga dan fasilitas kampanye juga terjadi di Gampông Reronga, Kecamatan Gajah Putih, Bener Meriah.

    "Kita melihat hal ini seperti direncanakan dan ada koordinasi karena tidak hanya terjadi di sini. Berdasarkan laporan, perusakan kantor PA juga terjadi di beberapa lokasi," kata Joni. Nada suaranya seperti menahan emosi.

    "Pihak penegak hukum pun seperti tidak bekerja, jangan salahkan kami kalau ada aksi balasan," katanya.

    Apa yang dikhawatirkan akhirnya terjadi juga. Keesokan harinya, ratusan kader Partai Aceh turun ke jalan. Yang dicari adalah Tagore Abubakar. Mantan Bupati Bener Meriah yang juga Ketua PETA se-Aceh itu diyakini oleh massa Partai Aceh sebagai orang yang menyulut kerusuhan sehingga berdampak pada perusakan kantor Partai Aceh.

    PETA adalah organisasi yang kerap berhadapan dengan mantan anggota GAM. Bahkan, semasa konflik, PETA ikut memburu anggota GAM. Namun begitu, pendekatan yang dilakukan Partai Aceh meluluhkan hati sebagian petinggi PETA.

    Pada hari sebelum pembakaran kantor Partai Aceh, sejumlah organisasi massa di Aceh Tengah menyatakan mendukung Partai Aceh, termasuk sejumlah anggota PETA Aceh Tengah di bawah pimpinan Bambang Irawan. Ikrar itu dilakukan di kantor KPPA Aceh Tengah.

    “Kami memberikan dukungan kepada Partai Aceh, kepada pemerintah yang sah. Saya tidak berbicara tentang merdeka atau tentang ALA, saya berbicara tentang ekonomi, bagaimana wilayah tengah diperhatikan ekonomi, jangan dianaktirikan,” kata Bambang Irawan hari itu.

    Diduga, keinginan Bambang untuk bahu-membahu membangun Aceh Tengah ditentang sebagian petinggi lain, termasuk Tagore Abubakar.  

    Itu sebabnya, ketika aksi balasan dari massa Partai Aceh terjadi, yang dicari adalah Tagore. Tak menemukan Tagore, massa yang naik pitam merusak dan membakar kilang padi miliknya. Posko pemenangan Tagore yang maju sebagai caleg dari PDIP untuk DPR RI juga tak luput dari sasaran serangan balasan.

    Tak lama usai serangan balasan itu, Ketua Partai Aceh Wilayah Aceh Tengah, Renggali, menyatakan siap bertanggung jawab. Apalagi, kata dia, saat melakukan aksi balasan, hampir semua massa memakai atribut Partai Aceh.  “Itu menunjukkan kita tidak menyembunyikan identitas. Kita siap bertanggung jawab,” kata Renggali.

    Untuk meredam suasana agar tidak lagi memanas, kedua kubu kemudian menggelar pertemuan di gedung DPRK Bener Meriah. Turut hadir anggota KIP dan Panwaslu dari Aceh Tengah dan Bener Meriah. Selain membahas langkah untuk meredam meluasnya kericuhan, disepakati agar polisi melakukan proses hukum terhadap dalang dan pelaku kerusuhan.

    Dari Banda Aceh, Dewan Pimpinan Pusat Partai Aceh mengatakan aksi balasan yang dilakukan massa Partai Aceh adalah akibat lambannya respons dari aparat penegak hukum menangkap provokator yang diduga berinisial Ir. TA. Yang bersangkutan diduga kuat telah memprovokasi massa organisasi Pembela Tanah Air (PETA) untuk membakar kantor Partai Aceh di wilayah Aceh Tengah.

    "Kita berharap pihak aparat penegak hukum segera menangkap provokator tersebut. Akibat tindakan provokator tersebut masyarakat Aceh Tengah dan Bener Meriah resah dan diwajibkan ronda malam, situasi keamanan mencekam dan mengarah ke arah konflik horizontal," kata Kamaruddin, Wakil Ketua V Partai Aceh.

    Dari Lhokseumawe, Ketua Umum Partai Aceh Muzakir Manaf yang ditanyai wartawan mengatakan, insiden itu tidak akan terjadi jika ada rasa saling menghormati.

    "Seharusnya kita ciptakan kebersamaan, jadi kita hormatilah orang lain,” ujar Mualem menjawab para wartawan usai pertemuan dengan pimpinan STAIN Malikussaleh di Lhokseumawe, Kamis, 20 Maret 2014. 

    Mualem pun mengimbau semua pihak di dataran tinggi Gayo menciptakan situasi yang kondusif.  Sebab, yang terpenting saat ini adalah saling menghormati dan bersatu membangun Aceh agar semua masyarakat memperoleh kesejahteraan.

    Ditanya lebih lanjut soal penyebab terjadinya kerusuhan tersebut, Mualem mengatakan, “Ada oknum-oknum yang mungkin tidak senang kepada PA (Partai Aceh), itu yang menjadi alasan bagi mereka.”

    Mualem kemudian mengimbau semua pihak bersatu dan bahu-membahu bersama Pemerintah Aceh untuk membangun daerah ini ke arah lebih baik. “Kita ingin membangun Aceh, saya rasa tujuan kita semua sama, membangun Aceh. Cuma caranya saja yang berbeda,” katanya.

    “Saya mengimbau supaya kita sama-samalah membangun Aceh, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan membangun daerah kita,” ujar Mualem.

    Wakil Ketua Partai Aceh Kamaruddin Abubakar yang biasa disapa Abu Razak juga menyesalkan bentrokan itu. Menurutnya, jika ada massa yang marah karena ada pernyataan juru kampanye PA yang dianggap menyudutkan, seharusnya dilaporkan ke Bawaslu atau polisi. “Jadi tidak perlu main hakim sendiri. Kita hidup di negara hukum,” ujarnya. (Klik: Abu Razak: Kita Percaya Polisi)

    Polisi sebenarnya sudah sempat meminta keterangan dari Tagore Abubakar, yang menurut massa Partai Aceh sebagai dalang kerusuhan. Namun, Kapolres Aceh Tengah AKBP Artanto SiK memastikan Tagore bukan ditangkap, melainkan diamankan.

    Hingga Sabtu pekan lalu, Kapolres Aceh Tengah belum dapat memastikan bahwa Tagore bakal menjadi tersangka atau tidak. "Kita akan proses dulu untuk menentukan hal itu," katanya saat dihubungi ATJEHPOST.com.

    Abu Razak yakin, polisi akan bekerja maksimal menuntaskan kasus ini, termasuk menangkap dalang kerusuhan. Sebab jika tidak, bukan tak mungkin, bara kembali menyala di kota dingin itu. []