Appenzell, sisi lain Swiss

    16
    0

    HARI masih pagi, sekitar pukul 08.30, ketika kami tiba di sebuah stasiun kereta api pada akhir Agustus lalu. Seorang perempuan belia berpakaian warna-warni dengan rambut berpilin menyambut sekaligus mengantar kami ke pusat kota yang berjarak sekitar 200 meter. Inilah Appenzell, kota kecil di bagian timur Swiss.

    Kami singgah di Appenzell beberapa hari dalam acara International Media Trip ”Living Traditions”. Sebanyak 140 jurnalis dari berbagai negara secara maraton berdatangan dan mendaftar kehadirannya di konter yang sudah disiapkan di tengah pusat pertokoan. Rombongan kami—sekitar 30 wartawan—adalah kelompok pertama yang datang. Kendati tempat pendaftaran berada di pusat pertokoan dan jam menunjukkan hampir pukul 09.00, suasana sekitar terasa sunyi. Mungkinkah karena toko-toko dan tempat makan belum buka?

    Appenzell, nama tempat yang kami singgahi, memang terasa sepi, bahkan pada jam makan siang. Ke mana mereka?

    Dengan keseluruhan penduduk sekitar 16.000 orang yang mendiami kawasan seluas 172 kilometer persegi, pantas saja kalau Appenzelland terasa kosong. ”Untung” di sana-sini di lahan-lahan perbukitan sesekali terlihat sapi yang menurut data jumlahnya hanya selisih sedikit dengan jumlah penduduk, yakni 15.500 ekor.

    Dalam suasana seperti ini, rombongan kami yang kebanyakan datang dari kota besar di Asia menjadi merasa bepergian begitu jauh. Appenzell bak jauh dari jangkauan kami. Padahal, jarak Appenzell-Zurich, tempat kami mendarat, sebenarnya relatif tak jauh. Naik kereta dari bandara dengan sekali pindah kereta hanya perlu waktu sekitar 40 menit.

    Bisa jadi hal ini karena Appenzell sendiri yang asing bagi kami. Bicara Swiss, tempat ini nyaris jarang disebut sebagaimana kota atau tempat-tempat lain, seperti Geneva, Zurich, Bern, Lucern, Laussane, atau Montreaux.

    Dewan Pariwisata Swiss pada tahun ini rupanya mempromosikan Appenzell secara besar-besaran. Itu sebabnya mereka mengundang 140 wartawan dari 33 negara untuk menghadiri konvensi sekaligus mengeksplorasi tradisi yang masih hidup di Appenzelland.

    ”Tradisi yang masih hidup adalah bagian dari kebudayaan. Tradisi yang masih hidup membutuhkan perhatian kami,” begitu kata Daniela Bar, Kepala Komunikasi Media Internasional di Dewan Pariwisata Swiss, saat konvensi yang dihadiri 140 wartawan.

    Swiss mengusung tema ”Switzerland-Get Natural” untuk menjual wisata negeri berpenduduk delapan juta jiwa ini. Appenzell yang masyarakatnya masih kuat memegang tradisi dalam hal menari, menyanyi, bertani, berdemokrasi, dan lainnya, tentu saja mempromosikan tema senada, get natural.

    Yang mengesankan, tiap bagian seperti dibuat dengan sangat sungguh-sungguh. Simak misalnya, ”Appenzell. Merupakan Swiss yang bahkan lebih dari Swiss yang Anda pikirkan”. Atau ”Lebih dari sekadar piknik, sebuah pengalaman”.

    Sebagai orang yang datang dari kota padat Jakarta, Appenzell bagai oase untuk sejenak menjauh dari segala hiruk-pikuk dan kesibukan kota yang seperti tak pernah berhenti dieksploitasi. Beberapa kali naik kereta dari hotel ke pusat kota, kami hanya menemukan dua-tiga orang saja yang naik dengan tujuan yang sama.

    Biosfer, Entlebuch

    Program kami di kota kecil bernama Entlebuch sedikit membingungkan. Kami ikut saja arahan pemandu kami yang akrab kami panggil Alfonso. Dengan naik kereta api dan berpindah di tiga stasiun, termasuk di Lucerne, kami tiba di Entlebuch. Hotel tempat kami menginap cukup sederhana, mirip hotel kelas melati. Namun, kemudian, kami harus acungi jempol karena makanannya yang lezat.

    Entlebuch tahun 2001 dinobatkan sebagai reservasi biosfer pertama di Swiss berdasarkan keputusan UNESCO. Wilayah seluas 400 kilometer persegi ini merupakan salah satu wilayah tercantik dan unik. Di sini terdapat puncak bersalju sepanjang tahun, yang bisa didatangi dengan menaiki kereta kabel. Taman nasional pertama di Switzerland terdapat di wilayah ini. Hamparan semak dan rawa dipertahankan hampir pada seperempat wilayah ini. Untuk mempertahankan keaslian, warga setempat mendorong lahirnya produk-produk lokal.

    Kami sempat dikenalkan dengan permainan golf Swiss atau yang nama aslinya adalah hornussen. Steven yang siang itu mendemonstrasikan permainan tradisi ini sudah sejak kanak-kanak bergabung dalam klub yang anggotanya terdiri dari berbagai usia. Permainan ini masih cukup banyak penggemarnya, paling tidak saat ini masih ada sekitar 130 klub di seantero Swiss. ”Tak ada kata bosan,” ujar Gregor Felder, anggota klub yang kini berusia 78 tahun.

    Perjalanan di Entlebuch tak sekadar perjalanan cuci mata. Ketika kami dibawa ke tempat pembuatan arang tradisional, kami mendapat pelajaran sangat menarik dari sebuah proses pembuatan arang yang rumit, dari awal mendapatkan kayu, memilah, membangun tumpukan, sampai proses pengarangan yang memakan waktu berminggu-minggu.

    Willy Renggli, nama petani arang tersebut, terpaksa harus membangun pondok dekat tumpukan arang saat proses pembakaran berlangsung. Tengah malam dia harus bangun dan melakukan pemeriksaan sampai seluruh proses pembakaran selesai. Kerja rutin ini sudah dilakukan puluhan tahun. Dan faktanya, Willy mampu menghidupi keluarga di rumahnya yang cukup besar dan indah beberapa ratus meter dari tempat pembuatan arang.

    Namun, seperti di bidang lainnya, Willy ternyata sesekali gentar menjalankan pekerjaannya. ”Terutama pada musim dingin dan badai kencang, saya bertanya kepada diri sendiri, akankah saya tetap bisa bertahan?” kata Willy yang bertubuh cukup tegap.

    Sambil mendengarkan penjelasannya, kami membayangkan cuaca superdingin, dengan badai di tempat yang langka penghuni itu. Kalau sudah begini, rumput tetangga tak selalu lebih indah.| sumber : kompas