Anak penjahit miskin yang ingin jadi tentara

    20
    0

    KAKI perempuan itu cekatan menginjak pedal mesin jahit. Ia tengah menyelesaikan jahitan simbol  pada seragam murid sekolah dasar. “Saya sudah 20 tahun jadi penjahit di kampung ini,” kata Nursiah.

    Nursiah adalah janda tiga anak yang menyambung hidup dari hasil usaha menjahit. Bukan di toko, bukan pula di pusat pasar. Usaha menjahit kecil-kecilan itu persis di samping bagian depan gubuknya, di Desa Nga, Kemukiman Lhoksukon Teungoh, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.
     
    Gubuk berukuran 4 x 6 meter yang ditempati Nursiah bersama anak-anaknya sedikit lebih baik dibandingkan bangunan terbuka tempat ia menjahit. Ia membangun gubuk di atas tanah milik warga setempat. Dinding gubuk terbuat dari tepas, beratap daun rumbia dan berlantai tanah.

    Untuk memasak nasi, Nursiah masih memakai kayu kabar yang ia cari di kebun warga. Kalau sedang banyak orderan jahitan, ada uang lebih, sekali-kali ia memakai gas elpiji 3 kilogram.

    “Untung ada mesin jahit warisan orangtua saya. Hasil menjahit atau menambal pakaian warga yang robek, terkadang juga memasang simbol baju sekolah, dapat ongkos Rp5 ribu hingga Rp 10 ribu per hari,” ujar Nursiah, ditemui ATJEHPOSTcom, Jumat, 30 Agustus 2013.

    Lantaran minimnya pendapatan usaha menjahit, Nursiah mencari penghasilan tambahan dengan cara bekerja sebagai buruh sawah. Dari dua mata pencaharian itulah ia membiayai hidup anak-anaknya.

    Dari tiga anaknya, kini hanya si bungsu yang masih sekolah. Namanya, Safrizal. Bocah enam tahun ini baru masuk Sekolah Dasar (SD). “Lon hawa jak sikula beu manyang, nyak jeut ke tentra. Na bede, jeut meuprang lage bak tivi (saya ingin sekolah yang tinggi agar jadi tentara. Ada senjata, bisa berperang seperti di televisi),” kata Safrizal yang sedang menemani ibunya menjahit.

    Dua anak Nursiah sudah tidak sekolah lagi. Rahmi (21 tahun) lulus SMA. Adiknya, M Surianto (17 tahun) sudah putus sekolah sehingga tidak tamat SMP. “Biaya pendidikan sekarang kan mahal, saya tidak mampu menyekolah semua anak,” ujarnya.

    “Untuk si Safrizal, saya baru sanggup memberi sepasang seragam merah putih, tiga buku tulis dan sebuah pensil. Harus saya penuhi karena dia suka sekali sekolah, walau sedang sakit tidak mau libur,” kata Nursiah.

    Nursiah terus saja menjahit. Ia berharap bulan depan memperoleh penghasilan lebih hasil usaha itu. Sebab, Safrizal sudah minta dibelikan seragam pramuka, baju batik dan pakaian olahraga seperti anak-anak SD lainnya.

    “Saya juga ingin Surianto, abang si Safrizal, bisa melanjutkan sekolahnya kalau ada yang mau membantu biaya,” ujarnya.[]